TUGU MONUMEN NASIONAL SEBAGAI LANDMARK KAWASAN SILANG MONAS

Supriyadi, Bambang (2004) TUGU MONUMEN NASIONAL SEBAGAI LANDMARK KAWASAN SILANG MONAS. Jurnal Jurusan Arsitektur . ISSN 08532877 (Unpublished)

[img]
Preview
PDF - Published Version
253Kb

Abstract

ABSTRAKSI Monumen Nasional adalah sebuah peringatan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Monumen itu juga menunjukkan semangat juang bangsa Indonesia dalam perang kemerdekaannya.Jadi monumen adalah suatu benda/bangunan yang diadakan dengan tujuan untuk membangkitkan kenangan pada sesuatu. Selanjutnya, prinsip-prinsip monumen ini diaplikasikan oleh para arsitek untuk membuat untuk membuat suatu bangunan untuk manghasilkan sesuatu yang dapat membuat perhatian orang tertuju pada bangunan yang dirancangnya. Untuk mengenang dan menandai kebesaran perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia dibangunlah suatu monumen yang megah menimbulkan inspirasi bagi generasi sekarang dan generasi masa datang. Gagasan untuk mendirikan Monumen Nasional terwujud nyata pada waktu bangsa Indonesia memperingati genap dua windu Republik Indonesia. Jakarta dipilih sebagai tempat yang paling layak untuk Monumen Nasional ini karena bukan saja Jakarta sebagai Ibukota dan Pusat Pemerintahan Republik Indonesia, tetapi juga dikenal sebagai kota Proklamasi. Letak dari Monumen Masional yang berada pada tengah – tengah kawasan Silang Monas. Disamping kanan dan kiri Monumen Masional terdapat square berupa ruang terbuka yang sekarang dimanfaatkan sebagai taman dan ruang publik merupakan orientasi dari bangunan – bangunan yang ada pada kawasan silang Monas. Monas termasuk dalam jenis monumental tunggal karena jelas dominasi unsur vertikal yang tegas, selain itu objek lain berada sangat jauh dari Monas dikelilingi Lapangan Monas yang berbentuk trapesium dengan luas 800.000m2. Ruang bangunan Monas juga benar-benar bebas dari pengaruh bangunan lain Kata Kunci : Monumen, Landmark, Kawasan PENDAHULUAN “Kita membangun Tugu Nasional untuk kebesaran Bangsa. Saya harap, seluruh Bangsa Indonesia membantu pembangunan Tugu Nasional itu” 29 Juli 1963 Soekarno Monumen Nasional adalah sebuah peringatan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Angka 17-8-`45 telah terpateri dalam monumen itu. Monumen itu juga menunjukkan semangat juang bangsa Indonesia dalam perang kemerdekaannya. Ini dilambangkan pada tugu dan api masa kini dan masa mendatang juga untuk mengenal kebesaran perjuangan, kepribadian, kebudayaan dan kehormatan bangsa Indonesia. Tonggak –tonggak sejarah bangsa Indonesia terlihat di dalam 48 diorama yang terdapat di Museum. Perlu diketahui seiring dengan perkembangan dunia arsitektur, bangunan-bangunan telah dikalasifikasikan menjadi beberapa kelompok. Salah satu diantaranya yaitu kelompok bangunan monumental, yang dibagi menjadi bangunan monumental tunggal dan bangunan monumental kompleks. Kedua jenis bangunan tersebut banyak sekali dijumpai di Indonesia. Pada umumnya bangunan monumental di Indonesia berupa masjid, gereja, istana negara, kantor pengadilan, gedung balai kota, museum. Monumen Nasional merupakan salah satu bangunan monumental yang sangat terkenal di Indonesia. Kesan monumental terlihat dari Tugunya yang memiliki ketinggian lebih dibandingkan bangunan sekitarnya menjadikan point of interest pada kawasan tersebut. Kemudian penampakan bangunan dikaitkan dengan makna simbolis dan fisiologis. Karena berdasarkan tujuan dibangunnya Monumen Nasional, yaitu untuk memperingati dan mengabadikan proklamasi kemerdekaan RI, serta mencerminkan jiwa perjuangan Bangsa Indonesia, maka arsitektur Tugu Nasional dan dimensinya penuh mengandung lambang khas budaya bangsa Indonegsia TINJAUAN TEORI Kevin Lynch mengungkapkan bahwa citra atau kesan dari suatu kota merupakan gambaran yang didasari oleh realitas fisik sebuah kota. Citra sebuah kota dibentuk oleh 5 elemen pokok, yaitu : a). Path (Jalur) Merupakan rute-rute sirkulasi yang biasanya digunakan orang untuk melakukan pergerakan dalam suatu wilayah kota yang menghubungkan satu tempat dengan tempat lain, jika identitas elemen ini tidak jelas, maka kebanyakan orang meragukan citra kota secara keseluruhan. Path mempunyai karakteristik tertentu yang memadai dari lingkungan sekitarnya, konsentrasi dari kegunaan khusus atau sepanjang path, kualitas keruangan yang khas, fasade atau tekstur lantai yang khas, pencahayaan yang istimewa dan tipikal dari lansekap kota. b). Edges (Tepian) Merupakan batas antara dua kawasan dan berfungsi sebagai pemutus linier, misalnya pantai, tembok, topografi, dan sebagainya. Edge merupakan pengakhiran dari sebuah distrik atau batas dari distrik lainnya. Edge memiliki identitas yang lebih baik jika kontinuitasnya tampak jelas batasnya. Demikian pula fungsi batasnya harus jelas, membagi / menyatu. c). District (Kawasan) Merupakan kawasan-kawasan kota dalam skala 2 dimensi. Sebuah distrik memiliki ciri khas yang mirip (bentuk, pola dan wujudnya) dan khas pula batasnya (awal dan akhir). Distrik mempunyai identitas yang lebih baik jika batasnya dibentuk dengan jelas, dan dapat dilihat homogen, serta fungsi dan posisinya jelas. Karakteristik fisik dari sebuah distrik adalah adanya kontinuitas tema yang konsisten dalam komponen tekstur, ruang, bentuk, detail, lambang, tipe bangunan, kegunaan, aktivitas penduduk, topografi. d). Nodes (Simpul) Merupakan tempat strategis di sebuah kota, dimana arah atau aktivitasnya saling bertemu dan dapat diubah ke arah aktivitas lain, misal : persimpangan lalu lintas, stasiun, lapangan terbang, jembatan, kota secara keseluruhan dalam skala makro, pasar, taman, square dan sebagainya. Node adalah suatu tempat dimana orang mempunyai perasaan “masuk” dan “keluar” dalam tempat yang sama. Node mempunyai identitas yang lebih baik jika tempatnya memiliki bentuk yang jelas (karena lebih mudah diingat) serta tampilan berbeda dari lingkungannya, baik dari fungsi maupun bentuknya. e). Landmark (Tengeran) Merupakan titik referensi seperti elemen node, tetapi orang tidak masuk ke dalamnya karena hanya bisa dilihat dari luar. Landmark adalah elemen eksternal dan merupakan bentuk visual yang menonjol dari kota. Beberapa landmark hanya mempunyai arti di daerah kecil dan dapat dilihat hanya di daerah itu, sedangkan landmark lainnya mempunyai identitas yang lebih baik jika bentuknya jelas dan unik dalam lingkungan, dan ada sekuen dari beberapa landmark, serta ada pembedaan skala masing-masing. Bangunan Monumental banyak sekali terdapat di Indonesia. Dengan kemegahan dan keanggunannya bangunan- bangunan monumental tersebut tampak menghiasi banyak permukaan lahan. Namun, sebenarnya apakah bangunan monumental itu? Bagaimana suatu bangunan dapat disebut sebagai bangunan monumental? Apabila dilihat dari segi bahasanya, Bangunan Monumental adalah suatu bangunan yang merupakan suatu hasil perwujudan dqari fungsi- fungsi tertentu yang mencerminkan kesan-kesan atau nilai-nilai keagungan, kemegahan, kebesaran, kekuasaan, dsb, dimana ekspresi monumental ditampilkan lewat bentuk bangunan maupun penataan tapak. Suatu bangunan monumental dapat digambarkan sebagai perwujudan suatu sculpture. Suatu struktur yang berdiri sendiri cenderung menjadi sculpture. Bila ada dua struktur maka diantara kedua struktur tersebut timbul daya pengaruh yang saling timbal balik. Bila terdapat banyak struktur dalam satu group, maka perencanaan menjadi kompleks, dan ruang luar di antara struktur-struktur tersebut cenderung menjadi ruang. Bangunan Monumental terbagi dalam 2 jenis : 1. Bangunan Monumental Tunggal, yaitu Monumental yang dicapai dengan memencilkan suatu objek terhadap objek-objek lain. Kesan monumental terjadi karena elemen vertikal. Monumental tersebut terjadi bila antara objek dan ruang tidak saling terjadi perembesan dan penembusan ruang. Selain itu mounumental menjadi semakin unik dan makin tinggi kualitasnya bila terdapat keseimbangan antara objek dan ruangnya. Tetapi bilaada objek lain yang mengganggu “ruang bayangan” disekitar monumen, maka keseimbangan tadi juga akan terganggu dan nilai monumentalnya akan berkurang secara drasti Monumen jenis ini mempunyai ciri – ciri : a. Sederhana b. Bersih dan polos c. Tanpa perembesan atau penembusan 2. Bangunan Monumental Kompleks, yaitu bangunan monumental yang terjadi dari suatu desain bangunan-bangunan yang dikelompokkan membentuk Cluster. Apabila ada dua obyek misalnya X dan Y berdiri membentuk cluster. Maka diantara X dan Y terjadi daya mengeruang yang saling timbal balik, memberi nilai ruang terkait diantara ruang X dan Y, bukan ruang luar saja. Bangunan monumental ini mempunyai ciri – ciri : a. Kompleks b. Permainan tegas dan jelas c. Merembes dan menembus d. Menyangkutnilai-nilai kemanusiaan skala sudut pandangan mata manusia secara normal pada bidang vertikal adalah 60º, tetapi bila melihat secara intensif maka sudut pandangan berkurang manjadi 1º.  Menurut H. Martem, dalam ”Scale in Civic Design” , bahwa bila orang melihat lurus ke depan, maka bidang pandangan vertikal diatas bidang pandangan horizontal mempunyai sudut 40º atau 2/3 seluruh pandangan mata. Dan orang dapat melihat keseluruhan bangunan bila sudut pandangannya 27º atau D/H = 2 (D : distance,H : high; jatrak dibagi tinggi sama dengan 2)  Werner Hegemann dan Albert Peets dalam “American Vitruvius” menyaakan bahwa orang akan merasa terpisah dari bangunannya apabila melihat dari dari jarak sejauh 2 x tinggi bangunannya, hali ini berarti sudut pandangannya 27º . Dan apabila seseorang ingin melihat sekelompok bangunan sekaligus maka diperlukan sudut 18º, ini berarti dia harus melihat dari jarak sejauh pandangan 3 x tinggi bangunan.  Paul Zucker dalam “Town and Square” menggunakan gambar sebagai berikut  Menurut Yoshinobu Ashihara, D/H < 1 merupakan batas perubahan nilai dan kualitas ruang. Jadi apabila D/H < 1, seseorang akan merasa bahwa jarak bangunan menjadi agak kekecilan. Bila D/H = 1, maka sesorang akan merasakan keseimbangan antara tinggi bangunan dan ruang di antaranya. Pada tata letak bangunan kenyataannya sering dijumpai perbandingan D/H berkisar antara 1,2, dan 3. tetapi bila D/H menjadi 4 maka pengaruh tata nilai ruangnya menjadi hilang dan pengaruh timbal balik antara bangunan sukar dirasakan , kecuali bila ditambahkan galeri penghubung. Bila D/H > 1, kerjasama menjadi makin kuat dan kita merasa bahwa ruang makin tertutup. Hal ini akan menyebabkan bentuk atau rupa bangunan, tekstur – tekstur dinding, ukuran dan penempatan lubang – lubang, serta sudut tangkap terhadap pintu masuk menjadi perhatian utama bagi arsitek. Bila D/H <1, sukar untuk membuat lay – out yang baik, kecuali bila dapat dijaga keseimbangannya sedimikian hingga hubungan antara bangunan dengan “ruang – bayangannya”nya tetap stabil. Hubungan seperti tersebut tidak hanya berlaku pada desain arsitektur saja tetapi juga unutk perilaku timbal balik bagi manusianya sendiri. Sedangkan perbandingan untuk plasa adalah 1≤ D/H≤ 2, bila D/H < 1, ruang luar yang terjadi tidak akan menjadi sebuah plasa, tetapi menjadi ruang dimana daya pengaruh timbal balik antara bangunan – bangunan disekitarnya begitu kuat. Dan bila D/H > 2 maka daya mengruang pada plasa mulai berkurang atau daya pengaruh timbal balik diantara bangunan – bangunan mulai bekerja. Jadi D/H terletak dimana saja diantara 1 dan 2, maka ruang luar yang terjadi akan memiliki proporsi yang seimbang. Bagi arsitek yang penting adalah mencari dan mencoba bermacam-macam skala untuk dipakai sebagai standard dalam menciptakan ruang bain interior atau eksterior. Skala ruang luar biasanya sukar dipastikan dan tidak begitu jelas. Dalam perancangan bangunan monumental ada beberapa unsur yang berperan yaitu : 1. Fisik bangunan - Bentuk bangunan relatif meninggi - Dominasi unsur-unsur vertikal - Penampakan bangunan biasanya dikaitkan dengan makna simbolis & fisiologis - Skala Monumental 2. Perancangan Tapak - Kesan yang ditampilkan mencakup nilai- nilai kewibawaan, resmi, terarah dan seimbang - Pencapaian biasanya langsung menuju bangunan utama - Pola Sirkulasi utama cenderung monoton dan statis sehingga menguatkan nilai bangunan utama dan melemahkan bangunan penunjang, biasanya dibantu dengan konsep axis - Pengelompokan ruang dan fungsi berdasarkan hirarki, ditampilkan dengan tegas - Tapak cenderung relatif luas Beberapa pendekatan dalam perancangan tapak bangunan monumental: -Penarikan masa utama menjauh dari main entrance -Meninggikan pel massa bangunan utama -Pencapaian dengan tingkatan- tingkatan Sculpture Sebagai Unsur Seni Sculpture dan karya-karya seni lain misalnya fontain, dinding relief dan lain-lain, merupakan elemen penting yang dapat meningkatkan kwalitas lingkungan kota. Elemen-elemen ini mempengaruhi kualitas penginderaan di tempat dan memunculkan susana kreatif dimana masyarakat berada. Pada waktu merancang penampilan sebuah sculpture, arsitek atau seniman haruslah mempertimbangkan beberapa hal antara lain : - penempatan - skala - bentuk - massa - warna Sculpture yang berada di luar (out door) harus mengkaitkan antara massa yang berdiri dengan latar belakangnya (back ground) dengan mempertimbangkan ukuran dan volume sculpture yang akan berpengaruh pada pengamat yang melihatnya. a. Ukuran, Skala dan Bentuk Ukuran dan skala suatu sculpture akan terkait dengan penempatannya di dalam suatu area, antara gedung/ bangunan dan ruang yang akan menjadikannya sebagai bagian yang integral. Sebuah sculpture harus berada pada suatu tempat yang luas untuk dapat dilihat dari sekelilingnya. Bentuk dari sculpture, yang lebih menampilkan wujud dan strukturnya akan saling menyatu atau kontras dengan penempatannya. Sangat banyak variasi-variasi bentuk yang dapat dikreasikan dalam perancangan sebuah sculpture dan bentuk-bentuk ini dapat diekspresikan dalam material yang berbeda-beda. b. Material dan Warna Material untuk sculpture luar (out door), haruslah kuat dan tahan polusi kota misalnya batu, logam, beton cetak, plastik dan sebagainya. Warna untuk sculpture relatif terkait dengan tipe material yang dipakai seperti granit, perak atau stainless steel. Logam akan sangat mudah untuk dicat dengan deretan warna yang cukup banyak, demikian juga dengan plastik. Sculpture akan dapat dilihat dengan pandangan langsung berikut latar samping maupun latar belakang yang akan terkait dengan penempatannya. Orientasi sculpture juga merupakan hal yang penting, berkaitan dengan “bagaimana dan kemana” sculpture ditempatkan. Disamping itu sinar matahari dan variasi pola pembayang dari waktu yang berbeda-beda setiap hari serta perubahan-perubahan cuaca akan sangat mempengaruhi orientasi dari sculpture. Untuk itu perlu cukup ruang disekitar sculpture untuk dapat mengamati secara penuh dari variasi-variasi sudut pandang dan untuk berjalan mengitarinya atau mungkin memandang sambil duduk-duduk. Suatu jalan dimana sebuah sculpture didapati berdiri di atas tanah atau di atas pelataran dasar adalah sangat penting dalam mengaitkan batas keduanya yaitu tinggi sculpture dan dimensi jalan dimana sculpture dapat dilihat. Sebuah sculpture mungkin dimulai pada tingkat dari beberapa elevasi di atas dasar yang dirancang seperti air mancur atau terkait dengan suatu bangunan lain. Bobot dan instalasi juga termasuk hal penting lain yang perlu diperhatikan dalam menempatkan sculpture. Fondasi-fondasi khusus mungkin diperlukan atau perlengkapan-perlengkapan seperti crane mungkin dibutuhkan untuk menata sculpture pada tempatnya. c. Penyinaran Malam Hari Efek penyinaran malam hari pada sculpture memberikan tambahan keindahan. Peletakan lampu, sudut penyinaran dari beberapa lampu dan tipe/ jenis lampu yang dipasang merupakan hal-hal yang sangat penting untuk diperhatikan. Lampu mungkin bisa dipasang langsung dari atas atau bawah, dari belakang atau samping atau kombinasi-kombinasi diantaranya. SEJARAH MONUMEN NASIONAL Monumen Nasional adalah sebuah peringatan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Angka 17-8-`45 telah terpateri dalam monumen itu. Monumen itu juga menunjukkan semangat juang bangsa Indonesia dalam perang kemerdekaannya. Ini dilambangkan pada tugu dan api masa kini dan masa mendatang juga untuk mengenal kebesaran perjuangan, kepribadian, kebudayaan dan kehormatan bangsa Indonesia. Tonggak –tonggak sejarah bangsa Indonesia terlihat di dalam 48 diorama yang terdapat di Museum Sejarah Monumen Nasional serta mendorong lebih giat mengisi kemerdekaan itu dengan pembangunan untuk mencapai masyarakat adil dan makmur. Pada saat Republik Indonesia berusia sembilan tahun maka timbulah gagasan nyata untuk mendirikan Monumen Nasional di kalangan beberapa tokoh di Jakarta. Gagasan itu baru terwujud pada tanggal 17 Agustus 1961, ketika Republik Indonesia genap berusia dua windu, yaitu dengan diawali secara resmi pembangunan Monumen Nasional dengan pemancangan tiang pertama oleh Presiden Republik Indonesia. Desain dan rencana Monumen Nasional dibuat oleh arsitek Indonesia Terkemuka Soedarsono yang dipilih oleh Dewan Juri untuk diwujudkan dalam bentuk yang sekarang. Penasehat konstruksi adalah Prof. Dr. Ir. Roosseno. Pembangunan Monumen Nasional dibiayai terutama oleh sumbangan rakyat Indonesia secara gotong royong. Monumen Nasional ini dengan resmi mulai dibuka untuk umum tanggal 12 Juli 1975. Monumen Nasional mempunyai ciri-ciri yang khusus. Arsitektur dan dimensinya penuh mengandung lambang-lambang dan kias khas Indonesia. Bentuk yang paling menonjol adalah Tugu yang menjulang tinggi dan pelataran cawan yang luas mendatar. Tugu melambangkan lingga, alu atau antan, sedangkan pelataran cawan melambangkan yoni dan juga melambangkan lumpang dalam bentuk raksasa. Antan dan lumpang merupakan salah satu alat rumah tangga khas Indonesia. Yoni dan Lingga melambangkannegatif dan positif, seperti halnya siang dan malam, lelaki dan perempuan, ari dan api, bumi dan langit, lambang dari alam yang abadi. Di puncak tugu, api menyala tiada kunjung padam, melambangkan tekad bangsa Indonesia untuk berjuang dan membangun yang tak akan pernah surut sepanjang masa. Angka-angka keramat bangsa Indonesia, 17-8-45 juga diabadikan pada Monumen Nasional ini. Pelataran cawan berbentuk bujur sangkar berukuran 45m x 45m, tingginya 17m dan tinggi Ruang Museum Sejarah Nasional 8m. PEMBANGUNAN MONAS Sebagai lokasi bangunan Tugu Nasional pada waktu itu dipilih Lapangan Merdeka. Pemilihan lokasi ini adalah deisebabkan beberapa factor: 1. Letaknya adalah kira-kira di jantung Ibu Kota. 2. Jakarta adalah Ibu Kota republik Indonesia dan tempat dimana Kemerdekaan Bangsa Indonesia diproklamirkan. 3. Luasnya yang cukup ideal. 4. Dikelilingi oleh gedung-gedung pemerintah. 5. Mempunyai nilai sejarah setelah (Peristiwa tangga 17 Agustus 1945) Kemerdekaan Bangsa Indonesia diproklamirkan Lapangan Merdeka dibuat pada jaman kekuasaan Gubernur Jendral Hernan Willem Daendels (1808-1811) dengan nama “Champ de Mars” berteptan dengan pemindahan kantor-kantor Pemerintah, kompleks tentara ( tangsi-tangsi, yaitu tangsi Batalyon X dengan lapangan Banteng), rumah sakit rumah-rumah pegawai Pemerintah dan militer serta Rumah Bola “Harmoni” dari Kota “ Batavia” ke daerah baru “ Weltevreden”. Kemudian setelah pergantian pemerintah, kembali ke Belanda lagi, yaitu antara tahun 1816-1942 nama “Champ de Mars” namanya diubah menjadi “Koningsplein” orang Jakarta sendiri menamakannya “Lapangan Gambir”. Pada masa pendudukan Jepang tahun 1942-1945, nama “Lapangan Gambir” menjadi resmi atau waktu itu disebut juga Lapangan Ikada ( Ikatan Atletik Djakarta) dan sekarang Tugu Monas berdiri dinamakan “lapangan Silang Monas” Dan akhirnya Gubernur D.K.I. Jakarta Raya memutuskan bahwa seluruh Lapangan Monas dijadikan” Taman Monas untuk kepentingan warga kotanya dalam berekreasi dan dijadikan sebagai paru-paru kota Jakarta serta sebagai penunjang menambah kemegahan berdirinya Tugu Nasional. Pada tanggal 19 September 1945, bersamaan dengan peristiwa “ Insiden Bendera” di Tunjungan Surabaya, dilapangan Gambir (Ikada) telah dilangsungkan rapat raksasa untuk mnyambut dan mendukung Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dengan semangat dan ketangguhan rakyat Indonesia, tidak gentar menghadapi tank, senapan mesin dan senapan dengan sangkur terhunus dari tentara Jepang yang pada waktu itu bersiap siaga. Lapangan Merdeka atau disebut juga sekarang “Lapangan Silang Monas” berbentuk trapezium dengan luas 800.000m2 Tinggi permukaan tanah sisi jalan Medan Merdeka Barat adalah ±3,5m; di tengah-tengah lapangan adalah ± 4.00 m dan pada sisi Jalan Medan Merdeka Timur ± 5.00 m dari permukaan laut. Gambar 1 : Rencana induk koningsplain tahun 1892 Gambar 2 : Rencana Induk Koningsplain tahun 1937 oleh Ir. Thomas Karsten BAGIAN UTAMA TUGU NASIONAL 1. Pintu Gerbang Utama Dengan berjalan di atas Plaza di TAMAN MONAS UTARA, para pengunjung akan menikmati pemandangan tiga air mancur yang ada di sana. Kemudian setelah melewati patumg Pangeran Diponegoro turun masuk ke dalam terowongan yang melintas di bawah jalan Silang Monas dan keluar tepat di halaman Tugu Nasional yang sekelilingnya berpagar besi berbentuk “bambu runcing”. 2. Ruang Museum Sejarah Nasional Ruangan ini terletak 3m di bawah halaman Tugu Nasional yang ditinggikan 1,7m dari tanah asli,. Sedangkan atap museum terletak 5m diatas halaman Tugu. Luas ruangan adalah 80m x 80m. 3. Ruang Kemerdekaan Ruang Tenang yang dirubah menjadi Ruang Kemerdekaan berada di dalam cawan Tugu Nasional, berbentuk amphiteater tertutup dengan di tengah-tengah ruangan terdapat dinding persegi empat. 4. Pelataran Cawan Berbentuk lumpang segi empat melingkari badan Tugu Nasional berukuran 45m x 45m dan berada di ketinggian 17m dari halaman Tugu Nasional.. Dari pelataran cawan ini dapat dilihat area lapangan Taman Monas seluruhnya. 5. Pelataran Puncak Tugu Nasional Pelataran puncak Tugu berada pada ketinggian 115m dari halaman Tugu Nasioanal dan dari tempat ini dapat dinikmati pemandangan diatas Ibukota Jakarta kesegenap penjuru. Pelataran Puncak Tugu ini berukuran 11m x 11m. 6. Lidah Api Kemerdekaan Lidah api yang terletek di atas atap peataran puncak, berbentuk kerucut tinggi 14m. Seluruh permukaan luarnya dilapis dengan emas murni (gold foiled)seberat lebih kurang 35 kg. Ketinggian sampai titik puncak lidah api adalah 132m dari halaman Tugu, sedangkan tinggi dari pelataran puncak ke titik puncak lidah api adalah 17m. 7. Patung Pangeran Diponegoro Ditempatkan di Taman Monas Utara untuk menambah penampilan keagungan dan kemegahan tegak berdirinya bangunan Tugu Nasional dan menambah mengenal keagungan perjuangan Bangsa Indonesia ANALISA Monumen Masional sebagai Landmark Kawasan Silang Monas Gambar 3 : Posisi Monumen Masional pada Kawasan Silang Monas Letak dari Monumen Masional yang berada pada tengah – tengah kawasan Silang Monas. Disamping kanan dan kiri Monumen Masional terdapat square berupa ruang terbuka yang sekarang dimanfaatkan sebagai taman dan ruang publik merupakan orientasi dari bangunan – bangunan yang ada pada kawasan silang Monas. Jenis Bangunan Monumental Apabila dikategorikan sebagai bangunan monumental, maka Monas termasuk dalam jenis monumental tunggal karena jelas dominasi unsur vertikal yang tegas, selain itu objek lain berada sangat jauh dari Monas dikelilingi Lapangan Monas yang berbentuk trapesium dengan luas 800.000m2. Ruang bangunan Monas juga benar-benar bebas dari pengaruh bangunan lain Skala Apabila kita melihat kea rah tugu monas, maka bidang vertikal di atas bidang pandangan horizontal mempunyai sudut 40 derajat atau 2/3 seluruh sudut pandangan mata. Orang dapat melihat keseluruhan bangunan bila pandangannya 27 derajat atau bila D/H = 2. Dan dari segi proporsi skala, monas tampak tepat dan enak dipandang pada jarak D/H = 2. Gambar 4 : Monas pada jarak D/H =2 Dengan D/H =2 Monas tampak jelas bentuk dan rupa bangunan serta tektur dinding maupun lubang-lubangnya Axis/ sumbu Konsep sumbu yang dipakai pada konsep pembangunan Monumen Nasional ini dalam pencapaiannya menggunakan sumbu yang tegas. Jadi untuk mencapai ke bangunan utama dapat ditempuh dari pintu masuk dengan arah yang lurus. Dengan sumbu yang tegas ini, maka kesan monumentalnya pun menjadi tegas dan fokus. Tetap ke tengah bangunan, tidak berubeh-ubah. Gambar 5 : Monumen Masional ditengah kawasan yang membentuk aksis Gambar 6 : Monumen Nasional tampak keseluruhan Penarikan Massa utama Pada Monas tampak bahwa massa Utama benar benar berada di tengah dari suatu lahan dan menimbulkan penguasaan yang menyeluruh terhadap tapak, tidak tertumbuk. Dengan demikian kesan monumental terasa lebih tegas. Apabila bangunan ditempatkan di dekat entrance, maka akan menumbuh bangunan monumental tersebut. Selain itu , dapat mengganggu keseluruhan tampak bangunan monumental. Gambar 7 : Penarikan massa bangunan ke tengah dan cukup jauh dari pengamat Penaikan Massa Bangunan Maasa Bangunan ditonjolkan dengan meninggikan peil, maka massa bangunan utama akan bertambah kesan monumentalnya. Pada bangunan Monumen Nasional ini peil dibuat pada ketinggian lantai yang berbeda yaitu lebih tinggi +5m dari permukaan tanah +0.00. dengan ditambah ketinggiannya, orang yang berada di bawah (pada ketinggian +0.00) akan memandang bangunan monumental lebih menengadah ke atas, sehingga ada kesan menghargai bangunan tersebut sebagai bangunan monumental. Gambar 8 : Potongan kawasan dan Monument Nasional KESIMPULAN Monumen Nasional merupakan salah satu bangunan yang patut dibanggakan oleh rakyat Indonesia. Bangunan tersebut mempunyai sisi-sisi fisiologis yang menggambarkan tentang Indonesia. Terutama dalam masa perjuangannya untuk mencapai Proklamasi Republik Indonesia. Selain itu, Monumen Nasional juga termasuk bangunan monumental. Karena, setelah dilakukan analisa dari segi analisa landmark kawasan, jenis bangunan monumental, skala, axis/sumbu, penarikan massa utama dan Peninggian Massa Bangunan, maka Monumen Nasional telah memenuhi persyaratan untuk diklasifikasikan sebagai bangunan monumental. Dan dapat dikategorikan lebih spesifik sebagai bangunan monumental tunggal. Konsep sumbu yang dipakai pada konsep pembangunan Monumen Nasional ini dalam pencapaiannya menggunakan sumbu yang tegas. Jadi untuk mencapai ke bangunan utama dapat ditempuh dari pintu masuk dengan arah yang lurus. Dengan sumbu yang tegas ini, maka kesan monumentalnya pun menjadi tegas dan fokus. DAFTAR PUSTAKA De Chiara, Joseph dan Lee E Kappelman,. Standar Perancangan Tapak. Jakarta : Erlangga, 1997. Ashihara, Yoshinobu. Exterior Design in Architecture. New York : Van Nastrand Reinhold Co, 1970. D.K. Ching, Francis. Arsitektur : Bentuk, Ruang dan Susunannya. Jakarta : Erlangga, 1991. _, Laporan Pembangunan Tugu Nasional. Jakarta : Pelaksana Pembina Tugu Nasional, 1961-1978.

Item Type:Article
Subjects:N Fine Arts > NA Architecture
Divisions:Faculty of Engineering > Department of Architecture Engineering
Faculty of Engineering > Department of Architecture Engineering
ID Code:1617
Deposited By:arsitek Agus Pramono arsitek
Deposited On:09 Nov 2009 08:38
Last Modified:03 Feb 2012 10:01

Repository Staff Only: item control page