ANALISIS PERMINTAAN KREDIT MODAL KERJA USAHA KECIL DI KOTA SEMARANG (Studi Kasus Permintaan Modal Kerja Usaha Kecil Sektor Perdagangan dari BMT)

J U M H U R, J U M H U R (2006) ANALISIS PERMINTAAN KREDIT MODAL KERJA USAHA KECIL DI KOTA SEMARANG (Studi Kasus Permintaan Modal Kerja Usaha Kecil Sektor Perdagangan dari BMT). Masters thesis, program Pascasarjana Universitas Diponegoro.

[img]
Preview
PDF - Published Version
469Kb

Abstract

One of problem that is faced by small and medium enterprises is complication capital. To solve this problem small and medium enterprises get troble to access fund from bank it’s because of various condition that can’t be fulfilled. Therefore as an alternative, the solution is asking for the loan from institution of micro finance scale. Institution of micro finance scale that focus in developing small and medium enterprise is Baitul Maal wat Tamwil The title o this examination is Analyze of Working Capital Demand in Semarang (case study of small and medium enterprise’s Working Capital Demand in trade sector from BMT) that held toward 100 sample To identify factors that influence probability of small and medium enterprise’s working capital demand from BMT and analyze, are the value asset factor, profit margin, ratio of profit and loss sharing able to predict the probability of small business scale and enterprise’s working capital demand from BMT in semarang significantly. Using Test Logistic Regression, we get total asset variable that influience significantly toward demand of working capital from BMT. Whereas profit per a month and ratio of loss and profit sharing still influence but not significance toward probability of small and medium enterprise that ask for loan from BMT (Y) at 3% significance level. Profit effect is not signiicat toward (Y) because in generally small and medium enterprise are seldom to account and separate profit that get from their business, because usually there is not separation between trade asset and individual asset, that’s cause no strong effect between profit increase with capital demand. Then this ratio of profit and loss sharing isn’t primary significance because they not to understand with profit and loss sharing system as a part of cost from loan that has already used, the important things for them is quick service and not to chatter. The state of BMT possibly get support by all side, because BMT can help small business scale and enterprises in capitalization field. Primary financing that held by BMT is profit and loss sharing principle. To minimize contradiction of credit use by debtor, it is best for BMT to prepare goods as obyect transaction that must be real when credit is signatured. Salah satu masalah yang dihadapi usaha kecil adalah kesulitan permodalan. Untuk mengatasi hal ini usaha kecil kesulitan untuk mengakses dana dari pihak perbankan, karena berbagai persyaratan yang tidak bisa dipenuhi. Maka sebagai alternatif untuk mengatasi masalah permodalan ini adalah dengan meminjam ke lembaga keuangan mikro (LKM). Salah satu LKM yang cukup konsen dalam pengembangan usaha kecil ini adalah Baitul Maal wat Tamwil (BMT). Penelitian ini berjudul Analisis Permintaan Kredit Modal Kerja Usaha Kecil di Kota Semarang (Studi Kasus Permintaan Modal Kerja Usaha Kecil Sektor Perdagangan dari BMT) yang dilakukan terhadap 100 sampel, bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi probabilita permintaan kridit modal kerja usaha kecil dari BMT dan menganalisis apakah faktor nilai asset, tingkat keuntungan, rasio bagi hasil dan tingkat bunga dilembaga keuangan lainnya dapat memprediksi secara signifikan probabilita permintaan kredit modal kerja usaha kecil sektor perdagangan dari BMT di Kota Semarang. Pengujian dengan Regresi Logistik diperoleh variabel total asset dan tingkat bunga dilembaga keuangan lainnya berpengaruh signifikan terhadap probabilita permintaan kredit modal kerja usaha kecil dari BMT, sedangkan faktor keuntungan perbulan dan rasio bagi hasil tidak signifikan terhadap probablilita usaha kecil meminjam modal kerja dari BMT (Y) pada level signifikansi 5%. Tidak singnifikannya pengaruh keuntungan terhadap (Y) karena pada umumnya usaha kecil jarang menghitung dan memisahkan keuntungan yang diperoleh dari usahanya, karena biasanya tidak ada pemisahan antara aset dagang dengan aset peribadi, akibatnya tidak ada pengaruh yang kuat antara peningkatan keuntungan dengan pemintaan modal kerja. Kemudian rasio bagi hasil tidak signifikan ini lebih disebabkan terutama oleh masih kurangnya pemahaman dari usaha kecil tentang sistem bagi hasil tersebut merupakan biaya dari penggunaan dana yang dipinjam, yang penting bagi pengusaha kecil pelayanan cepat dan tidak bertele-tele. Keberadaan BMT hendaknya mendapat dukungan dari semua pihak, karena BMT dapat membantu usaha kecil dalam bidang permodalan. Pembiayaan yang paling dominan dilakukan BMT adalah dengan prinsip jual beli. Untuk meminimumkan penyalahgunaan kredit oleh debitur, sebaiknya pihak BMT pada waktu akad kredit ditanda tangani, barang yang menjadi obyek transaksi benarbenar harus ada.

Item Type:Thesis (Masters)
Subjects:H Social Sciences > HD Industries. Land use. Labor > HD28 Management. Industrial Management
Divisions:Postgraduate Program > Master Program in Economics and Development Studies
ID Code:17939
Deposited By:Mr UPT Perpus 2
Deposited On:28 Jul 2010 09:03
Last Modified:28 Jul 2010 09:03

Repository Staff Only: item control page