PROTEINURIA SEMIKWANTITATIF SEBAGAI PREDIKTOR PENURUNAN LAJU FILTRASI GLOMERULUS YANG DINILAI DENGAN PERUBAHAN CYSTATIN C DALAM 1 TAHUN PADA PENDERITA PENYAKIT GINJAL KRONIK

Irawati, Maria (2005) PROTEINURIA SEMIKWANTITATIF SEBAGAI PREDIKTOR PENURUNAN LAJU FILTRASI GLOMERULUS YANG DINILAI DENGAN PERUBAHAN CYSTATIN C DALAM 1 TAHUN PADA PENDERITA PENYAKIT GINJAL KRONIK. Masters thesis, Program Pascasarjana Universitas Diponegoro.

[img]
Preview
PDF - Published Version
1824Kb

Abstract

Renal disease with proteinuria is commonly followed by progressively decreasing glomerular filtration rate ( GFR). Quantitative Proteinuria could be used as a predictor of the progressivity of chronic kidney disease (CKD). Evaluation of GFR by Cystatin C was reported to be more accurate and superior compared to serum creatinin. Objective The study's objective was to know whether semiquantitative proteinuria could be used as a predictor of decreasing GFR in patients with CKD who visit Internal Medicine Outpatient Clinic in RSUP Dr Kariadi Semarang. Methods The study was conducted serially cross sectional to the patients with CKD who visit to Internal Medicine Clinic of RSUP Dr. Kariadi Semarang on 2003 . The initial evaluation ( Ti) was don on February 2003 and the follow up was done 1 year later ( T2). Semiquantitative proteinuria was assed with dipstick method. Cystatin C was assed with Particle enhanced nephelometric immunoassay method. Stastical analysis was done with linear regresion with level of significance < 0,05 Results There were 31 CKD patients with persistent proteinuria consists of 21 (67,7%) men and 10 (32,2%) women with average of age is 56,23 (SD 5,9) years. The most underlying renal disease found was Diabetic Nefrophaty in 25 (80,6%) patients and other renal disease in 6 (19,9%) patients. The result of the initial evaluation ( T1) were : the highest number of proteinuria +3 in 14 (45,2%) patients and the lowest number of proteinuria +2 in 3 (9,6%) patients. Proteinuria +4 was correlate with the highest level of Cystatin C Y1 with mean value 3.17 (SD 1.323) and the lowest level of Cystatin C TI found in the proteinuria +2 group with mean 1.733 (SD 0.202).The regression analysis revealed significant correlation between proteinuria 1 and Cystatin C Tl. The result of follow up were : The highest difference of Cystatin C T1 and Cystatin C T2 was found in group with proteinuria +3 (mean 0.7402 [SD 0.8973]), and the lowest in group proteinuria +2 (mean 0.1033 [8.083E — 02]). The regression analysis did not reveal significant correlation between proteinuria 1 and the difference of Cystatin C. Conclusion There was correlation between baseline proteinuria semiquantitave and baseline Cystatin C. Though proteinuria baseline is reliable in predicting Cystatin C Tl. Semiquantitative proteinuria could not be used as a predictor of progressivity of decreasing renal function. Latar Belakang . Pada penyakit ginjal dengan proteinuria, biasanya akan diikuti dengan penurunan laju filtrasi glomerulus (LFG) secara progresif Proteinuria kuantitatif dapat digunakan sebagai prediktor progresifitas penyakit ginjal kronik (PGK).Pengukuran LFG dengan Cystatin C dilaporkan lebih akurat dan lebih superior daripada kreatinin serum. Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah kadar proteinuria secara semikwantitatif dapat digunakan sebagai prediktor penurunan fungsi ginjal pada penderita PGK yang berobat di polildinik Penyakit Dalam RS Dr Kariadi Semarang. Metodologi Penelitian dilakukan secara serial Cross Sectional. Perneriksaan awal (T1) dilakukan padabulan Febmari 2003. Pemeriksaan kedua (follow up) dilakukan 1 tahun kemudian (T2) Pemeriksaan meliputi proteinuria semikuatitatif dengan metoda, dipstick, pemeriksaan LFG dengan penilaian kadar Cystatin C dengan metoda Particle enhanced nephelometric immunoassay. Analisa statistik dengan menggunakan Uji Regresi Linier dengan tingkat kemaknaan <0,05 Hasil Penelitian ini mendapatkan 31 pasien PGK dengan proteinuria menetap terdiri atas 21 Orang ( 67,7%) laki-laki dan 10 orang ( 32,2%) perempuan dengan rerata umur 56,23 SD 5,9) tahun.Penyakit ginjal yang mendasari terbanyak adalah nefropati diabetik sebanyak 25 orang ( 80,6%) dan penyakit ginjal lainnya 6 orang ( 19,4%).Pada pemeriksaan awal (T1) didapatkan Proteinuria tebanyak adalah +3 sebanyak 14 orang ( 45,2%) dan paling sedikit +2 sebanyak 3 orang (9,6%). Proteinuria +4 memiliki kadar Cystatin C tertinggi mean 3,17 (SD 1,323) dan kadar Cystatin C terendah terjadi pada kelompok proteinuria +2 mean 1,773 ( SD 0,202) Pada pemeriksaan follow up(T2) didapatkan perubahan Cystatin C yang terbesar terjadi pada kelompok Proteinuria +3 ( mean 0,7402 ( SD 0,8973) dan terkecil pada kelompok proteinuria +2 ( mean 0,1033 ( SD 8,083E-02). Terdapat korelasi yang bermakna antara proteinuria Ti terhadap cystatin C T1 dan Cystatin C T2. Tidak ada korelasi antara proteinuria T1 terhadap perubahan Cystatin C, dan tidak ada korelasi antara perubahan proteinuria terhadap perubahan Cystatin C. Kesimpulan Proteinuria semikwantitatif awal dapat dipakai sebagai prediktor nilai Cystatin C awal. Proteinuria semikwantitatif tidak dapat dipakai sebagai prediktor progresifitas penurunan fungsi ginjal

Item Type:Thesis (Masters)
Subjects:R Medicine > R Medicine (General)
Divisions:Postgraduate Program > Master Program in Biomedical Science
ID Code:12741
Deposited By:Mr UPT Perpus 1
Deposited On:01 Jun 2010 14:05
Last Modified:01 Jun 2010 14:05

Repository Staff Only: item control page