FAKTOR RISIKO YANG BERPENGARUH TERHADAP KEJADIAN KONVERSI DAHAK SETELAH PENGOBATAN FASE AWAL PADA PENDERITA BARU TUBERKULOSIS PARU BAKTERI TAHAN ASAM (BTA) POSITIF (STUDI KASUS DI KABUPATEN PURWOREJO DAN SEKITARNYA)

SUPIIIJONO, DWITIYA (2005) FAKTOR RISIKO YANG BERPENGARUH TERHADAP KEJADIAN KONVERSI DAHAK SETELAH PENGOBATAN FASE AWAL PADA PENDERITA BARU TUBERKULOSIS PARU BAKTERI TAHAN ASAM (BTA) POSITIF (STUDI KASUS DI KABUPATEN PURWOREJO DAN SEKITARNYA). Masters thesis, PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS DIPONEGORO .

[img]
Preview
PDF - Published Version
3509Kb

Abstract

Background : Pulmonary Tuberculosis is coused by Mycobactyerium Tuberculosis. Prevalence of Pulmonary Tuberculosis in Indonesia is 130/100 000. The occurence in Purworejo District of central Java the prevalence was 120 /100 000 in 2002 and 150/100 000 in 2003. The implementation of Pulmonary Tuberculosis eradication using a short term medication guide has been cornmerced from 1990 in Purworejo district. This program was imphasized on the age group over 15 years, and it was expected that sputum convertion often intensive medication phase was 80% at minimum The data kept in Community Health Center, level showed that Pulmonary Tuberculosis patient with positive BTA coming from Puworejo district on 2003 was 132 patients on those having sputum convertion after intensive medication phase was 94 patients (71%). Obyective : To identify the risk factors wich influenced of sputum convertion after intensive medication phase of new patient pulmonary tuberculosis with positive BTA in Purworejo District and around. Method : The design was case control. The subyek of this study consisted of 51 cases (BTA positive value after intensive medication phase) and 51 control (BTA negative value after intensive medication phase ) registered at Puskesmas in whole areas of Purworejo District and around between Januari 2003 and september 2004. Result : The patients of pulmonary tuberculosis which sputum conversion absence is higest in 31-45 years old (41,2%), the most common of education is elementry school (54%) and unstable income occupation status (94%). The risk factor which statistically influence of sputum convertion after intensive medication phase are : 1)drug drinking irregularity 95%CI=1,154-8,765,p=0,025) ;2) Side efect of drug /OAT (0R--2,895,95%C1,186-7,068, p=0,020) Conclusion : The risk factors which influence of sputum conversion after intensive mdication phase : Drug drinking irregularity and Side efect of drug . Suggestion : Health education informaton communication (KIE) is the important to suport Medication of Pulmonary Tuberculosis , advocated the Head of District about the importance of the lung tuberculosis eradication, and health education is the important to suport that routinity of taking medicine. Latar belakang: Tuberkulosis pam disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Di Indonesia prevalensi Tuberkulosis sebesar 130/ 100 000, di Kabupaten Purworejo Jawa Tengah didapatkan 120 /100 000 pada tahun 2002 dan 150/100 000 pada tahun 2003. Penerapan pemberantasan Tuberkulosis pant di Kabupaten Purworejo menggunakan pengobatan jangka pendek dengan pengawas minum obat sejak tahun 1990. Program ini terutama ditujukan pada kelompok umur 15 tahun keatas dan mengupayakan terjadi konversi dahak setelah pengobatan fase awal sebesar 80%. Data yang diambil dari Puskesmas memperlihatkan pasien Tuberkulosis paru dengan BTA positif di Kabupaten Purworejo pada tahun 2003 ada 132 dan terjadi konversi setelah pengobatan fase intensif sebesar 94 (71%). Tujuan penelitian : mengetahui faktor risiko yang berpengaruh terhadap konversi dahak setelah pengobatan fase awal/intensif pada penderita ban Tuberkulosis parti BTA positif di Kabupaten Purworejo dan sekitarnya. Metode penelitian : desain studi kasus kontrol . Subyek penelitian ini adalah 51 kasus (BTA masih positif setelah fase intensif) dan 51 kontrol (BTA negatif setelah pengobatan fase intensif) dari pasien Tuberkulosis paru BTA positif yang tercatat di Puskesmas kabupaten Purworejo dan sekitarnya antara Januari 2003 sampai September 2004. Basil penelitian : Umur penderita Tuberkulosis paru yang gagal konversi terbanyak 31-45 tahun (41,2%), tingkat pendidikan terbanyak SD (53%), status pekerjaan tidak mempunyai penghasilan tetap ( 94%). Faktor risiko yang secara statistik bermakna mempengamhi konversi dahak adalah : 1)Frekwensi/ketidak aturan minum obat ( 011=3,180, 95%0=1,154- 8,765 ,p=0,025) 2) Gejala efek samping obat (OR=2,895,95%0=1,186-7,068,p=0,020). Simpulan : Kejadian konversi dahak setelah pengobatan fase awal penderita bam Tuberkulosis pam dipengaruhi oleh : Frekwensi/ ketidak aturan minum obat dan gejala efek samping obat. Saran/rekomendasi: Untuk pengobatan penderita Tuberkulosis paru perlu KIE yang benar tentang gejala efek samping , masukan ke Kepala Pemerintah daerah mengenahi pentingnya pemberantasan tuberkulosis pam dan menggalakkan pendidikan kesehatan akan pentingnya pengobatan secara teratur.

Item Type:Thesis (Masters)
Subjects:R Medicine > RA Public aspects of medicine > RA0421 Public health. Hygiene. Preventive Medicine
Divisions:Postgraduate Program > Master Program in Public Health
ID Code:14539
Deposited By:Mr UPT Perpus 1
Deposited On:16 Jun 2010 08:34
Last Modified:16 Jun 2010 08:34

Repository Staff Only: item control page