PENGARUH PEMANFAATAN REFLEKS1 CAHAYA TERHADAP INTENSITAS PENCAHAYAAN ALAMI DALAM RUANGAN (STUDI KASUS : GEDUNG YUSTINUS UNIKA SOEGIJAPRANATA SEMARANG)

Kartika, Ratri (2004) PENGARUH PEMANFAATAN REFLEKS1 CAHAYA TERHADAP INTENSITAS PENCAHAYAAN ALAMI DALAM RUANGAN (STUDI KASUS : GEDUNG YUSTINUS UNIKA SOEGIJAPRANATA SEMARANG). Masters thesis, program Pascasarjana Universitas Diponegoro.

[img]
Preview
PDF - Published Version
4Mb

Abstract

In designing a building, the architects usually pay attention to the main problems in the tropical region, such as the radiation of sunlight, rain and wind; they do not pay attention to the daylight, although the daylight is the light source used as the base to determine natural light requirements during the days. For example, they make too much sunshadings to overcome sun radiation, rain and wind problems, and yet the daylight is not achieved. Natural lighting potential is not used; artificial lighting is preferable used during the days. In using natural light, direct sun radiation goes into the building, must be minimized as far as posibble. In designing sunshading device element, the decrease of the daylight and sunlight penetrating into the building, must be estimated. This is the case of Yustinus Building at Unika Soegijapranata Semarang. The construction of balcony on the north east and south west facades results in the decrease of daylight and sunlight penetrating trough the windows on those facades. Whereas the daylight and sunlight is the light source used to as the base for natural lighting in designing a building. The phenomena shows that there is contradiction between the prevention of sun radiation and the natural lighting achieved in the building. This research will reveal the means which can be done to achieve the optimal condition of natural lighting and the role of artificial lighting in supporting the achievement of lighting standard in the building. By applying lighting theories connected to the problem, a hypothesis can be drawn which says that because of the insignificance of the daylight directing into the building, the natural lighting in Yustinus Building relies on the light reflected by the light reflector surfaces outside the lecture rooms, and the arrangement of artificial lighting grouping in the lecture rooms are inefficient for supplying artificial lighting demands. To prove the hypothesis, the research approach used is experimental procedure. Indoor and outdoor light intensity measurement methods are applied in two different conditions : the first is in the condition without light reflection, and the second is with light reflection. To discover the influence of light reflection use, the researcher calculate the percentage of indoor light reflection increase caused by the light reflection. And then, to discover the efficiency or inefficiency of artificial lighting grouping, the researcher calculate the difference between electrical use based on existing condition and based on ideal condition (based on distribution of indoor natural lighting intensity). The research discovers that the day light and sunlight refelected by the light reflector surfaces outside the lecture rooms have influence on indoor light intensity increase. It means that the Yustinus Building which is designed based on the concept of ope hall, void, balcony and veranda on each floor, can provide external reflector components to raise indoor natural light intensity. But, the case is not accompanied by efficient artificial lighting arrangement. Therefore, it is important to apply integrated design of natural and artificial lighting, by rearrangement of the artificial lighting grouping based on distribution of indoor natural lighting intensity and the application technology of artificial lighting. Dalam perencanaan suatu bangunan, kita terbiasa hanya memperhatikan masalah-masalah yang utama di daerah tropic seperti pengaruh radiasi matahari, hujan dan angin, tetapi lupa memperhatikan masalah terang langit, padahal terang langit merupakan sumber cahaya yang diambil sebagai dasar untuk menentukan syarat-syarat pencahayaan alami siang hari. Sebagai contoh untuk mengatasi masalah radiasi sinar matahari, hujan dan angin kita membuat sun shading yang berlebihan sehingga terang langit pun tidak tercapai. Potensi pencahayaan alami tidak dimanfaatkan, namun sebaliknya malah menggunakan pencahayaan buatan. Pencahayaan alami sangat penting diperhatikan, karena dengan pemanfaatan pencahayaan alami secara optimal akan tercapai penghematan energi untuk pencahayaan buatan dalam bangunan pada siang hari. Dalam pemanfataan cahaya alami, masuknya radiasi sinar matahari langsung ke dalam bangunan harus dibuat seminimal mungkin. Dalam perancangan elemen sun shading device, harus diperhitungkan pula terjadinya pengurangan terang langit dan cahaya matahari yang masuk ke dalam ruangan. Demikian pula yang terjadi pada Gedung Yustinus Unika Soegijapranata Semarang. Dengan adanya balkon pada fasade Timur Laut dan Barat Daya berarti berkurang pula terang langit dan cahaya matahari yang masuk melalui jendela pada fasade tersebut. Padahal terang langit dan cahaya matahari merupakan sumber cahaya yang diambil sebagai dasar dalam perencanaan pencahayaan alami pada bangunan. Dad fenomena tersebut, muncul pennasalahan adanya kontradiksi antara upaya penangkal radiasi sinar matahari dengan upaya pencapaian pencahayaan alami siang hari di dalam ruang. Di dalam penelitian ini akan diungkap upaya apa yang dapat dilakukan agar dapat dicapai pengoptimalan pencahayaan alami dalam ruang dan bagaimana peran cahaya buatan dalam mendukung tercapainya pencahayaan yang sesuai standar dalam ruang. Dengan menggunakan landasan-landasan teori yang berhubungan dengan permasalahan, diperoleh suatu hipotesis yang mengatakan bahwa karena kecilnya lubang cahaya efektif maka sistem pencahayaan alami pada Gedung Yustinus lebih mengandalkan refleksi cahaya dengan cara memanfaatkan bidang-bidang reflektor yang ada di luar ruangan dan penataan grouping lampu dan saklar pada ruang kuliah di Gedung Yustinus tidak efisien dalam memenuhi kebutuhan pencahayaan buatan. Untuk membuktikan hipotesis tersebut, pendekatan penelitian yang digunakan adalah dengan menggunakan prosedur eksperimen. Metode pengukuran intensitas cahaya ruang dalam dan intensitas cahaya ruang luar dilakukan dengan dua kondisi yang berbeda, yaitu pada kondisi bangunan tanpa refleksi cahaya dan pada kondisi bangunan dengan refleksi cahaya. Untuk mengetahui adanya pengaruh pemanfataan refleksi cahaya dilakukan dengan cara menghitung prosentase kenaikan intensitas cahaya ruang dalam akibat adanya refleksi cahaya. Kemudian untuk mengetahui efisien tidaknya grouping lampu, dilakukan dengan menghitung selisih antara pemakaian daya listrik yang berdasarkan pada kondisi eksisting titik lampu dengan kondisi ideal titik lampu ( yang berdasarkan distribusi intensitas cahaya alami). Dari penelitian diperoleh hasil bahwa refleksi cahaya matahari yang dipantulkan oleh bidang-bidang retlektor cahaya di luar ruang kuliah berpengaruh terhadap peningkatan intensitas cahaya di dalam ruang. lni berarti bahwa desain Gedung Yustinus yang rnenggunakan konsep hall terbuka, void, balkon dan selasar di tiap lantai, ternyata dapat menjadi external reflector compenent sehingga mampu meningkatkan intensitas cahaya alami dalam ruang kuliah. Akan tetapi hal ini tidak dibarengi oleh penataan grouping lampu yang efisien. Oleh karena itu diperlukan penerapan desain yang integrated antara pencahayaan alami dengan pencahayaan buatan, dengan cara menata kembali grouping titik lampu dan saklar yang didasarkan pada kecenderungan intensitas cahaya alami dalam ruang, juga dengan penerapan teknologi dalam pencahayaan buatan

Item Type:Thesis (Masters)
Subjects:N Fine Arts > NA Architecture
Divisions:Postgraduate Program > Master Program in Architecture
ID Code:14929
Deposited By:Mr UPT Perpus 2
Deposited On:21 Jun 2010 07:57
Last Modified:21 Jun 2010 07:57

Repository Staff Only: item control page