MANAJEMEN KONFLIK PADA PERKAWINAN DUAL-CAREER FAMILY

AMELIA, RITA (2008) MANAJEMEN KONFLIK PADA PERKAWINAN DUAL-CAREER FAMILY. Undergraduate thesis, Diponegoro University.

[img]
Preview
PDF
13Kb

Abstract

Penelitian ini dilakukan dengan latar belakang bahwa keberadaan konflik didalam rumah tangga memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap kelangsungan keluarga, sehingga menjadi menarik dan unik untuk diteliti yaitu bagaimana pasangan suami-istri dual-career family mengelola konflik atau melakukan manajemen konflik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengalaman suami-istri dalam mengelola konflik perkawinan dual-career family. Teori yang digunakan pada penelitian ini adalah Roles Theory (Le Poire, 2006: 54), teori self disclosure (Littlejohn 1999: 260) dan (De Vito, 1997: 57-59). Sudut pandang humanistik yang menekankan pada lima kualitas KAP yang efektif (Devito, 1995; hal 259). Teori penyelesaian konflik secara sistematis (De Vito, 1989: 69). Teori manajemen konflik efektif (Devito, 1997: 270) dan juga strategi mengatasi konflik antar pribadi (Sutarjo Wijono,1993: 66). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang merujuk pada paradigma interpretif. Subyek dalam penelitian ini adalah pasangan suami-istri yang menjalani hubungan perkawinan dual-career family dimana hubungan yang terbina sudah berjalan 2 tahun sampai dengan 30 tahun. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada metoda fenomenologi dari Von Eckartsberg. Data mengenai pengalaman tersebut didapat dari informan penelitian, yaitu 4 (empat) pasang suami-istri dual-career family yang kemudian akan dikelompokkan menjadi dua kelompok yaitu kelompok pasangan suami-istri yang memiliki penghasilan sama dan kelompok pasangan suami-istri yang penghasilan istri lebih besar dari suami. Data pengalaman tersebut kemudian akan dikelompokkan ke dalam tiga tema pokok yaitu:1) pengalaman informan penelitian dalam kondisi perkawinan, 2) sumber konflik, dan 3) penyelesaian konflik yang dilakukan oleh tiap pasangan. Berdasarkan hasil penelitian, pada pasangan dual-career family yang memiliki penghasilan sama adalah suami tidak mendukung perkembangan karir istri. Pengembangan karir istri akan sangat tergantung pada kesempatan dan ijin suami. Sedangkan pada pasangan dual-career family yang penghasilan istri lebih besar dari suami adalah adanya istri yang cenderung bersikap dominant dan otoriter. Penghasilan lebih kecil menjadikan suami merasa minder. Hal tersebut disebabkan karena adanya penilaian negatif dari keluarga dan lingkungan karena penghasilan suami yang lebih rendah dari istri dan adanya dominasi penghasilan istri untuk kebutuhan keluarga. Proses penyelesaian konflik pada pasangan dual-career family yang memiliki penghasilan sama yaitu pasangan suami istri bersedia mendengarkan pendapat pasangan jika terjadi perbedaan namun ada kalanya sulit dilakukan ketika konflik bertambah besar. Komunikasi diperlukan untuk mengetahui permasalahan yang terjadi. Penyelesaian konflik seringkali terhambat oleh rasa ego yang tinggi dari masing-masing pasangan. Sedangkan penyelesaian konflik pada pasangan dual-career family yang penghasilan istri lebih besar dari suami yaitu proses penyelesaian konflik seringkali terhambat oleh sikap istri yang tidak bersedia mendengarkan pendapat pasangan jika terjadi perbedaan. Ada rasa gengsi dari pihak istri untuk menyelesaikan konflik dulu. Penyelesaian konflik juga terhambat oleh sikap istri yang lebih mengedepankan ego dan ingin menang sendiri. Sehingga menurut pasangan informan, sikap kompromi diperlukan untuk menyelesaikan konflik.

Item Type:Thesis (Undergraduate)
Subjects:H Social Sciences > H Social Sciences (General)
Divisions:Faculty of Social and Political Sciences > Department of Communication
ID Code:16919
Deposited By:Jurusan Ilmu Komunikasi Fisip Undip
Deposited On:19 Jul 2010 10:09
Last Modified:19 Jul 2010 10:09

Repository Staff Only: item control page