Pesona Sunset Manado

Sukawi, Sukawi (2008) Pesona Sunset Manado. Jurnal Nasional .

[img]
Preview
PDF - Published Version
19Kb

Abstract

Secara psikologis ada kesan luar biasa ketika kami yang bertugas menjadi surveyor untuk mendampingi staff Kementerian Perumahan Rakyat mulai menginjakkan kaki di Bandar Udara Internasional ‘Sam Ratulangi’ Manado. Apakah itu? Pemandangan alamnya yang indah, pohon kelapa berderet beribu-ribu seperti barisan tentara yang siap berperang. Hijau nian! Tak perlu guide untuk menjelaskan segala sesuatu yang bisu itu. Kami berdua sejenak tertegun karena sama-sama pertama kali tiba dibumi nyiur melambai. Apalagi kalau yang datang itu surveyor yang pasti akan menjumpai medan berat menantang untuk ditaklukkan sekaligus berpetualang. Keluar dari lokasi parkir Bandar Udara, kita dihadapkan dengan lingkungan bersih, tertata rapi, jalan yang baik dan beberapa menit kemudian, pandangan kita tertuju pada monumen Adipura Kencana, suatu monumen peringatan terhadap keberhasilan dalam klasifikasi kota bersih di Indonesia. Kesempatan yang pertama ini tidak kami sia siakan saat singgah di kota Manado, sebuah kota yang menarik di teluk ujung utara pulau Sulawesi. Sore itu udara terasa sejuk karena sejak tiba siang hari langit kota Manado selalu diselimuti awan yang menggelayut. Setelah melepas lelah di hotel, sorenya kami mencoba menuju ke Boulevard Manado (jantung kota) dan langsung menuju ke pantai Manado untuk menikmati matahari terbenam dengan latar pulau Manado Tua. Pulau Manado Tua merupakan pulau utama dari sekelompok pulau di teluk Manado. Sambil menikmati jajanan di sepanjang pantai Manado, serta semilir angin laut dan memperhatikan muda-mudi baik bergerombol maupun berpasangan menghabiskan senja ditepi pantai. Diantara derai ombak yang memecah pantai, sekelompok muda-mudi duduk-duduk diatas bongkahan batu besar, menghadap laut sambil menikmati pesona pulau Manado Tua. Semakin petang suasana semakin tambah ramai. Disebelah kiri tepat didepan menara pengawas pantai yang sudah mulai lapuk, beberapa anak berlarian sambil memainkan bola dikaki yang lincah beralaskan pasir. Semilir angin semakin membuat kulit tubuh ini menginginkan untuk diselimuti dengan jaket tebal. Sambil menjinjing kamera, saya berusaha untuk berbaur dengan sekelompok muda-mudi meloncat dari batu yang satu ke batu lainnya untuk lebih mendekati bibir pantai dan melihat lebih dekat percikan ombak. Saya berusaha untuk mencari posisi yang cukup nyaman untuk mengabadikan momen indah pesona Manado Tua diwaktu senja yang kala itu diselimuti oleh awan sehingga mataharipun enggan untuk menampakkan wajahnya yang cerah. Sesekali pandangan terlempar pada aktivitas nelayan yang siap-siap untuk berangkat melaut. Selain itu juga hilir mudiknya perahu naga yang mengangkut para wisatawan yang akan berlabuh setelah lelah mengantar para pelancong berkeliling menikmati pesona gugusan pulau Manado Tua dan Bunaken. Primadona pariwisata kota Manado adalah Taman Nasional Bunaken, yang oleh sementara orang disebut sebagai salah satu taman laut terindah di dunia. Letaknya yang hanya sekitar 8 Km dari daratan kota Manado dan dapat ditempuh sekitar ½ s/d 1 jam menyebabkan Taman Nasional ini mudah dikunjungi. Bagi anak-anak juga tersedia wahana sepeda air beraneka macam ditepi pantai dengan hanya merogoh kocek Rp. 6.000 perjam. Suasana petang di Kawasan Bolevard Manado sungguh terasa istimewa. Pengunjung dapat menyaksikan panorama alam dengan Pulau Manado Tua di tengah lautan. Menurut Jefferson, pemuda setempat, ketika cuaca cerah, matahari yang mulai tergelincir ke ufuk barat akan terlihat jelas, maka proses terjadinya Sunset dapat disaksikan dengan indahnya. Seiring dengan terbenamnya matahari, kawasan Bolevard menjadi ramai oleh penjual makanan. Mereka menggelar jualannya di sejumlah tenda di pinggiran pantai. Hidangan yang tersedia terdiri dari; nasi goreng, bakso, gado-gado, sampai beraneka ragam sea food. Harganya pun relatif murah. Para pengunjung dapat memilih sesuai selera yang diinginkannya. Berwisata ke kota Manado sungguh sangat menyenangkan. Banyak pilihan bagi wisatawan untuk berekreasi dan berwisata ria. Dari wisata alam seperti taman laut Bunaken, keindahan pantai, tempat hiburan rakyat, pusat perbelanjaan, hingga restoran, ada di kota ini. Bagi wisatawan yang menyukai alam pantai sebagai tempat rekreasi masih di dalam kota, maka kota Manado-lah tempatnya. Pesona keindahan pantainya dapat disaksikan dari kawasan Malalayang sampai kawasan Bolevard yang ada dipusat kota dengan garis pantai sepanjang 18,7 kilometer. Manado atau yang lebih di kenal dengan Nyiur Melambai, terkenal dengan keramahan penduduknya yang kemudian di sebut sebagai smiling people. Kota Manado ini mempunyai motto Si Tou Timou Tumou Tou, sebuah filsafat hidup masyarakat Minahasa yang dipopulerkan oleh Sam Ratulangi, yang berarti: “Manusia hidup untuk memajukan orang lain.” Dalam ungkapan bahasa Manado, seringkali dikatakan: “Baku beking pande”, yang secara harafiah berarti “Saling menambah pintar [orang lain]“. Suasana Manado malam tak jauh beda dengan kota-kota besar di Jawa, musik terus mengalun. Malam hari, kota ini begitu berisik dengan suara musik yang bergema dari ratusan kafe. Bunyi musik juga terdengar dari mobil angkutan umum ”oto mikro”- sebutannya, nyaris memecah gendang telinga penumpang. Suasana kota dan masyarakatnya terbuka, kondusif, dan mudah diakrabi oleh siapa saja. Jalan Roda, misalnya, menjadi salah satu landmark Manado. Terletak di pusat kota, jalan itu berubah menjadi tempat minum kopi dan kongko-kongko dari berbagai kalangan masyarakat. Di situlah tempat warga berkelakar, dan berdiskusi berbagai hal. Jalan Boulevard Manado (Jalan Piere Tendean), merupakan landmark yang menjadi kebanggaan karena merupakan jalan terlebar dan jalan pantai terpanjang-4,2 kilometer. Lebih-lebih di malam hari, bertambah semarak karena lampu aneka warna dari billboard dan papan reklame. Pusat perbelanjaan di Kota Manado mulanya terkonsentrasi di seputar Boulevard Manado. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi, dalam kurun waktu 3 tahun, industri properti dan retail di Manado berkembang cukup pesat. Ditandai dengan dibukanya tiga buah pusat perbelanjaan modern baru yaitu Mega Mal Manado, Manado Town Square dan Bulevard Mall. Ketiga pusat perbelanjaan ini berlokasi di ruas jalan yang sama yaitu jalan Piere Tendean atau yang dikenal dengan Manado Boulevard yang dapat juga dinikmati dari pantai Manado. Beberapa pusat perbelanjaan lain pun sedang dibangun di ruas jalan ini, terutama di daerah reklamasi pantai. Di sepanjang jalan ini juga terdapat beberapa hotel berbintang, restoran dan cafe yang menjajakan beraneka ragam makanan dan buka hingga larut malam. Pusat cinderamata khas Manado dapat ditemukan di Jalan BW Lapian. Terdapat beberapa toko suvenir yang menjual makanan, busana, dan kerajinan tangan khas Manado. Wajah kota Manado dapat diketahui dari peran historisnya. Awalnya Manado dibangun sebagai kota benteng, kota kolonial, kota pusat administrasi dan pemerintahan, kota pelabuhan dan transit, kota perdagangan dan jasa. Kemudian dalam perkembangannya, dengan konsep Manado Kota Tinutuan menuju Kota Wisata 2010. Kota Manado sebagai suatu kota yang diusung untuk memposisikan diri sebagai kota pariwisata atau pun wisata dunia pada tahun 2010.

Item Type:Article
Subjects:N Fine Arts > NA Architecture
Divisions:Faculty of Engineering > Department of Architecture Engineering
Faculty of Engineering > Department of Architecture Engineering
ID Code:1441
Deposited By:INVALID USER
Deposited On:20 Oct 2009 15:23
Last Modified:20 Oct 2009 15:23

Repository Staff Only: item control page