PELAKSANAAN PEMBINAAN ANAK NAKAL DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN ANAK DALAM PERSPEKTIF MODEL PEMBINAAN ANAK PERORANGAN (INDIVIDUAL TREATMENT MODEL) (Studi Pelaksanaan Pembinaan Anak di LPA Tangerang dan LPA Kutoarjo)

CAHYANINGTYAS, IRMA (2009) PELAKSANAAN PEMBINAAN ANAK NAKAL DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN ANAK DALAM PERSPEKTIF MODEL PEMBINAAN ANAK PERORANGAN (INDIVIDUAL TREATMENT MODEL) (Studi Pelaksanaan Pembinaan Anak di LPA Tangerang dan LPA Kutoarjo). Masters thesis, Program Pascasarjana Universitas Diponegoro.

[img]
Preview
PDF - Published Version
403Kb

Abstract

Anak merupakan generasi penerus bangsa oleh karena itu, anak harus diberikan kasih sayang agar anak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Seorang anak yang tidak mendapat kasih sayang, ia akan cenderung menjadi anak yang nakal dan akibatnya dapat melakukan perbuatan yang menyimpang yang melanggar undang-undang. Anak yang demikian harus menjalani proses pidana yang berujung pada suatu pembinaan yang terjadi di Lembaga Pemasyarakatan Anak (LPA). Salah satu bentuk pembinaan yang ada di Lembaga Pemasyarakatan Anak (LPA) adalah pembinaan yang bersumber pada individu anak. Pembinaan itu disebut dengan pembinaan anak secraa perorangan (individual treatment model). Penelitian ini dilatarbelangi oleh suatu masalah yaitu pertama, bagaimana pelaksanaan individual treatment model dalam pembinaan anak nakal di Lembaga Pemasyarakatan (LPA); kedua, kendala apa saja yang ditemui dalam pelaksanaan individual treatment model di Lembaga Pemasyrakatan Anak (LPA); ketiga, bagaimana model alternatif yang lain dalam pembinaan anak nakal di Lembaga Pemasyarakatan Anak (LPA). Metode penelitian yang digunakan adalah 1) metode pendekatan yuridis empiris, 2) spesifikasi penelitian deskriptif analitis, 3) metode purposive sampling, 4) metode analisis data secara kuantitatif dan kuantitatif. Adapun yang menjadi lokasi penelitian adalah Lembaga Pemasyarakatan Anak Pria Tangerang dan Lembaga Pemasyarakatan Anak Kutoarjo. Analisis terhadap hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa pertama, individual treatment model di Lembaga Pemasyarakatan Anak (LPA) Pria Tangerang dan di Lembaga Pemasyarakatan Anak (LPA) Kutoarjo telah dikenal. Adapun bentuk dari pembinaan individual itu adalah kegiatan pembinaan keagamaan dan konseling. Pada pelaksanaannya, metode tersebut tidak dapat diterapkan dengan baik di Lembaga Pemasyarakatan Anak (LPA) Pria Tangerang dan di Lembaga Pemasyarakatan Anak (LPA) Kutoarjo. Hal itu karena pembinaan anak yang seharusnya diberikan secara individual, pada kenyataannya diberikan kepada anak secara berkelompok sehingga tujuan dari pembinaan secara individu, yaitu sematamata untuk kesejahteraan anak tidak tercapai; kedua, pelaksanaan individual treatment model juga tidak terlepas dari kendala yang ada, baik itu struktur, substansi, dan kultur; ketiga, kelemahan dari individual treatment model yaitu hanya menekankan pada kesejahteraan anak mendorong munculnya pembinaan restoratif. Pembinaan secara restoratif dilakukan dengan melibatkan pihak-pihak yang ada disekitarnya, yaitu pelaku, keluarga, masyarakat, dan tidak tertutup kemungkinan korban sehingga membina anak dilakukan secara lebih manusiawi karena juga tetap diperhatikan kepentingan lainnya, yaitu masyarakat dan korban. Child was nation router generation therefore child should give affection so they could grow and develop properly. A child who didn’t get affection they tend to be a juvenile and consequence may be able to carry out deviate action which collide with regulation. These child must execute criminal process that will ended to a behaviour treatment that will take place in The Juvenile Correction. One of the treatment that exist in The Juvenile Correction is a treatment that actually based to the child. Those kind of treatment called the individual treatment model. This research background by issues, firstly how individual treatment model implementation in the treatment of juveniles in The Juvenile Correction; second, what kind of constraints which found in the individual treatment model in The Juvenile Correction; third, how was other alternative model in the treatment in The Juvenile Correction. Research methods used were 1) juridical empirical approach method 2) specification of descriptive analytical research, 3) purposive sampling method 4) data analysis method both quantitative and qualitative. The research location was on The Juvenile Correction in Tangerang and Kutoarjo. Analysis concerning this research explains that, first, individual treatment model in The Juvenile Correction of Tangerang and Kutoarjo was already known. There were the type of individual treatment were both religiousness and counseling treatment. For implementation, that method could not implement properly in both The Juvenile Correction of Tangerang and Kutoarjo. It was because child treatment which should be carry out individually in fact given in group therefore the aim of individually treatment, merely for child prosperity was not reach; second, individual treatment model implementation also have closely obstacle, that is structure, substantion, and culture; third, weakness of individual treatment model was emphasizes on child prosperity only which support arising restorative treatment. Restorative treatment carry out involving around parties, it was subject, family, society, and even victim therefore child treatment carry out more human because also keep pay attention other interest, it were both society and victim.

Item Type:Thesis (Masters)
Subjects:K Law > K Law (General)
Divisions:Postgraduate Program > Master Program in Law
ID Code:17842
Deposited By:Mr UPT Perpus 2
Deposited On:27 Jul 2010 14:07
Last Modified:27 Jul 2010 14:07

Repository Staff Only: item control page