ANALISIS EFEKTIVITAS KERJA PEGAWAI NEGERI SIPIL SEKRETARIAT DAERAH KOTA SEMARANG

BINTARUM, CAHYO (2002) ANALISIS EFEKTIVITAS KERJA PEGAWAI NEGERI SIPIL SEKRETARIAT DAERAH KOTA SEMARANG. Masters thesis, Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro.

[img]
Preview
PDF - Published Version
3143Kb

Abstract

The government policy on Region Autonomy has several implication on regional policies and activities. One among the complex problem faced by the Regencial and Municipal governments related to the region autonomy policy is that they have to enhance the capability of their civil servants, in order to effectively and efficiently achieve the goal of organizations' working effectivity. Semarang municipal government as a public organization has been taking various steps relatedto this goal, such as developing its organization,as well as increasing the number of its civil servants following technical functional and promotion trainings These are done in effort to achieve working affectivity of both its civil servants and organization, in line with quantitative and qualitative requirements. In spite of these efforts optimum working effectivity of the civil servants at semarang munikipalgovermanthas not been yet achieved. This is due to varios reasons such as the weak supervision, their unclear role in doing their jobs, and weak working motivation. This explanatory research used purposive random sampling tecnique with 450 civil servants as samples. Data was quatitatively analyzed. Hipotheses testing employed were Kendall's Tau cor•elation coefficient and Concordance Kendall's. Result of this show that there was a significant correlation between Self Supervision (Waskat) variable and the Civil Servant's Working Effectivity, with 0,528 ccorelation coefisien and 0,002 significance level. The relation between Clarity of Role variable and the Civil servant's Working Effectivity were at 0,552 corelation coefficient and 0,46 significance level. Meanwhile the relation between Working Spirit and the Civil Servant, Working Effectivity was at 0,634 correlation coefficient and 0,001 significance level. The influence of the three variables to Civil Servant, Working Effectivity was known through 64,9 % determinant coefficient, while the rest 35,1% was assumed influenced by other factors outside these three variable. Therefore it is recommended that : a. Civil Servants' Working Effectivity 1. Enhancing cooperation and coordination in job execution, both among individuals and among units 2. Creating Working standard for all employees to ease evaluation process and job execution b Self Supervision (Waskat) 1. Self —supervision is an effective method since in does not need a lot of fund. Therefore leaders of each unit should be encouraged to pay attention to this kind of supervision 2. Enhacing the employee's performance through applying self supervision as a continuous, comprehensive overall movement. c. Clarity of Civil Servants Role 1. A clear carceer development or pattern should be established based on healthy competition and the employees working effectivity 2. A clear job description of each employee should be made. Therefore responsibility and procedure of its implementation can well understood. d. Working Spirit The organization leaders should give strong motivation to their staff to enhance their working spirit, through : 1. Creating conducive working climate 2. Giving incenticve based on performance 3. AckonoWlwdging performance by giving rewards and praise 4. Creating good and harmonius relation between leader and staff, and among peers. 5. Position appointment based on working achievement. Kebijakan Pemerintah tentang Otonomi Daerah, ternyata mempunyai implikasi terhadap kehidupan daerah yang cukup kompleks, di antaranya masalah yang timbul di daerah Kabupaten atau Kota di antaranya keharusan daerah untuk segera melakukan upaya meningkatkan kemampuan pegawai dalam rangka mencapai efektivitas kerja organisasi secara efektif dan efisien. Pemerintah Kota Semarang sebagai lembaga publik telah banyak yang melakukan langkah persiapan diantaranya melakukan langkah Pengembangan Organisasi, meningkatkan kuantitas pegawai yang mengikuti Pendidikan Teknis, Fungsional, dan Penjenjangan dengan maksud untuk mewujutkan efektivitas keija pegawai maupun organisasi sesuai dengan syarat kuantitas maupun kualitas. Meskipun demikian kenyataan di lapangan menunjukkan efektivitas kerja pegawai Pemerintah Kota Semarang nampaknya belum dapat dicapai secara optimal. Belum optimalnya efektivitas kerja pegawai tersebut dikarenakan lemahnya fungsi Pengawasan melekat yang berjalan kurangnya kejelasan peranan pegawai dalam bidang tugasnya, dan tingkat semangat kerja pegawai yang rendah. Tipe penelitian yang penulis gunakan adalah eksplanatori (penjelasan). Adapun teknik pengambilan sampel adalah purposive random sampling, dengan jumlah sampel sebesar 450 pegawai. Analisis data dalam penelitian ini dilaksanakan dengan analisis kuantitatif. Uji hipotesis menggunakan uji statistik koefisien korelasi Kendall,s Tau dan Konkordansi Kendall,s. Berdasarkan hasil penelitian, terbukti bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara variabel Pengawasan melekat dengan Efektivitas kerja pegawai, koefisien korelasi sebesar 0,528 dengan tingkat signifilcansi 0,002 Sedangkan hubungan antara variabel Kejelasan peranan dengan Efektivitas kerja pegawai koefisien korelasi sebesar 0,552 dengan tingkat signifikansi 0,46 Dan hubungan antara Semangat ketja pegawai dengan Efektivitas kerja pegawai, koefisien korelasi sebesar 0,634 dengan tingkat signifikansi 0,001 Selanjutnya besarnya pengaruh ketiga variabel independent terhadap variabel Efektivitas kerja pegawai diketahui melalui koefisien determinasi sebesar 64,9% sedangkan kisaran 35,1% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain diluar model. Berdasarkan hasil penelitian di atas penulis memberikan rekomendasi : a. Efektivitas kerja Pegawai 1. Meningkatkan kerjasama dan koordinasi dalam pelaksanaan tugas baik di antara individu pegawai maupun di antara kelembagaan atau unit. 2. Guna memprmudah evaluasi dan mempercepat kelancaran tugas perlu dibuatkan standar kerja kepada semua pegawai. b. Pengawasan melekat 1. Bentuk pengawasan melekat merupakan pengawasan yang efisien karena tidak memerlukan dana yang besar. Oleh karena untuk mengintensifkan pengawasan melekat agar efektif perlunya masing-masing pimpinan unit/organisasi meningkatkan kesadaran pimpinan masing-masing unit/organisasi akan pentingnya pengawasan melekat. 2. Untuk meningkatkan kinerja pegawai secara efektif, hendaknya pengawasan melekat diterapkan sebagai sebuah gerakan yang kontinyu, tanpa terkecuali. dan bersifat menyeluruh. 3. Harus adanya dukungan politik dan komitmen para elit politik maupun birokrasi menuju pemerintahan yang bersih ( good Governance) c. Kejelasan Peranan Pegawai L Perlu dibangunan, sistern pengembangan karier atau pola karier pegawai secara jelas didasarkan pada kompetisi yang sehat serta efektivitas kerja pegawai. 2. Perlu dibuatkan uraian tugas masing-masing pegawai yang memdeljelas seberapa tingkat wewenang tanggung jawab dan prosedur pelaksanaannya d. Semangat Kerja Para pimpinan organisasi hendaknya dapat memberikan dorongan/motivasi kepada bawahan untuk meningkatkan semangat kerja dengan : 1. Menciptakan iklim keija yang konmdusif 2. Membeiikan rangsangan semangat kerja pegawai dengan insentif berdasarkan kinerja. 3. Pengakuan terhadap hasil kerja bawahan dengan penghargaan dan pujian 4. Membangun hubungan yang baik dan harmonis antra pimpinan dengan bawahan dan di antara sesama rekan Pengisian jabatan harus berdasarkan prestasi kerja

Item Type:Thesis (Masters)
Subjects:J Political Science > JS Local government Municipal government
Divisions:Postgraduate Program > Master Program in Public Administration
ID Code:12760
Deposited By:Mr UPT Perpus 5
Deposited On:01 Jun 2010 14:24
Last Modified:01 Jun 2010 14:24

Repository Staff Only: item control page