PENGA_RUEt PEMBERIAN DIET DENGAN BERBAGAI KANDUNGAN SENG TERHADAP RESPONS IMUNITAS SELMER MENCIT Balb/C YANG MINFEKSI SALMONELLA TYPHIMURIUM (The effects of administration of various zinc concentration diets on cellular immune response of Salmonella typhimurium infected Balb/C mice)

WARDANI, HARTATI EKO (2005) PENGA_RUEt PEMBERIAN DIET DENGAN BERBAGAI KANDUNGAN SENG TERHADAP RESPONS IMUNITAS SELMER MENCIT Balb/C YANG MINFEKSI SALMONELLA TYPHIMURIUM (The effects of administration of various zinc concentration diets on cellular immune response of Salmonella typhimurium infected Balb/C mice). Masters thesis, Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro.

[img]
Preview
PDF - Published Version
2643Kb

Abstract

Background : Zinc is mostly used as adjuvant therapy of infectious disease because of its positive effects on cellular immune system. A lot of studies which proved the positive effects were conducted to zinc deficiency subjects. However, deleterious effects caused by high dose zinc had been found by several studies. These effects were either directly or through its interaction with other minerals, like iron and copper. However, the effect of different zinc concemtration diet on cellular immune response during typhoid fever has not been carried out. Objective : The aim of this study was to find out the effect of administration of various zinc concentration diets on cellular immune response of S. 00imurium infected Balb/C mice. Method : This research used post-test only control design. Eighty-eight male Balb/C mice, were divided into 2 groups : 40 mice for first group (measuring lymphocyte proliferation response and macrophage phagocytosis capacity study) and 48 mice for second group (survival study). Each group was then also divided randomly into four subgroups based on the zinc contained in their diet; 30 ppm as control, 60 ppm, 120 ppm, and 240 ppm. The diet was given ad libitum for 10 days (14group) and 28 days (211`1 group). The mice were infected with 2,5 x 104 (114 group) and 2,5 X 106 (21n group) S. typhimurium intraperitoneally on the 8'h day treatment. The mice on 1st group were killed on the 11th day for the examination of their lymphocyte proliferation response in spleen and peritoneal macrophage for phagocytosis capacity. The number of survived mice on 2m group was observed from the first day to 21th day post infection. Result : It is demonstrated in this study that there is no significant difference on the spleen weight and relative amount of lymphoblast between mice given high zinc diet and normal zinc diet (r9,303 and r3,231 respectively). The mice given high zinc diet is significantly lower compared to those given normal zinc diet (p21,000). There is no significant difference on the survival study between mice given high zinc diet and normal zinc diet (p=0,19). Conclusion : Administration of high zinc concentration diet to S ryphimurium infected Balb/C mice does not enhance their cellular immune response. Latm. belakang : Seng banyak dipakai sebagai terapi penunjang penyakit infeksi karena punya efek positif terhadap sistem imunitas sehiler. Penelitian yang membuktikan efek positif seng tersebut banyak dilakukan pada subjek yang mengalami defisiensi seng. Beberapa penelitian membuktikan bahwa pemberian seng dalam dosis tinggi mempunyai efek yang merugikan terhadap sistem imunitas seluler, baik secara langsung maupun melalui interaksinya dengan mineral-mineral lain, seperti besi dan tembaga. Pengaruh pemberian diet dengan konsentrasi seng yang berbeda terhadap respons imunitas sehiler pada penyakit demarn tifoid belum diketahui. Tujuan : Penelitian iril bertujuan untuk mengetahui pengamh pemberian diet dengan berbagai kandungan seng terhadap respons imunitas seluler mencit Balb/C yang diinfeksi S. Ophimurium. Metode : Penelitian ini menggunakan rancangan post-test only control group design. Subjek penelitian, yaitu 88 mencit Balb/C jantan, dibagi menjadi dua kelompok yaitu : grim 1 (studi respon proliferasi limfosit dan kemampuan fagositosis makrofag) dan (studi kelangsungan hidup), 40 ekor untuk grup I dan 48 ekor untuk grup IL Tiap grup kemudian dibagi lagi secara acak menjadi empat subgnm, sesuai dengan kandungan seng pada diet, yaitu 30 ppm sebagai kelompok kontrol, 60 ppm, 120 ppm, dan 240 ppm. Diet diberikan secara ad libitum selama 10 hari (grup I) dan 28 hari (grup II). Mencit diinfeksi dengan 2,5 x 104 (grup 1) dan 2,5 x 106 (grup 11)S. typhimurium intraperitoneal pada hari ke-8. Mencit penelitian I dibunuh paAa hari Ice-11 untuk diperiksa respons proliferasi limfosit di organ lien, dan kemampuan fagositosis makrofag peritoneal. Jumlah mencit penelitian II yang mati post infeksi diamati dari hari ke-1 sampai hari ke-21 post infeksi. Hasa : Basil studi ini menunjukkan bahwa berat lien mencit yang diberi diet tinggi seng tidak berbeda bermakna dengan yang diberi diet seng normal (p = 0,303), jumlah relatif limfoblas mencit yang diberi diet tinggi seng tidak berbeda bermakna dengan yang diberi diet seng normal (p41,231), kemampuan fagositosis makrofag mencit yang diberi diet tinggi seng lebih rendah secara bermakna dibandingkan dengan yang diberi diet seng normal (p=0,000). Kelangsungan hidup niencit yang diberi diet tinggi seng tidak berbeda bennakna dengan yang diberi diet seng normal (p =0,19). Kesimpulan : Pemberian diet dengan kandungan seng tinggi pada ment Balb/C yang diinfeksi S. ophimuriurn tidak meningkatkan respons imunitas selulemya.

Item Type:Thesis (Masters)
Subjects:R Medicine > R Medicine (General)
Divisions:Postgraduate Program > Master Program in Biomedical Science
ID Code:12517
Deposited By:Mr UPT Perpus 1
Deposited On:31 May 2010 15:07
Last Modified:31 May 2010 15:07

Repository Staff Only: item control page