FAKTOR RISIKO KONDILOMA AKUMINATA PADA PEKERJA SEKS KOMERSIAL (Studi Kasus pada PSK Resosialisasi Argorejo Kota Semarang)

Aprilianingrum , Farida (2006) FAKTOR RISIKO KONDILOMA AKUMINATA PADA PEKERJA SEKS KOMERSIAL (Studi Kasus pada PSK Resosialisasi Argorejo Kota Semarang). Masters thesis, Program Pascasarjana Universitas Diponegoro.

[img]
Preview
PDF - Published Version
679Kb

Abstract

Background: Genital warts is a main problem of public health in all over the world, including Indonesia. The prevalence of genital warts among Female Sexual Workers (FSW) of Argorejo brothel complexes are increasing significantly in one year, and so is HIV infection cases. Objectives : to asses the risk factors of genital warts among FSW : internal factors (demographic, reproductive health, history of sexual transmitted diseases (STI’s), body mass index (BMI), enabling factors (social economic status, social environment) and behavioural factors (sexual activity, personal hygiene, vaginal douching and condom use). Method : This is an observational research with a case control design (ratio of case : control are 1 : 2). Data were collected through in depth interview and focus group discussion. Total number samples are 46 for each group. Case group consist of FSW with genital warts, 1st control consist of FSW with candidosis and 2nd control consist of FSW without STI’s. All samples were diagnosed at January 2005 – June 2006. Data analysis were univariate, bivariate, and multivariate. Results : The prevalence of genital warts among FSW of Argorejo Brothel Complexes are increasing 5% and so is HIV infection and syphilis. The risk factors of genital warts for 1st control are low of BMI (OR = 7,53; 95% CI = 1,11 – 50,68), number of sexual partners ≥ 6 person/day (OR = 3,74; 95% CI = 1,16 – 11,99) and small number of condom use (OR = 3,66; 95% CI = 1,05 – 12,79). The risk factor of genital warts for 2nd control are vaginal douching (OR = 153,2; 95% CI = 5,14 – 569,86), number of sexual partners ≥ 6 person/day (OR = 38,3; 95% CI = 3,18 – 462,03), income < Rp 1.600.000,00 a month (OR = 32,14; 95% CI = 2,50 – 411,98), contraceptive use (OR = 7,58; 95% CI = 1,31 – 43,67) and small number of condom use (OR = 6,33; 95% CI = 1,05 – 38,31). Conclusion : Risk factors of genital warts (for 1st control) are low of BMI, number of sexual partners ≥ 6 person/day, small number of condom use. Risk factor of genital warts (2nd control) are vaginal douching, number of sexual partners ≥ 6 person/day, income < Rp 1.600.000,00 a month, contraceptive use, small number of condom use. Risk factors of genital warts for both controls are number of sexual partners > 6 person/day (OR1 = 3,74; OR2 = 38,3) and small number of condom use (OR1 = 3,66; OR2 = 6,33). Suggestion : For health officer and STI clinic : Routine monitoring of STI’s prevalence include genital warts and information dissemination about STI’s include genital warts through high quality of outreach. For brothel complexes management : to monitor the implementation of the law of 100% condom use and giving punishment if FSW disobeyed it, coordination and collaboration with stakeholders for monitoring of STI’s prevalence include genital warts among FSW. For FSW : 100% condom use in promiscuity, increasing the BMI with a healthy lifestyle and not doing vaginal douching. Latar belakang : Kondiloma Akuminata (KA) merupakan masalah kesehatan masyarakat di seluruh negara, termasuk Indonesia. Prevalensi KA pada PSK Resosialisasi Argorejo Semarang meningkat signifikan dalam waktu satu tahun yang diiringi dengan meningkatnya kasus infeksi HIV pada PSK resosialisasi Argorejo. Tujuan : Mengetahui faktor risiko terjadinya KA pada PSK, faktor risiko internal (karakteristik PSK, reproduksi, BMI, riwayat IMS), faktor risiko lingkungan pendukung (sosial ekonomi, lingkungan sosial), dan faktor risiko perilaku (aktivitas seksual, higiene perseorangan, vaginal douching, kondom). Metode : Jenis penelitian ini adalah observasional dengan rancangan kasus kontrol, dengan perbandingan kasus : kontrol adalah 1 : 2. Pengumpulan data dengan metode indepth interview dan focus group discussion. Jumlah sampel sebanyak 46 kasus, 46 kontrol 1 dan 46 kontrol 2. Kasus adalah PSK penderita KA, kontrol 1 adalah PSK penderita IMS kandidiasis, kontrol 2 adalah PSK yang tidak menderita IMS, semua subyek didiagnosis pada kurun waktu Januari 2005 – Juni 2006. Data dianalisis secara univariat, bivariat dan multivariat. Hasil : Prevalensi KA pada PSK resosialisasi Argorejo tahun 2005 meningkat signifikan dibandingkan tahun 2004, yaitu sebesar 5%, yang diiringi peningkatan kasus Infeksi HIV dan sifilis pada PSK resosialisasi Argorejo yaitu sebesar 3 kali lipat (semula 5% menjadi 15%). Faktor risiko KA pada kontrol 1 adalah BMI < 18,5 kg/m2 (OR = 7,53; 95% CI = 1,11 – 50,68), jumlah mitra seks per hari ≥ 6 orang (OR = 3,74; 95% CI = 1,16 – 11,99) dan pemakaian kondom jarang (OR = 3,66; 95% CI = 1,05 – 12,79). Faktor risiko KA pada kontrol 2 adalah vaginal douching (OR = 153,2; 95% CI = 5,14 – 569,86), jumlah mitra seks per hari ≥ 6 orang (OR = 38,3; 95% CI = 3,18 – 462,03), pendapatan < Rp 1.600.000,00 sebulan (OR = 32,14; 95% CI = 2,50 – 411,98), memakai kontrasepsi (OR = 7,58; 95% CI = 1,31 – 43,67) dan pemakaian kondom jarang (OR = 6,33; 95% CI = 1,05 – 38,31). Kesimpulan : Faktor risiko KA (pada kontrol 1) adalah BMI < 18,5 kg/m2, jumlah mitra seks per hari ≥ 6 orang, pemakaian kondom jarang. Faktor risiko KA (pada kontrol 2) adalah vaginal douching, jumlah mitra seks per hari ≥ 6 orang, pendapatan < Rp 1.600.000,00 sebulan, memakai kontrasepsi, pemakaian kondom jarang. Faktor risiko KA pada kedua kontrol adalah banyaknya jumlah mitra seks per hari ≥ 6 orang (OR1 = 3,74; OR2 = 38,3) dan pemakaian kondom jarang (OR1 = 3,66; OR2 = 6,33). Saran : Bagi Dinas Kesehatan dan Klinik IMS : Monitoring prevalensi IMS termasuk KA secara berkesinambungan dan diseminasi informasi yang tepat dan benar mengenai IMS termasuk KA. Bagi pengurus resosialisasi : Pengawasan pelaksanaan regulasi kewajiban pemakaian kondom 100% pada PSK dan mitra seksnya, memberikan sangsi tegas jika ada yang melanggar. serta kerjasama dan koordinasi dengan Dinas Kesehatan dan Klinik IMS guna monitoring prevalensi IMS termasuk KA pada PSK. Bagi PSK : Pemakaian kondom 100% pada semua HUS promiskuitas, Meningkatkan status BMI dengan cara hidup sehat (makan makanan bergizi, tidak merokok, konsumsi alkohol dan konsumsi narkoba) serta tidak melakukan vaginal douching.

Item Type:Thesis (Masters)
Subjects:R Medicine > RA Public aspects of medicine > RA0421 Public health. Hygiene. Preventive Medicine
Divisions:Postgraduate Program > Master Program in Epidemiology
ID Code:15543
Deposited By:Mr UPT Perpus 2
Deposited On:01 Jul 2010 16:52
Last Modified:01 Jul 2010 16:52

Repository Staff Only: item control page