EVALUASI PENGELOLAAN KAWASAN CAGAR ALAM MANDOR DI KABUPATEN LANDAK PROPINSI KALIMANTAN BARAT

DJADMIKO, DJADMIKO (2007) EVALUASI PENGELOLAAN KAWASAN CAGAR ALAM MANDOR DI KABUPATEN LANDAK PROPINSI KALIMANTAN BARAT. Masters thesis, program Pascasarjana Universitas Diponegoro.

[img]
Preview
PDF - Published Version
1230Kb

Abstract

Hutan merupakan sumber daya alam yang memiliki multi fungsi antara lain : bernilai ekonomi, ekologi dan sosial yang tinggi. Hutan dikenal sebagai paru-paru dunia dan sistem penyangga kehidupan sehingga kelestariannya harus dijaga dan dipertahankan dengan pengelolaan hutan yang tepat. Seiring dengan perjalanan waktu kondisi hutan telah mengalami degradasi dan perubahan yang cepat. Beberapa penyebab perubahan tersebut antara lain adanya aktivitas masyarakat yang tidak memperhatikan aspek lingkungan dan kelestarian hutan, serta pengelolaan yang belum sesuai dengan perkembangan jaman. Terjadinya kebakaran hutan juga telah memberikan kontribusi terhadap degradasi hutan. Demikian halnya yang terjadi di kawasan Cagar Alam Mandor di Kabupaten Landak Propinsi Kalimantan Barat. Aktivitas penebangan, penambangan dan terjadinya kebakaran telah merusak keberadaan Cagar Alam. Tipe penelitian adalah deskriptif. Data dikumpulkan dengan teknik wawancara dan observasi. Penelitian dilakukan untuk mengetahui pengelolaan kawasan, faktor-faktor yang menyebabkan kerusakan hutan, dan untuk merumuskan usulan perencanaan pengelolaan. Kawasan Cagar Alam Mandor dengan luas 3.080 ha, dikelola oleh Departemen Kehutanan melalui BKSDA Kalimantan Barat. Pada tahun 1936 sejak jaman pemerintahan kolonial Belanda, Kawasan tersebut sudah ditetapkan sebagai kawasan yang dilindungi. Tercatat di kawasan ini terdapat 15 jenis Anggrek Hitam yang langka dan berbagai jenis satwa yang dilindungi yaitu 27 jenis Burung, 24 jenis Mamalia dan 4 jenis Reptilia. Saat ini, Cagar Alam Mandor yang sebenarnya ditetapkan sebagai kawasan konservasi telah mengalami kerusakan parah. Dari hasil observasi, telah terjadi kerusakan bentang alam, terdapat lubang-lubang besar dan hamparan pasir akibat penambangan emas serta hilangnya pohon-pohon yang berdiameter besar. Selain kerusakan, pencemaran juga terjadi akibat aktivitas penambangan emas tanpa ijin yang membahayakan bagi masyarakat. Terbatasnya sarana prasarana dan bentuk pengelolaan Cagar Alam Mandor yang tidak partisipatif dengan melibatkan stakeholder telah menyebabkan kawasan ini rusak. Upaya konservasi selama ini hanya menekankan aspek perlindungan dan belum memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat. Pemberdayaan masyarakat lokal dalam rangka pengelolaan kawasan juga belum dilakukan. Diperlukan perubahan paradigma pengelolaan, yaitu adanya keseimbangan antara prinsip perlindungan dengan prinsip pemanfaatan dalam upaya konservasi. Pengelolaan kolaboratif segera dilakukan sesuai dengan kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang ada. Selain melakukan koordinasi dengan instansi terkait dan partisipasi masyarakat lebih ditingkatkan, pembagian wilayah (zonasi) di dalam kawasan sesuai peruntukan perlu dilakukan secara partisipatif. Perencanaan partisipatif dan pengelolaan kolaboratif diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dengan tetap terjaganya kawasan Cagar Alam Mandor beserta lingkungannya akan terwujud pembangunan hutan berkelanjutan. Forest is a natural resource with multi function namely economic, social and ecological function. Forest has function as “the world’s lung” and is a very important for life support. Therefore, it should be well preserved with sustainable forest management. However, forest degradation and rapid change of its condition seems unavoidable for some reasons. First, various human activities neglect in environmental aspects and forest preservation. Second, improper management, as well as forest fire. Such condition is reflected in Mandor Natural Preservation Area, located in Landak Regency, West Kalimantan Province. Logging, mining and forest fire have seriously damaged the existence of this very precious natural area. Type of research is descriptive. The data was collected through in-depth interview and observation, to identify Mandor area management, driving factors of forest degradation, and recommendation for better management in the future. Mandor Natural Preservation Area is managed by the Forestry Department through the Natural Resource Conservation Board (BKSDA) of West Kalimantan. Since 1936 during the colonial era, this location has been declared as preserved area. There are various rare flora and fauna found in this area, covering 15 black orchids, 27 kinds of birds, 24 kinds of mammals, and four kinds of reptiles. This research found that at present, Mandor preserved area has been serious destruction. Through observation it is found that the former big trees found in the area have disappeared. There are also various land destruction, as well as the existence of big holes and sandy area because of intensive illegal gold mining. The illegal mining activity has also pollutes the area, in turns, harm the local community. The very-limited facilities and efforts for forest protection as well as nonparticipative management have caused Mandor area seriously deteriorated. Conservation efforts have been relying on protection approach without giving economical benefit to the local community. Empowerment of the local people has not also been done. There should be change in Mandor management paradigm, there should be better balance between protection principle and exploiting principle in the effort of forest conservation. Collaborative management should be applied based on basis of strength, weaknesses, opportunities and threats. Besides of the coordination among related institutions and the enhancement of local community’s participation, zoning policy should be applied based on its use by involving the local community. Participative planning and collaborative management are expected to be able to enhance the people’s welfare. The preservation of Mandor area and its surrounding will therefore reflect sustainable forest development.

Item Type:Thesis (Masters)
Subjects:T Technology > TD Environmental technology. Sanitary engineering
Divisions:Postgraduate Program > Master Program in Environmental Science
ID Code:17097
Deposited By:Mr UPT Perpus 2
Deposited On:21 Jul 2010 08:34
Last Modified:21 Jul 2010 08:34

Repository Staff Only: item control page