TATA RUANG GEDONG DHUWUR DI KAWASAN BERSEJARAII SIMONGAN SEMARANG

Sutaji, Ndaru Hario (2005) TATA RUANG GEDONG DHUWUR DI KAWASAN BERSEJARAII SIMONGAN SEMARANG. Masters thesis, Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro.

[img]
Preview
PDF - Published Version
7Mb

Abstract

Since an old building meets some specific regulation criterions, it can be categorized as a protected heritage preserve. The ancient here refers to the age of the building, which is older than fifty years. The more the artefact has precious values to the history, science and culture, the more it is categorized as a protected heritage preserve. A holistic tracer study about the artefact is just a method to prove that the artefact worth to be one of heritage preserve. Space and form, the important unit of design in architecture, could become apparatus for that purpose. Space and form contains the individual perception about the borderline determined by its former elements. Whether the perception of the homeowner influences the organization in old building's mass or not still has been a source of curiosity. The purpose of this research is to make up an idiographic description about Gedong Dhuwur. The research method started from the field visit to record primary data and to achieve some relevant documents. In the purpose of confining the report, this research depends on the theory built from some literatures. The research's material started chronologically from the early history of Gedong Dhuwur. Explanation method is used in the examination, which explains the observatory results and confirm with some relevant events and theories. The result shows that Gedong Dhuwur was built when Semarang, as the harbour city, was in its best economic condition, in Dutch colonial time. It's obviously characterized by the. space and form elements of Gedong Dhuwur. The existence of Gedong Batu, which was likely the most historical area in Simongan region, might be one of the main rationales why Gedong Dhuwur had been built nearby. In fact, the spaces, which were formed by the mass elements, clearly influenced by the personality of the owner, who was a Chinese descent. Hence, Chinese's space order and form obviously dominate the design of this building, which is not only as a dwelling place, but also as a country house with such attractive scenery. The research concludes that Gedong Dhuwur is an indisch-architecture style enriched with cultural values. It is also considered unique, related to the location within and its characters, especially its space order characteristics, which influenced by Chinese architecture and Feng Shui. Bangunan kuno adalah peninggalan yang dapat digolongkan sebagai benda cagar budaya yang dilindungi bila memenuhi beberapa kriteria regulasi. Batasan utama kekunoan adalah usianya yang lebih dan limapuluh tahun. Kepentingan pelestarian semakin menguat apabila sebuah benda cagar budaya terbukti memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Pembuktian bahwa sebuah karya arsitektur kuno pantas dijadikan benda cagar budaya, ialah dengan melakukan penelusuran secara holistik terhadap artefak. Dalam arsitektur terdapat piranti penting dan perbendaharaan disain yang substansial dan abadi, yaitu bentuk dan ruang, yang dapat dijadikan alat kajian untuk tujuan tersebut. Ruang dan penataannya mengandung persepsi individu akan batas-batas yang ditentukan unsur pembentuknya. Apakah persepsi pemilik-pendiri mempengaruhi penetapan hingga pengorganisasian unsur-unsur massa sebuah bangunan kuno, adalah suatu hal yang menarik untuk diungkap. Penelitian ini tidak bertujuan untuk membuat generalisasi, tetapi membuat deslcripsi atau gambaran tentang karakteristik Gedong Dhuwur, yang bersifat idiografik. Metode pengumpulan data dimulai dari lapangan secara grounded. Penekanan terhadap perolehan data ash (natural) dilengkapi oleh data dokumen yang dapat melatar belakangi eksistensi obyek. Teori yang dipakai sebagai alat kajian juga digunakan sebagai pembatas proses analisis dan pengendali pelaporan penelitian. Sedangkan pembahasan dilakukan secara kronologis dimulai dari catatan keberadaan Gedong Dhuwur. Hal ini dilakukan karena sebagai produk peninggalan masa lalu, penghuni yang menempatinya tidak mempunyai sangkut paut terhadap pendiri artefak arsitektur ini. Selanjutnya teknik eksplanasi digunakan dalam pembahasan, yaitu menjelaskan hasil dad pengamatan dan mengkonfirmasikan dengan catatan kejadian dan teori-teori terkait. Hasil penelitian menunjuldcan bahwa Gedong Dhuwur didirikan disaat kota Semarang memiliki kedudukan yang kuat secara ekonomi, periode pelabuhan perdagangan dunia di masa kolonial Hindia-Belanda. Unsur-unsur bentuk dan ruang Gedong Dhuwur jelas memanifestasikan hasil konteks jaman tersebut. Situs Gedong Batu yang merupakan tempat paling bersejarah di kawasan Simongan menjadi pertimbangan dalam pendirian kompleks ini. Ruang yang merupakan wadah bagi aktivitas individu yang ditetapkan, dibentuk dan diorganisir oleh unsur-unsur massa dalam kenyataannya dipengaruhi oleh kepribadian dari pemilik, yang merupakan seorang Tionghoa pendatang. Tata ruang khas rumah China dan saran geomansi China nampak terwujud kuat dalam perletakan unsur bangunan dan tata ruang Gedong Dhuwur. Pola tata ruang hunian utama juga memperlihatkan rancangan fasilitas ini, yaitu sebagai sebuah pesanggarahan yang berdiri diatas tempat yang banyak memiliki pemandangan menarik. Dad hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa Gedong Dhuwur merupakan manifestasi arsitektur indisch yang kaya akan makna budaya. Gedong Dhuwur mempunyai banyak keunikan berhubungan dengan tempat-lokasinya serta karalcter diluar indisch yang dikandungnya. Utamanya karakteristik keruangan Gedong Dhuwur dipengaruhi oleh arsitektur China dan Feng shui.

Item Type:Thesis (Masters)
Subjects:N Fine Arts > N Visual arts (General) For photography, see TR
Divisions:Postgraduate Program > Master Program in Architecture
ID Code:15085
Deposited By:Mr UPT Perpus 1
Deposited On:22 Jun 2010 14:16
Last Modified:22 Jun 2010 14:16

Repository Staff Only: item control page