DIMENSI SUFISTIK PUISI-PUISI SUTARDJI CALZOUM BACDRI

Sulaiman, Muhammad (2005) DIMENSI SUFISTIK PUISI-PUISI SUTARDJI CALZOUM BACDRI. Masters thesis, Program Pascasarjana Universitas Diponegoro.

[img]
Preview
PDF - Published Version
3313Kb

Abstract

This research applies philosophical and semiotical methods or approaches. By applying the semiotical method the researcher tries to find out what can be supposed as the main sign of a poem, to evaluate the words that being used by denotatively and connotatively, to conduct a paradigmatical and syntagmatical analysis, in elaborating the sufistical aspects contained in Sutardji Calzoum Bachri's poems. A paradigmatical analysis is a study on how a poet delivers a preferred language paradigmatically unpredicted and thus creates a language deviation. There are two kinds of paradigmatical deviations: semantical and grammatical deviation. A Syntagmatical analysis is a tracer of an unpredicted squence of words and thus makes a language deviation: syntactical deviation and over pattern. The main signifier of "Idulfitri" is to repent, while the main signifier of "Cermin" is "to look in the mirror" meaning tqfakkur and muhasabah, to contemplate and to introspect. The use of words denotatively and connotatively, metaphorically, deviated grammatically, parallelly, repetitionally, and inversionally in both "Idulfitri' and "Cermin" show their functions to support the main signifier in the poems. The masterpiece of Sutardji Calzoum Bachri, "Idulfitri" and "Cermin" illustrate a person who thought he had reached the high level in tasawut way after conducting a serious and sincere repentance. He felt he had been proper enough to "meet" his God or angels, thus he really desired the meeting. Feeling deeply disappointed as he couldn't make the meeting, he then "looked in the mirror", thought and contemplated. He became realized, as a spriritual creature, his status was still in low level. The illustrations are absolutely closed to the reality of human life. Thus, the characters in "Idulfitri" and "Cermin" are said to be the iconic signs of the religious manner of many individuals. Metode atau pendekatan yang digunakan adalah metode atau pendekatan filosofis dan semiotik. Dengan metode semiotik, peneliti mencari apa yang bisa dianggap sebagai penanda utama puisi, menelaah kata-kata yang digunakan secara denotatif dan konotatif, melakukan analisis paradigmatik dan sintagmatik, untuk mengungkapkan aspek-aspek sufistik yang terdapat dalam puisi-puisi Sutardji Calzoum Bachri. Analisis paradigmatik merupakan telaah bagaimana penyair menyajikan pemilihan yang secara paradigmatik tak terduga dan membuat terjadinya deviasi bahasa. Ada dua macam deviasi paradigmatik, yakni deviasi semantik dan deviasi gramatikal. Analisis sintagmatik merupakan penelusuran adanya sequence of word yang tak terduga dan membuat terjadinya deviasi bahasa. Ada dua macam deviasi sintagmatik, yakni deviasi sintaktik dan pola berlebihan. Penanda utama puisi "Idulfitri" adalah tobat, sedangkan penanda utama puisi "Cermin" adalah "bercermin" dalam pengertian tafakkur dan muhasabah, melakukan perenungan dan introspeksi. Penggunaan kata-kata secara denotatif dan konotatif, metafor, deviasi gramatikal, paralelisme, repetisi, dan inversi dalam puisi "Idulfitri" dan puisi "Cent", menunjukkan fungsinya dalam mendukung penanda utama puisi¬puisi tersebut. Puisi sufistik "Idulfitri" dan "Cermin" karya Sutardji Calzoum Bachri, menggambarkan seseorang yang menganggap dirinya telah mencapai maqam (peringkat) yang tinggi di jalan tasawuf karena merasa telah menjalani pertobatan dengan sungguh-sungguh dan tulus. Dia merasa sudah layak untuk "berjumpa" dengan Tuhan atau malaikat, karena itu dia sangat menginginkan perjumpaan tersebut. Sangat kecewa akibat gagalnya perjumpaan yang sangat dirindukannya itu, dia kemudian "bercermin", bertafakkur (merenung) dan bermuhasabah (berintrospeksi). Maka sadarlah dia, bahwa sebagai makhluk spiritual, status dirinya masih sangat rendah. Gambaran itu serupa benar dengan realitas kehidupan sehari¬hari manusia. Dengan demikian, karakter tokoh puisi "Idulfitri" dan puisi "Cermin" merupakan tanda ikonik dan sikap keberagamaan kebanyakan manusia

Item Type:Thesis (Masters)
Subjects:P Language and Literature > P Philology. Linguistics
Divisions:Postgraduate Program > Master Program in Humaniora
ID Code:15026
Deposited By:Mr UPT Perpus 2
Deposited On:22 Jun 2010 09:17
Last Modified:24 Feb 2012 08:49

Repository Staff Only: item control page