POLA KEMACETAN LALU-LINTAS DI PUSAT KOTA BANDAR LAMPUNG

FIRDAUSI, DEDI (2006) POLA KEMACETAN LALU-LINTAS DI PUSAT KOTA BANDAR LAMPUNG. Masters thesis, program Pascasarjana Universitas Diponegoro.

[img]
Preview
PDF - Published Version
14Mb

Abstract

Dewasa ini, pertumbuhan dan perkembangan kawasan pusat kota, khususnya tata guna bangunannya belum terencana dan tertata dengan baik. Penggunaan ruang kawasan CBD masih berbaur antara kegiatan formal dan kegiatan non-formal. Kegiatan formal berupa aktivitas perdagangan dan jasa yang menempati bangunan gedung disisi kirikanan ruas jalan. Kegiatan non-formal berupa aktivitas PKL yang menempati ruang publik seperti trotoar dan badan jalan. Kemacetan lalu-lintas di kawasan pusat Kota Bandar Lampung dipengaruhi oleh tata guna bangunan yang tidak rapi, volume arus lalu-lintas kendaraan bermotor yang tinggi dan pengaturan lalu-lintas yang kurang baik serta turunnya kapasitas ruas jalan akibat besarnya hambatan samping. Hambatan samping berupa kegiatan PKL, kendaraan tidak bermotor, kendaraan parkir-berhenti, dan pejalan kaki-penyeberang jalan. Kemacetan lalu-lintas terjadi pada ruas Jl. Raden Intan, Jl. Kartini, Jl. Imam Bonjol, Jl. Pemuda, dan Jl. Pangkal Pinang. Kemacetan lalu-lintas pada ruas-ruas jalan utama pusat Kota Bandar Lampung menyebabkan munculnya kawasan-kawasan kemacetan yaitu Kawasan Tugu-Gedung Joeang’45, Kawasan Terminal Kota-Bandar Lampung Plaza, Kawasan Simpur Center, Kawasan Pertokoan Pasar Tengah, Kawasan Chandra Superstore, Kawasan Plaza Millenium, Kawasan Central Plaza, Kawasan Jaka Utama, Kawasan Pertokoan Golden, dan Kawasan Bambu Kuning Plaza. Pola kemacetan lalu-lintas pada struktur ruang kawasan CBD dianalisis berdasarkan kondisi lingkungan dan tata guna bangungan serta karakteristik dan manajemen lalu-lintas di ruas-ruas jalan yang mengalami kemacetan. Kondisi lingkungan dan tata guna bangunan di kawasan CBD dianalisis secara deskripsi berdasarkan hasil survey di lapangan dan hasil penelitian ditampilkan dalam bentuk gambar foto yang dilengkapi dengan uraian penjelasan. Analisis kemacetan lalu-lintas dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif pencatatan data primer lalu-lintas. Karakteristik lalulintas yang dianalisis meliputi data lintas harian rata-rata (LHR), volume arus bebas, kapasitas, dan derajat kejenuhan serta besar hambatan samping. LHR dipergunakan untuk mengidentifikasi volume satuan mobil penumpang yang selanjutnya dipergunakan sebagai dasar untuk menghitung volume arus bebas, kapasitas dan derajat kejenuhan. Kemacetan lalu-lintas di pusat Kota Bandar Lampung membentuk suatu pola yang sistemik. Sistem kemacetan lalulitas terbentuk karena kawasan kemacetan saling berkaitan. Kaitan kawasan kemacetan dibentuk oleh pola pergerakan arus kendaraan pada sistem jaringan jalan yang ada. Sistem jaringan jalan pusat Kota Bandar Lampung terbentuk oleh tata-guna bangunan yang telah terbangun lebih dulu. Posisi pertokoan dan bangunan lainnya yang berada ditepi badan ruas jalan sangat mempengaruhi pola pembentukan dan pengembangan sistem jaringan jalan berikutnya. Lebar ruas badan jalan yang dibatasi oleh bangunan gedung disisi kiri-kanan ruas jalan membatasi kapasitas daya tampung volume arus pergerakan lalulintas kendaraan. Alternatif pemecahan masalah kemacetan lalu-lintas di CBD Kota Bandar Lampung dilakukan dengan penataan ruang dan gedung di kawasan CBD, relokasi PKL, penambahan fasilitas lalu-lintas, peningkatan disiplin pengguna jalan, hingga pembuatan jembatan penyeberangan di beberapa titik macet. Recently, the growth and development of urban center area, particularly its building layout haven’t well planned and organized. The use of CBD area mixes between formal activities and non-formal activities. The formal activity includes the activities of trade and services locating on buildings in the left and right roadsides. The non-formal activity includes the activity of PKL locating on public area, such as: pavement and the body roads. Congestion in the central area of Bandar Lampung affected by unorderly building layout, high traffic flow volume of the vehicle and bad traffic organizing also caused by the decreasing of road capacity due to the high side friction. Those side frictions are PKL activities, non-motor vehicle, parking and stopping vehicle, and pedestrian. The congestion occurred on Jl. Raden Intan, Jl. Kartini, Jl. Imam Bonjol, Jl. Pemuda, and Jl. Pangkal Pinang. The congestion on the main roads internodes of Bandar Lampung cause the congestion areas exist, namely: The area of Gedung Joeang ’45, BandarLampung Plaza, Simpur Center, Middle market shops, Chandra Super-store, Plaza Millenium, Central Plaza, Jaka Utama, Golden shopping center, and Bambu Kuning Plaza. The congestion on CBD area structure was analyzed based on environment condition, the use of building, and characteristic of traffic management on the roads internodes. The environment condition and building use in CBD area were descriptively analyzed based on the survey result in the field and the result of the research presented in the form of photograph picture completed with explanation description. The analysis of the congestion was conducted by using qualitative method of traffic primary data notification. The analyzed traffic characteristics involve average daily of pass data (LHR), free flow volume, capacity and degree of saturation, and the size of side obstacle. LHR is used to identify the volume of passenger car unit that is then used as the basis for calculating free flow volume, capacity and degree of saturation. The congestion in Central of Bandar Lampung City forms a systematical pattern. The congestion system is formed since the congestion area relates each other. The related of the congestion areas were formed by the movement pattern of vehicle flow in the existing road network system. The central road network systems of Bandar Lampung were formed by building layout that had been built before. The position of shopping center and others building along the side of road internodes highly influences the pattern of forming and development of subsequent road network system. The wide of road internodes that is limited by the building on the left and right side limits the capacity of the volume of traffic movement flow. The solution alternative for the problem of congestion in CBD area of Bandar Lampung City is by arranging for the place and building in CBD area, PKL relocation, and traffic facility addition, increasing the road user discipline and making flied- bridge at several congestion points.

Item Type:Thesis (Masters)
Subjects:H Social Sciences > HV Social pathology. Social and public welfare
Divisions:Postgraduate Program > Master Program in Urban and Regional Planning
ID Code:15454
Deposited By:Mr UPT Perpus 2
Deposited On:01 Jul 2010 08:15
Last Modified:01 Jul 2010 08:15

Repository Staff Only: item control page