ANALISIS WACANA TENTANG SIKAP MEDIA DAN AKUNTABILITAS PUBLIK (Studi Kasus terhadap Berita Dana Mobilitas Anggota DPRD Jawa Tengah pada Harian Suara Merdeka) (DISCOURSE ANALYSIS ON MEDIA'S ATTITUDE AND PUBLIC ACCOUNTABI-LITY (Case Study towards Stories of Mobility Fund for Central Java Provincial House of Representatives in Suara Merdeka Daily))

WAHYURUDHANTO, ALBERTUS (2002) ANALISIS WACANA TENTANG SIKAP MEDIA DAN AKUNTABILITAS PUBLIK (Studi Kasus terhadap Berita Dana Mobilitas Anggota DPRD Jawa Tengah pada Harian Suara Merdeka) (DISCOURSE ANALYSIS ON MEDIA'S ATTITUDE AND PUBLIC ACCOUNTABI-LITY (Case Study towards Stories of Mobility Fund for Central Java Provincial House of Representatives in Suara Merdeka Daily)). Masters thesis, Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro.

[img]
Preview
PDF - Published Version
3973Kb

Abstract

To create a good governance, as demanded by democratic society in the era of democratization, a means of public debate arena is quitely needed. This debate is very much a compulsaty, since only hence can public empowering be realised. Besides, it can help a situation of transparency. Anyhow, for the purpose of transparent situation and freedom in forwarding people's opinion, there must be a media of the debate, and the most suitable to this is mass media. Principally, mass media is a tool of discussion or conservation of any case involving three parties, namely the media itself (in this case is its journalists and editors), the sources, and the public. They all bring their involvement in their own social activities. Their relationship is formed through debate operation they construct and transmit. Such research is based on the understanding of an undeniable reality that within the process of public debate through mass media there are several influencing factors. Those, whenever any media plays its role to stimulate people's participation and creating a situation of transparent governmental process, as a public accountability, there are supporting factors for the media to decide its attitude. By referring to what had happened in Central Java, there had been proven that mass media became a tool of public discussion over mobility fund for the members of provincial House of Representatives (DPRD). As a fact, the information of the fund had been media's --especially printed ones'-- main attention and concern. From the analysis conducted for three months --from October 1st to December 31st last year-- there were 48 news/stories related to the fund printed in Suara Merdeka daily. The, analysis was carried out by using discourse method in three phases. The first was "content analysis" using categorization. The second, selecting news to be analysised deeperly through "framing". And the third one was an interpretation based on the model of social change as developed by Norman Fairlough, those are text analysis, discourse practice, and socioculture practice. The finding and the conclusion in the research had seen there was an unneutral public debate through mass media. It was due to pressures within the media over the running of the process of information making. Besides, press freedom does not guarantee of media neutrality, since press function is quite limited to its role as a medium for all factors in the society, and therefore the press is very much depends on its sources. Therefore, the press siding with the peoples is influenced by how the people takes their attitude on the information appear in their society Untuk bisa menciptakan sistem kepemerintahan yang baik (good governance) sebagai wujud tuntutan masyarakat yang demokrat dalam lingkup demokratisasi, diperlukan sarana yang bisa menjadi arena debat publik. Debat publik ini sangat diperlukan, karena disinilah pemberdayaan publik bisa diwujudkan. Disamping itu debat publik akan memberikan dukungan bagi situasi transparansi. Namun, untuk bisa terwujudnya suasana transparan serta adanya kebebasan dalam mengemukakan pendapat, harus ada media yang bisa menjadi sarana untuk debat publik. Media yang bisa menjadi sarana untuk hal ini adalah media massa. Sehingga, media massa pada dasamya adalah wahana diskusi atau konservasi mengenai suatu masalah yang melibatkan tiga pihak, yaitu media itu sendiri dalam hal ini adalah wartawan dan redaktur, kemudian sumber berita, serta khalayak. Ketiga pihak tersebut akan mendasarkan keterlibatannya pada peran sosialnya masing-masing. Dan hubungan diantara mereka terbentuk melalui operasionalisasi wacana yang mereka kontruksi dan transmisikan. Penelitian ini didasarkan atas pemahaman bahwa ada realita yang tidak bisa dipungkiri bahwa dalam proses debat publik melalui media massa, ada berbagai unsur yang mempengaruhinya. Sehingga, ketika media melalcukan perannya untuk menstimulasi partisipasi masyarakat serta menciptakan situasi proses pemerintahan yang transparan, sebagai perwujudan akuntabilitas publik, ada unsur-unsur yang bisa memberikan pengaruh dalam proses media mengambil sikap. Pada kasus yang terjadi di Jawa Tengah, melalui media massa telah terjadi diskusi publik menyangkut pemberian dana mobilitas bagi anggota DPRD Jawa Tengah. Sebagai fakta publik, informasi mengenai adanya dana mobilitas bagi anggota DPRD Jateng ternyata sangat menarik perhatian media massa, terutama media massa cetak. Dan analisis isi yang dilakukan, selama tiga bulan penelitian, yaitu mulai tanggal 1 Oktober 2001 sampai dengan 31 Desember 2001, tercatat ada 48 berita / tulisan yang menyangkut bahasan mengenai dana mobilitas bagi anggota DPRD Jateng yang dimuat di Harian Suara Merdeka. Untuk analisis terhadap penelitian ini dilakukan dengan metoda analisis wacana (discourse analysis) dalam tiga tahapan analisis data. Tahap pertama merupakan analisis isi dengan melakulcan kategorisasi. Tahap kedua memilih berita untuk dianalisis lebih mendalam melalui teknik framing. Dan tahap ketiga dilakukan intepretasi bet. • nsarkan Model Perubahan Sosial seperti yang dikembangkan oleh Norman Fairclough, yaitu dengan urutan jenjang analisis teks, discourse practice, dan socioculture practice. Temuan dan simpulan yang dicapai dalam penelitian ini, adalah, ada realitas debat publik melalui media massa tidak bisa berlangsung netral.. Hal ini disebabkan adanya tekanan-tekanan dalam media ketika menjalankan proses produksi informasi Disamping itu kebebasan pers tidak bisa memberikan jaminan atas netralitas media, karena fungsi pers sangatlah terbatas pada perannya sebagai mediasi unsur-unsur yang ada di masyarakat, sehingga pers akan sangat tergantung dad sumber informasi. Karena itu, keberpihakan pers pada publik akan sangat dipengaruhi oleh bagaimana publik menyikapi informasi yang muncul di lingkungannya.

Item Type:Thesis (Masters)
Subjects:J Political Science > JS Local government Municipal government
Divisions:Postgraduate Program > Master Program in Public Administration
ID Code:12894
Deposited By:Mr UPT Perpus 5
Deposited On:01 Jun 2010 22:20
Last Modified:01 Jun 2010 22:20

Repository Staff Only: item control page