EFEKTIFITAS KLINIS PENGOBATAN SKLEROTERAPI DENGAN MENGGUNAKAN AETIIOXYSICLEROL 0,75 % DISERTAI BEBAT ELASTIK TERIIADAP TELANGIEKTASIS TUNGKAI PADA WANITA

JUWITA, RATNA (1998) EFEKTIFITAS KLINIS PENGOBATAN SKLEROTERAPI DENGAN MENGGUNAKAN AETIIOXYSICLEROL 0,75 % DISERTAI BEBAT ELASTIK TERIIADAP TELANGIEKTASIS TUNGKAI PADA WANITA. Masters thesis, Program Pascasarjana Universitas Diponegoro.

[img]
Preview
PDF - Published Version
2256Kb

Abstract

The term telangiectasia is used to describe a smaller, visible superficial blood vessel of the skin that are permanently dilated, measuring 0,1 to 1 mm in diameter. Teleangiectatic veins of the lower extremities are thought to occur due to persistent passive venous dilatation, as well as an increased distensibility of the vessel wall. Multiple predisposing factors were involved and play an important role in the development of the lesions, including hereditary factors, pregnancy, hormonal influence, prolonged standing, the presence of certain physical factors and infection. According to the etiology, telangiectasia may be divided into primary and secondary lesions. On the other hand, based on clinical appearance, telangiectasias are classified into 4 types : (1) sinus or simple (linear); (2) arborizing; (3) spider and (4) punctiform (papular). Treatment of telangiectatic leg veins is undertaken primarily to relieve pain, improve venous function, achieve cosmetic improvement and prevent complications. The objective of this study is to determine the effectiveness of sclerotherapy in reducing leg pain and achieving cosmetic improvement. The procedure was done using Aethoxysklerol 0,75% solution and utilization of post sclerotherapy compression with elastic bandage. The study was performed using "pre post test design" method, within 3 months ( from May - July 1998 ). Thirty patients which entered into the study were all females between the ages of 20 and 50 years. All patients had telangiectasia on their lower extremities and meet the criteria. All patients were treated by the injection of 0,1 to 0,5 ml Aethoxysklerol 0,75% solution into each single site. All subjects were followed on the day of the treatment, and the evaluations were then carried out on day 3, 7, 14 and 30 consecutively, in order to observe the subjective symptoms, objective signs and possible complications. RESULTS : 1. Significant differences were found (p < 0,01) on diameter of the vessels and telangiectatic area after the therapy as compared to before the• injection was given. 2. On day 30, the mean diameter of telangiectatic area were found to be 2,15 mm2 as compared to an average of 77,15 mm2 before the therapy. 3. The hyperpigmentations post sclerotherapy appeared on the third day ( H 3 ) and at the end of evaluation still reach 43,3%. 4. At the end of evaluation, a clinical improvement reach 97,49%, whereas a respond of therapy with good criteria were found to be 96,7%, in contrast to only 3,3% with less respond criteria respectively. Conclusion : Sclerotherapy may be used as a very effective treatment of telangiectasia of the lower extremities, with an excellent cosmetic improvement. Telangiektasis adalah dilatasi pembuluh darah halus pada kulit yang bersifat menetap yang dapat dilihat dengan mata telanjang, dengan diameter 0,1 sampai 1 milimeter. Telangiektasis pada tungkai terjadi akibat dilatasi vena yang persisten serta meningkatnya distensibilitas dinding pembuluh darah. Banyak faktor yang mempengaruhi dan berperan bagi terbentuknya telangiektasis, diantaranya faktor keturunan, kehamilan, hormonal, berdiri lama, faktor-faktor fisik serta infeksi. Berdasarkan penyebabnya, telangiektasis dibagi menjadi telangiektasis primer dan sekunder, sedangkan berdasarkan gambaran klinisnya terdapat 4 bentuk, yaitu (1) sinus atau simpel (linier); (2) arborizing; (3) spider dan (4) punktiformis (papuler). Pengobatan telangiektasis pada tungkai terutama ditujukan untuk menghilangkan keluhan, memperbaiki fungsi vena, perbaikan kosmetik serta menoegah komplikasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah skleroterapi dengan Aethoxysklerol 0,75% yang disertai dengan pemakaian bebat elastik dapat menghilangkan keluhan dan menghasilkan perbaikan kosmetik.• Penelitian dilakukan dalam waktu tiga bulan ( Mei - Juli 1998 ) dengan menggunakan metoda "pre post test design" terhadap 30 wanita berusia 20 - 50 tahun, yang menderita telangiektasis pada tungkai dan memenuhi kriteria penelitian. Pengobatan dilakukan dengan penyuntikan Aethoxysklerol 0,75% dengan dosis 0,1 - 0,5 ml pada setiap lokasi suntikan. Evaluasi dilakukan pada hari penyuntikan dan dilanjutkan pada masing-masing hari ke 3, 7, 14 dan 30, dengan menilai gejala subyektif, tanda obyektif serta komplikasi yang timbul. Hasil Penelitian : 1. Terdapat perbedaan yang sangat bermakna (p < 0,01) antara sebelum dan setelah pengobatan pada keluhan nyeri, luas lesi dan diameter pembuluh darah. 2. Terdapat pengecilan rerata luas lesi dari 77,15 mm2 pada awal pemeriksaan menjadi 2,15 mm2 pada akhir penelitian. 2. Komplikasi hiperpigmentasi mulai tampak pada pengamatan hari ke-3 dan pada akhir pengamatan masih terdapat sebesar 43,3%. 3. Pada akhir pengamatan, perbaikan klinis mencapai 97,49%, sedangkan respon pengobatan dengan kriteria baik adalah 96,7% dan hanya 3,3% dengan kriteria Kesimpulan : Skleroterapi merupakan suatu cara pengobatan telangiektasis tungkai yang efektif dan memberikan perbaikan klinis yang sangat baik.

Item Type:Thesis (Masters)
Subjects:R Medicine > R Medicine (General)
Divisions:Postgraduate Program > Master Program in Biomedical Science
ID Code:14094
Deposited By:Mr UPT Perpus 1
Deposited On:11 Jun 2010 10:49
Last Modified:11 Jun 2010 10:49

Repository Staff Only: item control page