ARAHAN PENGEMBANGAN KAWASAN BARAT KABUPATEN BANGKA

RUSMANSYAH , RUSMANSYAH (2006) ARAHAN PENGEMBANGAN KAWASAN BARAT KABUPATEN BANGKA. Masters thesis, program Pascasarjana Universitas Diponegoro.

[img]
Preview
PDF - Published Version
2825Kb

Abstract

Kabupaten Bangka in periods of 2002-2004 has experience development disparity among area, income, and area structure and infrastructure. The western area of Bangka is lag behind compared with the southern and northern area. Distance factor and relatively low of infrastructure caused community tend to do their activities to Pangkal Pinang. Western development policy currently is unable to eliminate the disparity. This study aimed to examine western area development direction by identification, documentation, analysis, and to propose physical and economic space and area development. The establishment of WP, kecamatan order and area-based development have created development dynamics and physical and economic review. The research question is How Western Area of Bangka Development Direction to Eliminate Area Disparity? By using 2000-2004 data, Guttman’s Scalogram Analysis, Gravitation Analysis, LQ analysis, SSA, and area development analysis are conducted. In the discussion section, each kecamatan is analyzed, followed by analysis on western area as a whole. The Scalogram Analysis on facilities and population numbers shows that Kabupaten Bangka has one first-order kecamatan, no second-order kecamatan, and 7 third-order kecamatan. The area influence analysis shows that growth center interaction with its service area in western area is weaker than its interaction to Pangkal Pinang or among kecamatan in that area. Economic activities analysis on business sector/sub sector in PDRB ADHK years of 2000-2004 shows that the leading sector/sub sector in western area are forestry, chemical, non metal mining goods, metal, building, highway transportation, non-bank financial institutions, services, private sector, and social sector. The direction that can be used to develop western area of Bangka is create Kecamatan Puding Besar as new growth center, because this area is supported by agricultural sector and have strategic location to support rubber industrial growth and also rubber processing industry sub sector and related main issues to improve wealth and eliminate area disparity. Based that western area policy is focused on agricultural sector, agricultural technology development to support plantation sub-sector productivity is essential to improve competitiveness, community wealth and to eliminate area disparity. Kabupaten Bangka selama kurun waktu 2002-2004 mengalami kesenjangan pembangunan antar wilayah, pendapatan, dan sarana prasarana wilayah. Kawasan barat Bangka merupakan kawasan yang lebih tertinggal dibandingkan dengan kawasan selatan dan utara. Faktor jarak dan relatif rendahnya jumlah sarana prasarana hingga aktifitas masyarakatnya cenderung lebih tertarik ke Pangkal Pinang. Kebijakan pengembangan kawasan barat selama ini belum mampu mengeliminasi disparitas yang terjadi.Tujuan penelitian ini untuk mengkaji arahan pengembangan kawasan barat melalui identifikasi, inventarisasi, analisis, dan merumuskan ruang fisik dan ekonomi serta pengembangan kawasan. Penetapan wilayah pengembangan, orde kecamatan dan pembangunan berbasis kewilayahan melahirkan dinamika pengembangan wilayah, kajian ruang fisik dan ekonomi, hingga pertanyaan penelitiannya adalah Bagaimanakan Arahan Pengembangan Kawasan Barat Kabupaten Bangka Guna Mengeliminasi Kesenjangan Wilayah yang terjadi? Dengan menggunakan data 2000-2004 dilakukan Analisis Skalogram Guttman, Analisis Gravitasi, analisis LQ, SSA, dan pengembangan wilayah. Dalam pembahasannya tiap kecamatan di kawasan barat dianalisis pada tingkat kabupaten , lalu dilanjutkan dengan analisis pada tingkat kawasan barat sebagai satu kesatuan wilayah. Analisis Skalogram terhadap fasilitas dan jumlah penduduk didapatkan hasil bahwa Kabupaten Bangka memiliki satu kecamatan berorde satu, tidak ada yang berorde dua, dan 7 kecamatan lain berorde tiga. Analisis wilayah pengaruh menghasilkan, bahwa interaksi pusat pertumbuhan dengan wilayah pelayanannya di kawasan barat lebih lemah daripada interaksi wilayah tersebut ke Pangkal Pinang ataupun antar kecamatan dalam kawasan. Analisis aktifitas ekonomi terhadap sektor/sub sektor usaha dalam PDRB ADHK tahun 2000-2004 diperoleh hasil bahwa sektor/sub sektor leading di kawasan barat adalah kehutanan; kimia, barang galian bukan logam, barang logam,bangunan,angkutan jalan raya,lembaga keuangan bukan bank, jasa perusahaan,jasa-jasa, swasta, dan sosial kemasyarakatan. Arahan yang dapat digunakan dalam pengembangan kawasan barat Bangka adalah menjadikan Kecamatan Puding Besar sebagai pusat pertumbuhan baru karena didukung oleh sektor pertanian dan letak yang strategis serta mendorong pertumbuhan industri pengolahan karet di Mendo Barat dengan terus mendorong pertumbuhan sub sektor perkebunan karet serta mengaitkannya dengan isu-isu besar yang ada hingga dapat meningkatkan kesejahteraan dan mengeliminasi disparitas wilayah. Mengingat kebijakan terhadap kawasan barat difokuskan pada sektor pertanian, maka pengembangan teknologi pertanian untuk mendorong produktifitas subsektor perkebunan menjadi sesuatu yang sangat penting guna meningkatkan daya saing, meningkatkan kesejahteraan rakyat dan mengeliminasi disparitas wilayah.

Item Type:Thesis (Masters)
Subjects:H Social Sciences > HV Social pathology. Social and public welfare
Divisions:Postgraduate Program > Master Program in Urban and Regional Planning
ID Code:15861
Deposited By:Mr UPT Perpus 1
Deposited On:06 Jul 2010 14:25
Last Modified:06 Jul 2010 14:25

Repository Staff Only: item control page