PERANAN BADAN AMIL ZAKAT SEBAGAI PENGELOLA ZAKAT DALAM UPAYA MENGUBAH STATUS MUSTAHIK MENJADI MUZAKKI MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 38 TAHUN 1999 (Studi Pada Badan Amil Zakat Kabupaten Sragen Propinsi Jawa Tengah)

Wiryanitri, Anggrahaeni (2005) PERANAN BADAN AMIL ZAKAT SEBAGAI PENGELOLA ZAKAT DALAM UPAYA MENGUBAH STATUS MUSTAHIK MENJADI MUZAKKI MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 38 TAHUN 1999 (Studi Pada Badan Amil Zakat Kabupaten Sragen Propinsi Jawa Tengah). Masters thesis, program Pascasarjana Universitas Diponegoro.

[img]
Preview
PDF - Published Version
1061Kb

Abstract

Zakat adalah harta tertentu yang wajib dikeluarkan oleh orang-orang dari golongan tertentu untuk golongan orang-orang tertentu dengan cara yang tertentu. Zakat merupakan ibadah yang berkaitan dengan harta benda, mengandung dua dimensi yaitu dimensi hablum minallah yang mengatur hubungan antara manusia dengan penciptanya dan hablum minannas yang mengatur hubungan antara manusia dengan manusia. Ibadah zakat jika dikelola dengan baik akan meningkatkan kesejahteraan umat, mampu meningkatkan etos dan etika kerja umat serta sebagai institusi pemerataan ekonomi. Pengelolaan zakat yang baik tidak diserahkan langsung kepada mustahik (penerima zakat) akan tetapi dilakukan oleh sebuah lembaga yang khusus menangani zakat yang memenuhi syarat-syarat tertentu yang disebut amil zakat. Amil zakat inilah yang memiliki tugas memajukan dan sosialisasi kepada masyarakat, melakukan penagihan,dan pengambilan serta mendistribusikannya secara tepat dan benar.Di Indonesia pengelolaan zakat diatur dengan Undang-Undang No 38 Tahun 1999 tentang pengeloalaan zakat dan pedoman pelaksanaannya diatur dalam Keputusan Menteri Agama No 373 Tahun 2003 dan Keputusan Dirjen Bimas Dan Urusan Haji No. D/291 tahun 2000 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan zakat. Organisasi pengelolaan zakat di Indonesia ada 2 yaitu Badan Amil Zakat yang dibentuk oleh pemerintah dan Lembaga Amil Zakat yang dibentuk oleh masyarakat dengan pengesahan dari pemerintah keduanya mempunyai tugas pokok mengumpulkan , mendistribusikan dan mendayagunakan zakat sesuai dengan ketentuan agama. Dalam pendayagunaan zakat diutamakan untuk usaha produktif, hal ini sesuai dengan visi dari pada zakat yaitu untuk mengubah status mustahik (penerima zakat) menjadi muzakki (pemberi zakat) maka badan amil zakat dituntut untuk berperan aktif dalam mencapai visinya sehingga zakat dapat berdaya guna dan berhasil guna. Dari hal tersebut di atas penulis tertarik untuk membahas dalam tesis dengan judul “ Peranan Badan Amil Zakat Sebagai Pengelola Zakat Dalam Upaya Mengubah Status Mustahik Menjadi Muzakki Menurut UU No 38 Tahun 1999. Dari judul tersebut penulis menyimpulkan dua permasalahan yaitu bagaiman peranan BAZ dalam mengelola zakat untuk mengubah status mustahik menjadi muzakki dan apa kendala-kendalanya yang dihadapi BAZ dalam mengelola zakat utuk megubah status Mustahik menjadi Muzakki .Bertitik tolak dari permasalahan tersebut penelitian ini bertujuan untuk memahami peranan BAZ dalam mengelola zakat untuk mengubah status mustahik menjadi muzakki dan untuk memahami kendala-kemdala yang dihadapi BAZ dalam upaya mengubah status mustahik menjadi muzakki.Berdasarkan perumusan masalah dan tujuan penelitian maka metode pendekatan yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode yuridis empiris. Obyek penelitian di sini adalah Badan Amil Zakat Kabupaten Sragen, yang menurut penulis telah dapat merealisasikan UU No 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat, baik dalam usaha pengumpulan dana zakat, pendistribusian dana zakatnya maupun pendayagunaan zakat dalam upaya mengubah status mustahik menjadi muzakki. Diharapkan dalam waktu tiga tahun para mustahik dapat berubah menjadi muzakki. Tithe in money is a certain wealth which a must that turn out by a certain people to a certain people. Tithe in money is a devition that related to properties. It has two dimension, hablum minallah dimension or vertical dimension and hablum minannas or horizontal dimension. Vertical dimension manages the relationship between man and his creator where as the horizontal dimension manages the relationship between man and man. If tithe money could be well managed, thus will increase the communities’welfare; increase the ethos and work ethic of people as an institution to an even distribution in economical world. A well-managed tithe is directly not given to mustahik (tithe receiver), however, it must bo done by a particular institution that hold tithes which fulfill a certain requirement named amil zakat. This amil zakat is responsibility to implementation and appropriately. In Indonesia, title management is arranged in Regulations No.38 year 1999 about tithe management and its implementation guidance that is arranged in Religion Ministry Decree No. 373/2003 and Public Guidance and Hajj Arrangement General Directorate Decree No. D / 291 / 2000 that consists of Techical Guidance for Tithe Management. In Indonesia, there are 2 tithe management organizations such amil zakat institution that is established by government and an amil zakat that is established by societies with the validation of goverment. Both institution has responsibilities to collect, distribute and use the tithe based on religion’s determination. The tithe especially user in productive effort. This has met the vision of the tithe itself to change the musthalik (tithe receiver) status into muzakki (tithe donor). This the amil zakat institution has to play an important role to achieve its vision to make it will be used and benefit. As the mention above, the writer is interested in discussing it to a thesis entitled “amil Zakat Instution’s Role as a Tithe Management Institution to Change the Mustahik status into Muzakki Status According to Regulations No. 38/1999”. Based on the thesis’ the above, the writer concluded that there were two problems such as how does amil Zakat Institution’s role in managing the there were two problems such as how does Amil Zakat Institution’s role in managing the tithe to cange mustahik status into muzakki status and what were the inhibits that faced by Amil Zakat institution for managing the tithe to change the mustahik status into muzakki status and what were the inhibits that faced by Amil Zakat institution for managing the tithe to change the mustahik status into muzakki status. Focusing in those problems, this research aimed to understand the Amil Zakat Institution’s roel for managing the tithe to change the mustahik status into muzakki status and to understand the inhibits that were faced by Amil Zakat Institution as an effort to change the mustahik status into muzakki status. Based on the scope of the study and aims of study, this research used juridical empiric method as its approaching method because it is show not only as regulations or rules but it consists of how does the law that applay on public societies and how does it interact into the environment. This objective study is Sragen Regency’s Amil Zakat Institution, that is viewed by the writer as an institution that has already applied Regulations No. 38/199 about Tithe Management, both in collecting and using it as an effort to change the mustahik status into muzakki status.

Item Type:Thesis (Masters)
Subjects:K Law > K Law (General)
Divisions:Postgraduate Program > Master Program in Notary
ID Code:15360
Deposited By:Mr UPT Perpus 2
Deposited On:30 Jun 2010 08:10
Last Modified:30 Jun 2010 08:10

Repository Staff Only: item control page