PERSEPSI POLISI TERHADAP HAK ASASI MANUSIA DALAM KONTEKS PENEGAKAN HUKUM DI POLTABES SEMARANG (SUATU STUDI SOSIOLOGIS)

SRI UTARI, INDAH (1997) PERSEPSI POLISI TERHADAP HAK ASASI MANUSIA DALAM KONTEKS PENEGAKAN HUKUM DI POLTABES SEMARANG (SUATU STUDI SOSIOLOGIS). Masters thesis, PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS DIPONEGORO .

[img]
Preview
PDF
4Mb

Abstract

Penelitian ini dilakukan pada wilayah hukum Poltabes Semarang, yang mencakup sembilan Polsek (Polisi Sektor) dengan satuan analisisnya adalah Satuan Reserse. Pemahaman terhadap persepsi mereka tentang hakhak asasi manusia (HAM) dalam konteks penegakan hukum, dilakukan melalui studi terhadap sistem Irognitithya. Sebab, pengetahuan, interpretasi, dan kesiapan bertindak merupakan komponen-komponen kognisi yang tidak dapat berdiri sendiri, tetapi merupakan sistem interaksi yang mutual exclusive pada diri seseorang dalam proses merespons sesuatu obyek. Dan justru menurut Mar-at, sistem kognitif itu selalu dipengaruhi oleh pelbagai faktor seperti pengalaman, internalisasi dan sosialisasi (Mar-at, 1981 : 21). Jelaslah, betapa konsep ini sesuai dengan pandangan New Comb, bahwa sikap atau persepsi merupakan suatu kesatuan kognisi yang mempunyai valensi, yang pada akhirnya berintegrasi ke dalam pola yang lebih luas seperti : nilai, sikap, motivasi, dan dorongan (Ibid, h. 23). Berhubungan dengan itu, maka pendekatan yang dipakai untuk menganalisis permasalahan dalam karya ini adalah, pendekatan Interaksi-Simbolik dari G. Herbert Mead. Menurut Mead, manusia tidak harus dilihat sebagai produk yang ditentukan oleh struktur atau situasi objektif per se, tetapi paling tidak, sebagian merupakan aktor-aktor yang babas. Pendekatan ini menekankan perlunya memperhatikan definisi atau interpretasi subjektif yang dilakukan oleh aktor terhadap stimulus objektif, dan bukan hanya melihat aksi sebagai tanggapan langsung terhadap stimulus sosial (M. Poloma, 1994 : 259). Dengan kata lain, di samping mengakui realitas dunia objektif dan peranannya dalam mempengaruhi individu, Mead juga mengakui kedudukan interpretasi dunia objektif secara subjektif, yaitu oleh individu yang ada di dalamnya. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode Purposive sample. Secara sengaja dipilih sejumlah sampel awal, yang darinya penggalian informasi dikembangkan sesuai prinsip snow boot. Data yang terkumpul (kualitatif) dibahas dan dianalisis secara yuridis sosiologis melalui siklus induksi-konseptualis (Imbasan-konseptual). Penggunaan analisis yuridis sosiologis dilakukan untuk memahami hubungan logis antara hukum dengan institusi sosial lainnya. Sedangkan siklus induksi-konseptualisasi digunakan untuk membangun simpulan-simpulan ilmiah yang bertolak dari data-data empirik. Temuan •dalam penelitian ini menunjukan bahwa persepsi polisi terhadap HAM berkaitan erat dengan dunia objektif yang mengitarinya, di samping interpretasiinterpretasi subjektif sebagai seorang individu. Pengaruh dunia objektif dapat dilihat dalam "keterkungkunganmereka pada tujuan organisasi, "aturan main" dalam kelompok, arahan-arahan atasan, upaya memenuhi tuntutan masyarakat. Dengan demikian, nuansa persepsi mereka terhadap HAM dalam konteks penegakan hukum selalu diwarnai oleh sekalian faktor .deterministik tersebut. Sedangkan peranan pemaknaan secara sunjektif sebagai individu terlihat dalam upaya mereka menyiasati sekalian tuntutan tersebut lewat apa yang dikenal sebagai diskresi. Dengan demikian, simpulan akhir dari pemelitian ini menunjukan bahwa ; setiap ketentuan mengenai HAM yang secara substantif bersifat semesta, selalu mengelami npenoairan" di tangan pars aktor hukum (dibaca, polisi) yang dalam banyak hal berkiblat pada kepentingan kelompoknya, di samping karena kendala -Aendala yang bersifat struktural sesuai dengan konteks yang mereka hadapi.

Item Type:Thesis (Masters)
Subjects:K Law > K Law (General)
Divisions:Postgraduate Program > Master Program in Law
ID Code:12920
Deposited By:Mr upt perpus 4
Deposited On:02 Jun 2010 08:15
Last Modified:02 Jun 2010 08:15

Repository Staff Only: item control page