UJI DIAGNOSTIK PEMERIKSAAN KLINIS, GRAM DAN GIEMSA TERHADAP PCR UNTUK DETEKSI C.TRACHOMATIS PADA PEKERJA SEKSUAL KOMERSIAL

Karyadini, Hesti Wahyuningsih (2004) UJI DIAGNOSTIK PEMERIKSAAN KLINIS, GRAM DAN GIEMSA TERHADAP PCR UNTUK DETEKSI C.TRACHOMATIS PADA PEKERJA SEKSUAL KOMERSIAL. Masters thesis, Program Pascasarjana Universitas Diponegoro.

[img]
Preview
PDF - Published Version
1550Kb

Abstract

Chlamydia trachomatis in the genital tract is one of sexual transmitted infections (STIs) which has a Wide distribution in the world. WHO predicts that there are 89 million new cases in the world in 1995. Commercial sex workers is one of high-risk groups to be transmitted by STIs because of their multiple sex partners. Asymtomatic and symtomatic commercial sex workers should he screened for C.trachomatis infections to prevent of severe symtoms and it complications. Polymerase chain reaction (PCR) is the new diagnostic test for C.trachomatis detection by DNA amplification. The aim of this study is to do a diagnostic test to find out the sensitivity, specificity, from the clinical signs, Gram test and Giemsa test with PCR gold standard. The design of this study is cross-sectional and was followed by 65 commercial sex workers who fulfilled inclusion criteria. To commercial sex workers, the PCR test was done and found Ctrachomatis positive which was then followed by diagnostic test of the cervical clinical signs, Gram tests of discharge taken from endocervix. The association of clinical signs with PCR test result (C.trachomatis +) was analised by chie square test (x2). The association was significant ifp value was less than 0,05. The result of this study was revealed that clinical sign of edema had 90,90% sensitivity, 25,58% specificity; ectopic cervix had 13,6% sensitivity, 97,67% specificity, cervix friable had 45,45% sensitivity, 76,74% specificity, mucopurulent discharge had 86,36% sensitivity, 46,51% specificity. The Giemsa stain was revealed that inclusion bodies had 13,63 % sensitivity, 93,02% specificity. The Gram stain was revealed that cut of point leucocyte greater than or equal to 9 had 81,8% sensitivity, 34,9% specificity; leucocyte greater than or equal to 20 had 54,5% sensitivity, 62,8% specificity; leucocyte greater than or equal to 32,5% had 13,6% sensitivity, 99,7% specificity. The conclusions of the end of the study was revealed that the incidence rate of C.trachomatis infection on commercial sex workers in Tegalpanas and Bandungan localisations by PCR was 33,8%. Only mucopurulent endocervix discharge had high sensitivity and it association with Chlamydial infections was significant. The Giemsa stain can't be employed as a screening tool of C.trachomatis cause of it lower sencitivity. The Gram stain can be employed as a screening tool of C.trachomatis with the cut of point greater than and equal to 9, 20, 32, / 1000x field. Infeksi C.trachomatis pada genital merupakan salah satu infeksi menular seksual (IMS) yang mempunyai distribusi luas didunia. WHO memperkirakan terdapat 89 juta kasus bare didunia dalam 1995. Pekerja seksual komersial (PSK) merupakan salah satu kelompok risiko tinggi tertular IMS oleh karena mempunyai perilaku seksual berganti-ganti pasangan. Pada PSK yang asimtomatik maupun simtomatik perlu dilakukan skrining terhadap C.trachomatis untuk mencegah timbulnya gejala yang berat dan komplikasi yang menyertai. Polymerase chain reaction (PCR) merupakan suatu tes diagnostik terbaru untuk deteksi C.trachomatis dengan can amplifikasi DNA. Tujuan penelitian ini adalah uji diagnostik untuk mengetahui sensitivitas, spesifisitas, tanda klinik, pemeriksaan Gram dan pemeriksaan Giemsa dengan baku emas Polymerase chain reaction (PCR). Rancangan penelitian ini adalah uji diagnostik dengan pendekatan belah lintang dan diikuti oleh 65 PSK yang memenuhi kriteria inklusi. Pada 65 PSK dilakukan pemeriksaan PCR yang kemudian dilakukan uji diagnostik tanda klinik servik, pemeriksaan Gram dan Giemsa duh tubuh endoservik. Hubungan antara tanda klinis terhadap basil PCR (C.trachomatis +) dianalisis menggunakan uji Chic square (x2). Hash I analisis dinyatakan bermakna bila diperoleh nilai p<0,05. Pada penelitian, ini didapatkan bahwa angka kejadian infeksi C.trachomatis pada PSK di Lokalisasi Tegalpanas dan Bandungan berdasarkan pemeriksaan PCR adalah 33,8%. Tanda klinis edema mempunyai sensitivitas 90,90%, spesifisitas 25,58%; ektopik servik sensitivitas 13,6%, spesifisitas 97,67%, kerapuhan servik 45,45%, spesifisitas 76,74%; duh tubuh mukopurulen sensitivitas 86,36%, spesifisitas 46,51%. Pada pengecatan Giemsa didapatkan bahwa badan inklusi mempunyai sensitivitas 13,63%, spesifitas 93,02%. Pada pemeriksaan Gram didapatkan cut of point lekosit lebih besar atau sama dengan 9 sensitivitas 81,8%, spesifisitas 34,9%; lebih besar atau sama dengan 20 sensitivitas 54,5% spesifisitas 62,8%; lebih besar atau sama dengan 32,5 sensitivitas 13,6%, spesifisitas 99,7%. Hasil akhir penelitian ini disimpulkan bahwa hanya tanda klinik dub tubuh mukopurulen endoservik yang mempunyai sensitivitas yang tinggi serta mempunyai hubungan yang bermakna pada terjadinya servisitis C.trachomatis. Pengecatan Giemsa tidak dapat digunakan sebagai alat shining karena sensitivitasnya rendah.. Pengecatan Gram dapat digunakan sebagai alat shining pada cut of point lekosit lebih besar atau sama dengan 9, 20, 32,5/ 1000x lapangan pandang,.

Item Type:Thesis (Masters)
Subjects:R Medicine > R Medicine (General)
Divisions:Postgraduate Program > Master Program in Biomedical Science
ID Code:14900
Deposited By:Mr UPT Perpus 2
Deposited On:18 Jun 2010 14:20
Last Modified:18 Jun 2010 14:20

Repository Staff Only: item control page