ANALISIS SISTEM PELAYANAN BONGKAR MUAT PETI KEMAS DENGAN MENGGUNAKAN MODEL ANTRIAN (STUDI KASUS DI PELABUHAN TANJUNG EMAS SEMARANG)

Haryanto, Haryanto (2005) ANALISIS SISTEM PELAYANAN BONGKAR MUAT PETI KEMAS DENGAN MENGGUNAKAN MODEL ANTRIAN (STUDI KASUS DI PELABUHAN TANJUNG EMAS SEMARANG). Masters thesis, Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro.

[img]
Preview
PDF - Published Version
3354Kb

Abstract

The observation of loading and unloading in the container yard system problem is often be related to the performance of service system concerning to the container arrival which is be served at the time. Some researches have been conducted only for answering it in two cases: weather the system is optimal and when the new facilities provision required. The study herein performs the analysis of service system for loading and unloading process to handle container at the container yard of Tanjung Emas port of Semarang is focusing for Rubber Tired Gantry (RTG) facility only. The selection of the simulation is of reason that in some cases, the simulation usage is simpler and more effective than the analytical method. The simulation method will be applied for solving the queuing system at RTG facility in the container's loading and unloading process within the container terminal of Tanjung - Emas port of Semarang. The queuing model follows (M/M/m:FCFS/4--) rule as the first M is referred to Poisson's distribution based arrival rate, the second M referred to exponential distribution based service rate, m referred to multi entry multi exit server, FCFS stands for first come first service, and the last two codes referred to infinite arrival and service rate number. Of the study results are as follow: total number of container loading activities up to 2010 is approximately 217.727 boxes, total number of container unloading approximately 165.346 boxes, no new facilities provision needed up to 2007 as there is not a sort of individual delayed in the server (no queuing exist). The queuing exists at one server in 2008 when the 'arrival rate reaches total number of 32 boxes per hour. The idle time appears each year until 2010 at rate of 5 minutes both loading and unloading activities. It implies that the facility is under operated. However, as the arrival rate increases, the idle time rate decreases 26 % averagely both for loading and unloading. The above facts imply a conclusion that the existing RTG facility is sufficient handling the loading and unloading up to 2010. The provision of new one may begin in 2008 as the queuing number of container at server appears significantly. Masalah sistem pelayanan bongkar dan muat di pelabuhan peti kemas seringkali menjadi obyek tinjauan berkaitan dengan kinerja sistem pelayanan terhadap permintaan kedatangan peti kemas yang harus dilayani per satuan waktu. Pertanyaan ini memunculkan berbagai penelitian mengenai bagaimana meningkatkan kinerja sistem pelayanan di pelabuhan peti kemas dan kapan fasilitas dalam pelabuhan hams di tambah. Studi ini akan melakukan analisa mengenai kinerja sistem pelayanan di Pelabuhan Peti Kemas Tanjung Emas Semarang, titik berat studi kali ini lebih ditekankan pada analisa sistem pelayanan dari sisi di lapangan penumpukan khususnya fasilitas Rubber Tired Gantry (RTG) dengan menggunakan metode antrian yang penyelesaiannya menggunakan simulasi sebagai alat perhitungan. Pendekatan simulasi adalah pendekatan dimana proses perhitungan yang mendasarkan pada peniruan kondisi nyata dengan kondisi teoritis sedemikian hingga kondisi teoritis ' memifili karakteristik yang mendekati kondisi nyata. Metode simulasi dapat diterapkan dalam setiap tuna dan salah satu penerapannya adalah sistem pelayanan dalam proses bongkar dan muat di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Penyelesaian simulasi dalam studi ini diterapkan untuk melihat proses antrian dalam sistem pelayanan bongkar muat peti kemas. Model antrian yang digunakan adalah model M/Mim:FCFS/--1--.. Model ini berarti model antrian banyak server (m) dengan pola kedatangan Poisson, pola pelayanan mengikuti distribusi eksponensial, metode pelayananannya adalah yang pertama datang yang pertama dilayani, dan jumlah kedatangan dan keberangkatan dianggap talc hingga. Dan basil analisis simulasi dilcetahui bahwa permintaan untuk ekspor/muat pada sampai tahun 2010 sebesar 217.727 box per tahun dan untuk impor/bonglcar sebesar 165.346 box per tahun. Hasil simulasi kinerja pelayanan fasilitas RIG sampai tahun 2010 menunjukan bahwa sampai tahun 2007, belum ditemukan ada antrian dalam sistem. Antrian baru terjadi pada tahun 2008 dimana tingkat kedatangannya mencapai 32 box/jam. Antrian hanya terjadi pada 1 buah fasilitas RTG dan tidak terjadi sepanjang periode simulasi. Waktu jeda sampai tahun 2010 masih tampak dan rata-rata masih diatas 5 menit bark untuk kegiatan muat dan bongkar. Artinya sistem masih dalam kondisi underoperated. Tetapi seiring peninglcatan tingkat kedatangan peti kemas, waktu jeda ini mengalami penurunan dengan rata-rata penurunan sebesar 26 % baik untuk kegiatan muat maupun bongkar. Dan temuan-temuan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa berdasarkan analisis simulasi kinerja fasilitas pelayanan RTG sampai tahun 2010 diketahui bahwa fasilitas RTG (8 buah) masih dalam kondisi underoperated atau masih mampu melayani tingkat kedatangan peti kemas balk bongkar maupun muat secara penuh.

Item Type:Thesis (Masters)
Subjects:T Technology > TA Engineering (General). Civil engineering (General)
Divisions:Postgraduate Program > Master Program in Civil Engineering
ID Code:15103
Deposited By:Mr UPT Perpus 1
Deposited On:22 Jun 2010 16:50
Last Modified:22 Jun 2010 16:50

Repository Staff Only: item control page