Karakteristik Sumber Penularan pada Penderita TB Paru Anak yang Berobat di Poliklinik Paru Anak RS Dr. Kariadi Semarang

MURTI LAILA , RETNO (2004) Karakteristik Sumber Penularan pada Penderita TB Paru Anak yang Berobat di Poliklinik Paru Anak RS Dr. Kariadi Semarang. Masters thesis, Program Pendidikan Pasca sarjana Universitas Diponegoro.

[img]
Preview
PDF - Published Version
2056Kb

Abstract

Background : Tuberculosis (TB) is still a main problem in Indonesia. Primary TB in children can be fatal or lead to disability. There are 130 new cases with positive acid-fastbaccili (AFB) in every 100.000 Indonesian. Children are usually infected from adult TB. The increasing incidence of adults TB lead to increasing TB infection and disease in children. Environment, especially bad circulation and behaviour, is associated with transmission. There are a few studies of TB contact and transmission, but community based study of active contact tracing and characteristics of the environment associated with transmission is seldom done. Objective : to trace contact of children with TB and understand the environmental characteristic which associate with TB transmission. Method : Analitical epidemiology study with cross- sectional approach. Location : In the environment of the children's house, in Semarang. Subject : Adults suspected as TB contact of children with TB from September 2003 —February 2004. Data analysis : Data were analysed by uni and bivariate analysis using SPSS 11.5. Results : Eighty TB suspect adults were enrolled. There are 63 (78,8%) TB contact in rural and urban area of the child's environment in Semarang. Male and less than 50 years old predominates. There was no significant difference between in-house or not in-house family contact between rural and urban area (p=1,000). But in the urban more frequent transmission was in the child's home (p=0,340). In urban, the contacts had a better perception but had no better attitude toward treatment, although did not differ statistically. Behaviour was worse in rural contacts (p= 0,214). Lower socioeconomic level contacts had better knowledge than did the moderate to high level (p=0,783), better concern (p=0,856) but had no better attitude for treatment (p=0,482). There was no difference between contact's education. Bad behaviour seldom occurred in those who have enough knowledge of TB, although not significant statistically among level of education and knowledge (p=0,352). In urban area, the house of contact have lower sleeping density (p=0,282), lower ventilation square (p=0,306), and higher temperature (p=0,683). There were no differences between the light intensity of daylight and air humidity. Conclusion : Active TB contact tracing in the environment yield 78,8% case. There was no significant difference in house or not in house family contact between rural and urban area. There were differences of contact's characteristics such as knowledge about TB, perception about TB, attitude for treatment and behaviour associated with TB transmission between contact in rural and urban area and between lower and moderate to higher socioeconomic level, although not differ statistically. Latar Belakang : Tuberkulosis (TB) masih merupakan masalah utama kesehatan masyarakat di Indonesia. TB Primer anak dapat menjadi sebab kematian dan kecacatan. Setiap 100.000 penduduk Indonesia terdapat 130 penderita barn TB paru BTA positif. Anak biasanya tertular dari sumber infeksi yang umumnya TB dewasa Dengan meningkatnya kejadian TB dewasa make jurnlah anak terinfeksi TB dan berpenyakit TB juga meningkat. Faktor lingkungan, khususnya sirkulasi dan kebiasaan yang buruk menunjang transmisi. Penelitian tentang sumber penularan (SP) TB telah banyak dilakukan, tetapi penelitian tentang penelusuran SP secara aktif pada penderita TB paru anak beserta karakteristik lingkungannya dengan populasi yang berasal dari masyarakat (community based) belum banyak dilakukan. Tujuan Penelitian : Mengetahui adanya sumber penularan serta unsur karakteristik lingkungan yang menunjang terjadinya infeksi TB pada anak. Rancangan Penelitian : Merupakan penelitian epidemiologi analitik (observasional) yang dilakukan secara belah lintang. Lokasi Penelitian : Wilayah kota Semarang, di lingkungan tempat tinggal penderita TB anak. Subyek Penelitian : Orang dewasa yang diduga sebagai kontak dari penderita TB paru anak yang berobat di Poliklinik Paru RS Dr. Kariadi Semarang bulan September 2003 sampai dengan Februari 2004 Analisis Data : Data diolah dan dianalisis baik uni dan bivariat dengan menggunakan program SPSS 11. 5 Basil : Diteliti 80 subyek dari lingkungan penderita TB Paru anak. Didapatkan 63 (78,8%) SP yang berada di area desa maupun kota wilayah kota Semarang, laki-laki lebih banyak daripada perempuan, umur terbanyak kurang dari 50 tahun. Di desa maupun di kota tidak terdapat perbeclaan sebaran antara SP dari keluarga atau bukan keluarga (p=1,000), tetapi terdapat perbedaan tempat kontak : di kota lebih sering di rumah anak, meski secara statistik tidak berbeda bermakna (p=0,340). SP di kota lebih banyak yang memiliki pengetahuan cukup tentang TB (p=0,114), persepsi lebih menyadari akan sakitnya (p=0,979), tetapi belum mencari pengobatan (p=0,129), meskipun secara statistik tidak berbeda bermakana. Kebiasaan kurang baik yang menunjang transmisi TB lebih banyak dilakukan oleh SP di desa, namun dilakukan juga oleh sebagian besar SP di kota, meski secara statistik tidak berbeda bermakna (p=0,214). SP dart kalangan sosial- ekonomi rendah lebih banyak yang mempunyai pengetahuan cukup (p=0,783), SP dari tingkat sosial- ekonomi rendah maupun menengah- atas lebih banyak yang menyadari akan sakitnya (p= 0,856), sikap belum berobat lebih banyak pada kalangan sosial- ekonomi rendah, dengan (p=0,482). Kebiasaan kurang baik lebih jarang dilakukan kalangan menengah- atas (p=0,226). Kebiasaan yang kurang baik yang menunjang transmisi TB secara statistik tidak berbeda bermakna menurut tingkat pendidikan maupun pengetahuan SP tentang TB. Di kota, rumah tempat kontak lebih banyak yang mempunyai kepadatan hunian kurang padat (p= 0,282), luas ventilasi lebih banyak yang !wrong (p=0,306) dan suhu udara lebih tinggi (p=0,683) meskipun semua secara statistik tidak berbeda bermakna. Intensitas cahaya dan kelembaban udara di kota dan di desa tidak jauh berbeda.Kesimpulan : Dengan penelusuran SP secara aktif dapat ditemukan 78,8% SP di rumah maupun di lingkungan tempat tinggal anak dan tidak berbeda antara SP keluarga dan bukan keluarga. Terdapat perbedaan karakteristik SP meliputi pengetahuan tentang TB, persepsi akan sakitnya, sikap terhadap pengobatan, dan kebiasaan SP menurut lokasi tempat tinggal dan tingkat sosial ekonomi keluarga, namun secara statistik tidak berbeda bermakna. Di kota lebih banyak tempat kontak dengan lingkungan kurang baik khususnya menyangkut luas ventilasi dan suhu udara

Item Type:Thesis (Masters)
Subjects:R Medicine > R Medicine (General)
Divisions:Postgraduate Program > Master Program in Biomedical Science
ID Code:12368
Deposited By:Mr UPT Perpus 1
Deposited On:30 May 2010 16:00
Last Modified:30 May 2010 16:00

Repository Staff Only: item control page