KARAKTERISTIK NUTRISI AMPAS TAHU YANG DIKERINGKAN SEBAGAI PAKAN DOMBA

WAHYUNI, SRI (2003) KARAKTERISTIK NUTRISI AMPAS TAHU YANG DIKERINGKAN SEBAGAI PAKAN DOMBA. Masters thesis, Program Pascasarjana Universitas Diponegoro.

[img]
Preview
PDF - Published Version
1975Kb

Abstract

This research was conducted to investigate the effect of drying method of tofu waste on protein degradability and nitrogen retention in sheep. The research was carried out in 2 experiments. In the first experiment, a ruminally fistulated Local rams, aged 12 months and weighed 26 kg, was used. A completely randomized design was used in this research with five treatments of drying tofu waste with three replications. The treatments were:methods of drying of tofu waste, i.e. Po= fresh (without drying); Pi = sun drying; P2 = oven drying at temperature of 60 °C; P3 = oven drying at temperature of 80 °C; P4 = oven drying at temperature of 100 °C. The variables being observed were protein degradability. In the second experiment twelve male Local ram (aged 10-12 months and weighed 17 f 2.23 kg), were allocated into a completely randomizsed design with four treatments of feeding and three replications. The treatments were: To = grass; Ti = grass + fresh tofu waste; T2 = grass + sun dried tofu waste; T3 = grass + 80 °C oven dried tofu waste. The observed variables were dry matter intake, nitrogen digestibility and nitrogen retention. The results of the first experiment showed that drying method influenced protein degradability. Treatment P3 resulted in the lowest protein degradability (26.31%), followed by P4 (27.05%); P2 (27.11%); P1 (28.33%); and Po (45.82%). The results of the second experiment showed that method of drying affected significantly (Pc0,05) dry matter (DM) and nitrogen intakes, DM digestibility, faecal and urinary nitrogen excretion and nitrogen retention. DM intake of To, T1, T2 and T3 were 375.98; 434.81; 506.33; 563.81 g/h, respectively. Nitrogen intake of To, T1, T2 and T3 were 7.07; 9.88; 11.34and 13.01 gid, respectively. DM digestibility of To, T1, T2 and T3 were 66.12; 67.77; 68.30 and 71.98 %, respectively. Faecal nitrogen excretion of To, Ti, T2 and T3 were 1.91; 2.49; 3.00 and 2.84 g/d, respectively. Urinary nitrogen excretion of To, T2 and T3 were 0.24, 0.26, 0,36 and 0.47 g/d, respectively. Nitrogen retention of To, I), T2 and T3 were 4.92; 7.12; 7.99 and 9.69 g/d, respectely. Drying method did not influence digestibility nitrogen, being 73.05; 74.81; 73.50 and 77.46 % for To, T1, T2 and T3, respectively. It can be concluded that drying by oven resulted in a higher protein retention than did drying by sunlight Tofu waste dried in the oven at temperature of 80°C had the lowest protein degradability. Drying of tofu waste increased DM and nitrogen intakes and nitrogen retention. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh cara pengeringan terhadap degradabilitas protein dan retensi nitrogen ampas tahu pada domba dengan pakan basal rumput lapangan. Penelitian terdiri atas 2 percobaan. Materi yang digunakan pada percobaan I adalah domba lokal jantan yang berfistula pada bagian rumen, berumur 12 bulan dengan bobot badan 26 kg. Rancangan percobaan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang diterapkan adalah Po = ampas tahu segar, P1 = pengeringan ampas tahu dengan sinar matahari, P2 = pengeringan ampas tahu dengan oven suhu 60 °C, P3 = pengeringan ampas tahu dengan oven suhu 80 °C, P4 = pengeringan ampas tahu dengan oven suhu 100 °C. Parameter yang diamati adalah degradabilitas protein dalam rumen. Materi pada percobaan II adalah 12 ekor domba lokal jantan berumur 10 - 12 bulan dengan bobot badan 17 f 2,23 kg. Rancangan percobaan menggunakan RAL dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang diterapkan meliputi To = rumput lapangan; Tl = rumput lapangan + ampas tahu segar, = rumput lapangan + ampas tahu kering sinar matahari, T3 = rumput lapangan + ampas tahu kering oven suhu 80°C. Parameter yang diamati arlalah konsumsi bahan kering, kecernaan nitrogen dan retensi nitrogen. Basil percobaan I menunjukkan bahwa cara pengeringan menurunkan (P<0,01) degradabilitas protein ampas tahu di dalam rumen. Degradabilitas terendah pada P3 (26,31 %), diikuti P4, P2, P1 dan Po berturut-turut 27,05; 27,11; 28,33 dan 45,82 %. Basil percobaan II menunjukkan bahwa cara pengeringan ampas tahu memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap konsumsi bahan kering (BK) dan nitrogen total, kecemaan BK total, ekskresi nitrogen feses dan urin serta retensi nitrogen. Konsumsi bahan kering total berturut-turut To, T1, Tz, dan T3 yaitu sebesar 434,81; 506.33: 563,81 dan 375,98 g/hari. Konsumsi nitrogen total berturut-turut To, T1, T2 dan T3 sebesar 7,07; 9,88; 11,36 dan 13,01 g/hari. Kecemaan BK total pada To, T1, T2 dan T3 sebesar 66,12; 67,77; 68,30 dan 71,98 %. Ekskresi nitrogen feses pada To, dan T3 yaitu 1,91; 2,49; 3,00 dan 2,84 g/hari. Ekskresi nitrogen urin pada To, T1, 1'2 dan T3 sebesar 0,24; 0,26; 0,36; dan 0,47 g/hari. Retensi nitrogen pada To, T1 ; Tz, dan T3 sebesar 4,92; 7,12; 7,99 dan 9,69 g/hari. Kecemaan nitrogen total tidak berbeda nyata yaitu 73,05; 74,81; 73,50 dan 77,46 % untuk To, Ti, T2 dan T? Simpulan dari penelitian ini adalah cara pengeringan dengan menggunakan oven menghasilkan ampas tahu kering lebih balk dibanding menggunakan sinar matahari. Cara pengeringan dengan menggunakan oven suhu 80 °C menurunkan degradabilitas protein sampai angka terendah. Penggunaan ampas tahu kering dalam pakan dapat meningkatkan konsumsi pakan dan retensi nitrogen. Kala kunci: ampas tahu, cara pengeringan, domba, degradabilitas protein, retensi nitrogen.

Item Type:Thesis (Masters)
Subjects:S Agriculture > SF Animal culture
Divisions:Postgraduate Program > Master Program in Animal Agriculture
ID Code:12524
Deposited By:Mr UPT Perpus 2
Deposited On:31 May 2010 15:18
Last Modified:31 May 2010 15:18

Repository Staff Only: item control page