WASIAT WAJIBAH SEBAGAI BENTUK PENEROBOSAN KEWARISAN AHLI WARIS NON MUSLIM

SARIE, DORRY ELVANA (2005) WASIAT WAJIBAH SEBAGAI BENTUK PENEROBOSAN KEWARISAN AHLI WARIS NON MUSLIM. Masters thesis, program Pascasarjana Universitas Diponegoro.

[img]
Preview
PDF - Published Version
3053Kb

Abstract

As the world development in an integrated and interlinked collective norm, so the globalization emerged in religious life. There is interaction between moslem and non moslem almost all over the world. For example, recently there is marriages between moslem and non moslem. One of the problems occurred is in treasure distribution through the giving of will, which is a relation in one side contract ( Ghairu Mu'awadlah ). This one side contract will not be a problem if it is among moslem, because the law used is syariat Islam. But the problem would be difrent if there is will giving conducted between moslem and non moslem as occurred in cross religion marriage. The purpose of this reseach is to recognize wasiat wajibah as the form of breakthrough on the inheritance of non moslem heirs, and to understand the legal cause on the decision in Islamic law perpective. In answering the problem above, the writer composed this reseach by the composition as follows; (1) the method of judical normative approach, (2) the reseach specification used was descriptive, (3) the materials of reseach used was promary and secondary legl materials, (4) the data collecting method used was documentary study, (5) the data analysis method used was the method of the qualittive normative analytical descriptive, that is, the entire data obtained was composed systematical to be analyzed qualitatively. The giving og wasiat wajibah to heirs who lost their right because of the religion distinction inheritance sharing conflict, which was occured in the religion court Yogyakarta, was the form of breakthrough on the abort inheritance right. In the case above, according to the writer, the will institute and the inheritance institute was difrent institutes so that in the implementation could complete each other to avoid the unjust feeling and the settlement was the best way out for all parties. Because the inheritance acceptor was not heirs, so according to the writer, the judge decision was not contrary with Al Qur'an and hadist. The judge's consideration was the use of qiyas ( analogy) by the illat law or the causal as the background, was the broadened definition on wasiat wajibah giving for the non heirs, that is, the adopted children or the step parents broadened to the non moslem relatives In the islamic law perspective, the existence of the wasiat wajibah institute was on the same way as Islamic vision as the religion with the purpose to realize a realization of justice and love principles included within the Islamic teaching itself as mentioned in Al Qur'an and some Hadist. The love feeling tied in a family can be realized in the giving of inheritance through the will as the form of love among humans to the others. The whole things are meant for the goodness, avoiding conflict in the world because of the unjust feeling as the cause of the other religion domination. Seiring dengan perkembangan dunia dalam satu tatanan kehidupan bersama yang saling menyatu clan terkait ( interlinked ), maka globalisasi pun terjadi dalam kehidupan beragama, yaitu bahwa hampir diseluruh belahan dunia terjadi interaksi dalam hubungan antara muslim dan non muslim. Sebagai contoh yang banyak terjadi akhir — alchir ini adalah perkawinan antara muslim dan non muslim. Salah satu masalah yang ditimbulkannya adalah pendistribusian harta melalui pemberian wasiat yang merupakan hubungan dalam akad sepihak (Ghairu Mu'awadlah). Akad sepihak ini bila terjadi antara sesama muslim tidak akan menjadi masalah karena hukum yang akan digunakan adalah syariat Islam namun persoalan menjadi lain apabila terjadi pemberian wasiat dilakukan antara muslim dan non muslim seperti yang terjadi dalam perkawinan beda agama. Tujuan dart penelitian ini adalah untuk memahami wasiat wajibah sebagai bentuk penerobosan terhadap kewarisan ahli waris non muslim serta untuk memahami akibat hukum atas putusan tersebut dalam perspektif Hukum Islam. Dalam menjawab permasalahan diatas, penulis menyusun penelitian ini dengan susunan sebagai berikut (1) metode pendekatan yuridis normatif, (2) spesifikasi penelitian yang digunakan adalah deskriptif, (3) bahan dan materi penelitian yang dipergunakan adalah bahan hukum primer dan sekunder, (4) metode pengumpulan data yang digunakan adalah dengan studi dokumen, (5) metode analisa data yang dipergunakan adalah metode deskriptif analisis normatif kualitatif yaitu semua data yang diperoleh disusun secara sitematis untuk dianalisa secara kualitatif. Pemberian wasiat wajibah kepada ahli waris yang kehilangan haknya karena perbedaan agama dalam sengketa pembagian warisan terjadi di Pengadilan Agama Yogyakarta adalah sebagai bentuk penerobosan gugurnya hak waris. Dalam kasus diatas menurut penulis lembaga wasiat dan lembaga waris adalah lembaga berbeda sehingga dalam pelaksanaannya dapat saling melengkapi dan mengisi khususnya dalam suatu keadaan tertentu dalam hal ini beda agama dalam satu keluarga. Keberadaan kedua lembaga tersebut dalam pelaksanaanya saling melengkapi untuk menghindari perasaan ketidakadilan dan penyelesaian masalah yang merupakan jalan tengah yang terbaik bagi semua pihak. Oleh karena penerima wasiat bukanlah seorang ahli waris maka menurut penulis keputusan halcim tersebut tidak bertentangan dengan Al-Quran dan hadis. Hal yang menjadi pertimbangan halcim adalah pengunaan qiyas (analogi) dengan ilea hukumnya atau kausa yang melatarbelakanginya adalah diperluasnya penafsiran pemberian wasiat wajibah bagi kerabat yang tidak mewaris yaitu anak angkat atau orangtua angkat diperluas kepada kerabat non muslim. Dalam perspektif Hukum Islam keberadaan lembaga wasiat wajibah adalah sejalan dengan pandangan Islam sebagai Agama yang bertujuan untuk merealisasikan suatu perwujudan dari prinsip keadilan serta kasih sayang yang terdapat dalam ajaran Islam itu sendiri seperti yang disebutkan dalam Al-Quran dan banyak hadist. Perasaan kasih yang terjalin dalam satu keluarga dapat diwujudkan dengan pemberian bagian melalui wasiat sebagai bentuk kasih sayang antar umat manusia kepada manusia lainnya. Semuanya dimaksudkan untuk kebaikan, menghindari konflik di dunia yang berdampak besar bagi terciptanya kedamaian dunia aldbat perasaan ketidakadilan akibat dominasi penganut agama lainnya

Item Type:Thesis (Masters)
Subjects:K Law > K Law (General)
Divisions:Postgraduate Program > Master Program in Notary
ID Code:15047
Deposited By:Mr UPT Perpus 2
Deposited On:22 Jun 2010 09:45
Last Modified:22 Jun 2010 09:45

Repository Staff Only: item control page