Batik Pekalongan Training Centre

Khairunisya, Khairunisya (2008) Batik Pekalongan Training Centre. Undergraduate thesis, Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Undip.

[img]
Preview
PDF - Published Version
46Kb

Abstract

A. LATAR BELAKANG Menurut Kebijakan Sistem Perwilayahan Pembangunan di Jawa Tengah, Kota Pekalongan termasuk dalam Wilayah Pembangunan II bersama-sama dengan Kabupaten Pekalongan, Kabupaten Batang dan Kabupaten Pemalang dengan Kota Pekalongan sebagai pusat perkembangannya. Sebagai pusat pengembangan wilayah pembangunan II, Kota Pekalongan diharapkan mampu membangun wilayahnya dengan menggali potensi yang dimilikinya. (RUTRK Kota Pekalongan Tahun 2003-2012) Salah satu potensi terbesar yang dimiliki oleh Kota Pekalongan adalah hasil seni kerajinan batik. Batik bukan cuma menjadi ikon utama Pekalongan, tetapi juga telah menjadi heritage dan sekaligus lapangan usaha bagi sebagian besar warga masyarakat di daerah ini, yaitu dengan tersebarnya industri batik di seluruh kecamatan di Kota Pekalongan kecuali Kecamatan Pekalongan Utara yang penduduknya sebagian besar bermatapencaharian sebagai industri pengolahan ikan hasil laut (Mazhuri sebagai Kepala Bagian Perindustrian Depperindagkop Kota Pekalongan). Begitu dalam pengaruh batik bagi kehidupan masyarakat, sehingga batik bermotif jlamprang dan canting (alat membatik) juga menjadi bagian tak terpisahkan dari lambang kota ini. Batik merupakan produk yang ditetapkan sebagai produk unggulan daerah Kota Pekalongan. Adapun pemasaran batik pekalongan bukan hanya di daerah Pekalongan saja, tetapi sampai luar kota seperti Jakarta, Yogyakarta, Surabaya. Selain itu pemasaran batik pekalongan juga sampai ke luar Pulau Jawa seperti Bali, bahkan sampai ekspor ke luar negeri seperti Amerika, Saudi Arabia, dan Malaysia. Dengan demikian batik pekalongan mempunyai muatan yang sangat optimal untuk dipasarkan dalam skala regional, nasional dan internasional (Damayati sebagai Kepala Bagian Perdagangan Depperindagkop Kota Pekalongan). Pengembangan industri batik di Kota Pekalongan dipengaruhi adanya krisis ekonomi yang berkepanjangan, kurangnya pengetahuan dan keterampilan manajemen dalam mengelola usaha, keterbatasan dana yang ada serta minimnya bantuan program bimbingan manajemen teknis yang belum menjangkau setiap anggota sentra industri kecil. Dengan adanya permasalahan tersebut di atas, maka mengakibatkan terpuruknya industri kecil dan menengah dan menurunnya daya beli masyarakat. Dampak yang timbul adalah beberapa jenis industri menghentikan kegiatannya, meningkatnya angka pengangguran sebagai akibat meluasnya pemutusan hubungan kerja (PHK), meningkatnya jumlah angkatan kerja, serta sempitnya kesempatan kerja. (RDTRK Kota Pekalongan Tahun 2003-2012) Secara absolute di Kota Pekalongan jumlah pengangguran laki-laki lebih banyak dari perempuan. Pada tahun 2005 terdapat 16.933 orang pengangguran yang 58,71% diantaranya adalah laki-laki, hal ini dimungkinkan karena banyak perempuan usia kerja yang lebih banyak mengurus rumah tangganya daripada terlibat dalam kegiatan ekonomi. Dan terdapat 77,68% dari 16.933 pengangguran di Kota Pekalongan adalah mereka yang berumur 15-24 tahun. Dimungkinkan mereka adalah anak-anak yang baru lulus sekolah dan sedang berusaha mencari pekerjaan. Pengangguran yang dalam hal ini adalah mereka yang sedang berusaha mencari pekerjaan, terlihat sangat sedikit pada mereka yang berusia tua. Terbukti hanya 3,72% pengangguran yang berusia diatas 35 tahun. Sedangkan dari tingkat pendidikannya terdapat 50,88% penganggur di Kota Pekalongan hanya berijazahkan pendidikan dasar yaitu 20,40% berijazahkan SD dan 30,48% berijazahkan SLTP. Secara absolute jumlah penganggur terbanyak adalah mereka yang berpendidikan menengah, baik itu dari sekolah menengah umum maupun dari sekolah menengah kejuruan. Sedang penganggur yang berijazahkan perguruan tinggi relatif kecil. (Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Pekalongan) Selama ini dalam proses produksi batik, para pengusaha batik di Pekalongan hanya mengandalkan ilmu warisan dari para leluhurnya yang merupakan penghasil batik. Kecenderungan para pengusaha batik adalah mereka yang berusia tua sehingga di masa mendatang kemungkinan di Pekalongan akan terjadi kepunahan dalam industri batik. Sementara itu di Kota Pekalongan tidak terdapat tempat pelatihan khusus untuk pelatihan batik, baik pelatihan proses produksi, pelatihan pemasaran maupun pameran batik sehingga para generasi muda Pekalongan yang sesepuhnya bukan pengusaha batik tidak mengerti sama sekali tentang batik Pekalongan. Para generasi muda wajib untuk melestarikan salah satu budaya yang ada di Pekalongan yaitu kerajinan seni batik pekalongan. Adapun cara melestarikannya bukan hanya sekedar memamerkan batik di museum saja, melainkan harus melanjutkan dari generasi sebelumnya dalam meningkatkan keterampilannya dalam bidang seni kerajinan batik. Dalam Program Pembangunan Daerah (Propeda) Kota Pekalongan, kebijakan pengembangan perwilahannya diarahkan agar tercapainya penataan daerah yang didasarkan pada kondisi, potensi, permasalahan, kegiatan-kegiatan di daerah yang diperkirakan akan dikembangkan untuk peningkatan kegiatan ekonomi dan mewujudkan pemerataan pertumbuhan, kestabilan serta keserasian antar wilayah pembangunan. Adapun kegiatan yang diprioritaskan oleh Pemerintah Daerah Kota Pekalongan diantaranya adalah: • Sektor industri : Peningkatan program bimbingan dan pembinaan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) sehingga produk-produk industri kecil seperti industri batik dapat dihasilkan dengan kualitas tinggi; • Sektor tenaga kerja: Peningkatan relevansi kualitas dan kuantitas pelatihan kerja produktivitas sesuai kompetensi standart dan kebutuhan pasar agar tercipta tenaga kerja pemuda yang terampil, mandiri, dan professional; • Sektor pendidikan: Meningkatkan pelaksanaan program pendidikan yang diarahkan pada menumbuhkembangkan kejar usaha yang mampu meningkatkan ketrampilan dan kesejahteraan masyarakat melalui industri rumah tangga dan ketrampilan sejenis. Berdasarkan data dari Departemen tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Pekalongan bahwa dalam pengembangan perwilayahannya Pemerintah Daerah Kota Pekalongan akan tetap melestarikan kerajinan seni batik sebagai potensi unggulan daerah Kota Pekalongan dengan upaya suatu bimbingan, pembinaan dan pelatihan terhadap para pengangguran yang merupakan salah satu permasalahan di daerah ini sehingga diharapkan akan tercipta tenaga pemuda mandiri profesional yang mempunyai keterampilan dalam bidang perbatikan. Adapun untuk penempatan lokasi yang berhubungan dengan batik telah ditetapkan oleh Pemerintah Kota Pekalongan yaitu di kawasan sentra batik yang berada di BWK B Kota Pekalongan. (RDTRK Kota Pekalongan Tahun 2003-2012) Penerapan arsitektur bangunan di Kota Pekalongan sebagian besar menggunakan bentuk arsitektur setempat yaitu arsitektur tradisional jawa, tetapi dalam perkembangannya bangunan – bangunan yang berdiri sekarang menggunakan unsur-unsur modern dan tetap menerapkan bentuk arsitektur setempat. Mengacu pada hal diatas maka perlu merencanakan dan merancang sebuah bangunan “Batik Pekalongan Training Centre” yang representatif untuk skala Kota Pekalongan. Bangunan ini digunakan untuk menampung kegiatan pelatihan batik, yaitu pelatihan proses produksi, pelatihan pemasaran, dan pameran batik, serta fasilitas penunjang lainnya yang dapat meningkatkan keterampilan sumber daya manusia terutama pemuda–pemudi yang berkompeten bagi pelestarian dan perkembangan batik di Pekalongan. Untuk melestarikan budaya arsitektur setempat dan sesuai dengan perkembangan zaman, maka menggunakan arsitektur neo vernakular dengan konsep-konsep visual/citra bangunan sebagai bangunan fasilitas pendidikan. Sedangkan untuk penyelenggaraan dan pembiayaannya dilakukan oleh pemerintah daerah Kota Pekalongan. B. TUJUAN DAN SASARAN 1. Tujuan, yaitu menyusun suatu landasan program perencanaan dan perancangan arsitektur Batik Pekalongan Training Centre yang dapat mengoptimalkan potensi kerajinan batik di Kota Pekalongan. 2. Sasaran, yaitu mengumpulkan, mengungkapkan, merumuskan potensi dan masalah yang berkaitan dengan perencanaan dan perancangan Batik Pekalongan Training Centre sebagai sarana peningkatan keterampilan batik di Kota Pekalongan meliputi sarana dan prasarana, kondisi fisik dan kebijakan pemerintah sebagai landasan bagi proses perencanaan dan perancangan selanjutnya. C. MANFAAT 1. Secara Subyektif, yaitu untuk memenuhi persyaratan dalam menempuh Tugas Akhir sebagai ketentuan kelulusan Sarjana Strata 1 (S-1) di Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Diponegoro serta sebagai acuan selanjutnya dalam pembuatan rancangan grafis yang merupakan bagian dalam pembuatan Tugas Akhir. 2. Secara Obyektif, yaitu sebagai acuan dalam Perancangan Batik Pekalongan Training Centre. Diharapkan dapat bermanfaat sebagai tambahan pengetahuan bagi mahasiswa arsitektur maupun masyarakat umum yang membutuhkan. D. RUANG LINGKUP PEMBAHASAN 1. Ruang Lingkup Substansial Batik Pekalongan Training Center adalah suatu perencanaan dan perancangan bangunan dalam mewadahi aktifitas kegiatan pelatihan batik, yaitu pelatihan proses produksi batik, pelatihan pemasaran, dan pameran batik pekalongan yang layak dari segi kuantitas dan kualitas bangunan, dengan kategori bangunan massa banyak. 2. Ruang Lingkup Spasial Secara administratif daerah perencanaan akan diletakkan di kota Pekalongan yang memiliki potensi perkembangan batik. E. METODE PEMBAHASAN 1. Metode Pengumpulan Data, dibagi dua yaitu : a Pengumpulan data primer melalui observasi lapangan dan wawancara langsung mengenai masalah yang berkaitan dengan perencanaan dan perancangan sebuah Batik Pekalongan Training Centre dari berbagai sumber yang terkait. b Pengumpulan data sekunder melalui studi literature maupun referensi sebagai pedoman utama dalam perencanaan dan perancangan arsitektur yang berkaitan dengan pengertian, standard khusus (penentuan kebutuhan), dan persyaratan khusus (konsep bentuk, struktur dan sebagainya), serta kebijakan yang berlaku untuk mendapatkan antara lain macam fasilitas. 2. Metode Pembahasan, digunakan adalah deskriptif analisis yaitu mengumpulkan, mengidentifikasikan data, dan melakukan studi banding. a Studi banding, yaitu objek bangunan sejenis yang dapat dibandingkan fasilitasnya untuk pendekatan program ruang yang akan dirancang. b Analisa, yaitu menganalisa data, studi banding, dan melakukan suatu pendekatan yang menjadi dasar program dan konsep Program Perencanaan dan Perancangan. F. SISTEMATIKA PEMBAHASAN BAB I PENDAHULUAN Berisi latar belakang, tujuan dan sasaran, manfaat, ruang lingkup, metode, sistematika pembahasan dan alur pikir BAB II TINJAUAN PUSTAKA Membahas mengenai tinjauan batik mencakup pengertian, jenis, pembuatan batik, tinjauan training dan arsitektur neo vernakular BAB III TINJAUAN BATIK PEKALONGAN TRAINING CENTRE Membahas mengenai tinjauan kota Pekalongan serta perkembangan kerajinan batik dan ketenagakerjaan dengan potensi dan permasalahan di kota Pekalongan. BAB IV PENDEKATAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR Berisi pendekatan perencanaan dan perancangan arsitektur, berupa analisa objek. BAB V LANDASAN PROGRAM DAN PERENCANAAN ARSITEKTUR Berisi konsep program dasar perencanaan dan perancangan, program ruang, serta penentuan tapak sebagai hasil dari analisa pendekatan pada bab sebelumnya. G. ALUR PIKIR

Item Type:Thesis (Undergraduate)
Subjects:N Fine Arts > NA Architecture
Divisions:Faculty of Engineering > Department of Architecture Engineering
Faculty of Engineering > Department of Architecture Engineering
ID Code:1288
Deposited By:Admin Agus P arsitek
Deposited On:13 Oct 2009 12:57
Last Modified:28 Oct 2009 13:15

Repository Staff Only: item control page