TINGKAT KEKAMBUHAN TINEA KRURIS DENGAN PENGOBATAN KRIM KETOKONASOL 2% SESUAI LESI KLINIS DIBANDINGKAN DENGAN SAMPAI 3 CM DI LUAR BATAS LESI KLINIS

MULYANINGSIH, SRI (2004) TINGKAT KEKAMBUHAN TINEA KRURIS DENGAN PENGOBATAN KRIM KETOKONASOL 2% SESUAI LESI KLINIS DIBANDINGKAN DENGAN SAMPAI 3 CM DI LUAR BATAS LESI KLINIS. Masters thesis, program Pascasarjana Universitas Diponegoro.

[img]
Preview
PDF - Published Version
1534Kb

Abstract

Tinea cruris is a dermatophytosis which affects the thighs'folds, including genetalia, pubic area, perineum and perianal. Tinea cruris is the most commonly found dermatophytosis and has a quite high recurrency rate of 20-25 %. There are several factors which can trigger recurrency in tinea cruris, i.e : the etiology, high temperature, humidity, lack of hygine, and incorrect treatment, for example the way of application. The diagnosis of tinea curis was determined based on characteristic clinical signs and the result of microscopic examination positive KOH 10 %.Up to now there has been no report as to how far the fungi element in the form of hypha or spora is from the edge of clinical lesion. The treatment of tinea cruris with ketoconazole 2% cream was topical done locally on the lesion and on the lesion area to 3 cm beyond the edge of lesion based area, the theory that there is fungi element beyond the clinical lesion. This study compared the recurrency tares of tinea cruris with ketokonazole 2% cream according to clinical lesion up to cm beyond the edge of clical lesion. This study is a clinical study with parallel group post test only design. Forty tinea cruris patients were devided into two groups of "pondok pesantren " with the some quantity of study subjects. The first "pondok pesantren" group received treatment of ketokonazole 2% cream according to the clinical lesion (group A) and the second "pondok pesantren" group was treated up to cm beyond the edge of the cilical lesion (group B) , each group applied the cream twice daily for weeks then the assessment of the recovery was done by way of clinical examinatins on day 7, 14, 21, 28, and KOH 10 % examination on day 28; then the assessment Of recurrency on the patients previously declared as cured was done by way of clinical and KOH 10 % examinations on day 56. From this study a conclusion could be devided that there was no significant difference between the cure and recurrency rates on group A and B. Tinea kruris merupakan dermatofitosis yang mengenai daerah lipat paha, termasuk genetalia, daerah pubis, perineum dan perianal. Tinea kruris adalah bentuk dermatofitosis yang paling sering dijumpai dan mempunyai angka kekambuhan yang cukup tinggi yaitu 20¬25 %. Ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya kekambuhan pada tinea kruris antara lain : jenis penyebabnya, suhu yang tinggi, lembab, kebersihan yang kurang, serta cara pengobatan yang tidak benar antara lain cara pengolesan. Diagnosis tinea kruris ditegakkan berdasarkan gambaran klinis yang khas disertai hasil pemeriksaan mikroskopis : KOH 10 % yang positif . Sampai saat ini belum pernah di laporkan seberapa jauh jarak elemen jamur berupa hifa ataupun spora dari tepi lesi klinis. Pengobatan pada tinea kruris secara topikal dengan krim ketokonasol 2 %„dilakukan secara lokal pada lesi dan dari daerah lesi sampai 3 cm di luar batas lesi dengan alasan adanya elemen jamur di luar batas lesi klinis. Penelitian ini membandingkan angka kekambuhan tinea kruris dengan pengobatan him ketokonasol 2 % sesuai lesi klinis dan sampai 3 cm di luar batas lesi klinis. Penelitian ini merupakan penelitian uji klinis parallel group post test only design. Empat puluh penderita tinea kruris dibagi dalam dua kelompok pondok pesantren. dengan jumlah subyek penelitian sama. Kelompok pondok pesantren pertama mendapat pengobatan dengan him ketokonasol 2 % sesuai lesi klinis (kelompok A) dan kelompok pesantren kedua sampai 3 cm di luar batas lesi klinis (kelompok B), masing-masing dioleskan 2 kali sehari selama tiga minggu. Kemudian dilakukan penilaian kesembuhannya dengan melakukan pemeriksaan klinis pada hari ke-7,14 ,21 dan 28 dan pemeriksaan KOH 10 % pada hari ke-28; selanjutnya penilaian ada tidaknya kekambuhan pada penderita yang telah dinyatakan sembuh dengan melakukan pemeriksaan kilnis dan KOH 10 % pada hari ke —56. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara tingkat kesembuhan dan kekambuhan tinea hurls pada kelompok A dan kelompok B..

Item Type:Thesis (Masters)
Subjects:N Fine Arts > NA Architecture
Divisions:Postgraduate Program > Master Program in Architecture
ID Code:14933
Deposited By:Mr UPT Perpus 2
Deposited On:21 Jun 2010 08:32
Last Modified:21 Jun 2010 08:32

Repository Staff Only: item control page