TEKTONIKA DALAM SEMIOTIK ARSITEKTUR Studi Karya YB Mangunwijaya

YAMANTO, HERSY (2003) TEKTONIKA DALAM SEMIOTIK ARSITEKTUR Studi Karya YB Mangunwijaya. Masters thesis, Program Pendidikan Pasca sarjana Universitas Diponegoro.

[img]
Preview
PDF - Published Version
6Mb

Abstract

Architecture is not only as a building but also the artistry that had a beautification and could be as symbols that have meaning. As the artistry and building architecture tended to become expensive and consequently could not be enjoyed by the poor people. YB. Mangunwijaya (YBM) was a few of the architect who siding to the poor people. In line with his attitude in the design of architecture, then tectonic was one of the strong aspects from the work of YB Mangunwijaya. Through the nature materials like the stone and wood could speak through the form, weight, texture that afterwards put together with the others material held a dialogue consistently. Independently this material was defeated and released from the factory provisions that forced it to forms and certain measurement. The sense of tectonic developed in line with the development of architecture. This term wasn't only used again as static in a building but also made up the basic activity in culture. In this stage then tectonic was not only needed in order to how are a building did not collapse but also was treated as a text that had the symbol. This thematic try to lift in a research in the academic framework. Tectonic as a theme of the study and works of architecture by YB Mangunwijaya as a background of the study was analysed through the system of the analysis of semiotics. In the science treasury, the study through semiotics made up the interesting study considering this attendance of knowledge could be said and give the framework of the analysis that more comprehensive. Semiotics, "science about the signs" was some "saints that imperialistic", the meaning could be applied in various life fields that are different especially in culture. In this thesis, semiotics are not only able to compare about sign, marker and the sign that are based on the view of Saucier or the icon term, index, and symbol of Charles Sander Pierce but also how are the signs to work, elucidation of denotation and the connotation as well as various systems of the work of the semiotics analysis was used. And the more important is in the context whatever the study of semiotics apparently was begun with signs but also the process of the sending and acceptance by user. This research is opening research that all the limitations it is hoped could open the way for the other architecture research in using of the semiotics analysis in each theme of architecture that was researched. Arsitektur tidak sekedar sebagai bangunan melainkan juga karya seni yang mempunyai keindahan dan dapat pula berupa simbol-simbol yang mempunyai makna. Sebagai sebuah karya seni dan bangunan arsitektur cenderung menjadi mahal dan karenanya tidak bisa dinikmati oleh rakyat miskin. YB. Mangunwijaya (YBM) adalah sedikit dari arsitek yang berpihak pada rakyat miskin. Sejalan dengan sikapnya dalam desain arsitektur, maka penggunaan bahan dan tenaga setempat mendapat perhatian khusus dari YB Mangunwijaya. Desain arsitektur baginya adalah desain yang mengalir sejalan dengan pola intuitif yang digunakannya dalam mendesain. Pola intuitif ini dapat melahirkan desain yang kreatif dan tidak tergantung dari bahan-bahan pabrikan seperti yang diwujudkannyaidalam tektonika.. Melalui tektonika maka bahan-bahan alam seperti bath dan kayu dapat berbicara lewat bentuk, bobot, tekstur yang kemudian bersama dengan bahan lainnya berdialog dengan selaras. Dengan bebas bahan tersebut ditundukkan dan dilepaskan dari ketentuan pabrik yang telah memaksanya berbentuk dan berukuran tertentu. Pengertian tektonika berkembang sejalan dengan perkembangan arsitektur. Istilah ini tidak lagi digunakan sebagai suatu statika dalam sebuah bangunan tetapi juga merupakan kegiatan mendasar dalam kebudayaan Pada tahap ini maka tektonika tidak hanya berguna agar sebuah bangunan tidak roboh melainkan juga dapat berguna sebagai teks yang mempunyai simbol. Tematik ini coba diangkat dalam suatu penelitian. Tektonika sebagai suatu tema kajian dan karya-karya arsitektur YB Mangunwijaya sebagai latar kajian dianalisa melalui sistem analisa semiotika. Dalam khasanah ilmu pengetahuan, kajian melalui semiotika merupakan kajian yang menarik mengingat hadirnya ilmu ini dapat dikatakan mampu memberikan kerangka analisis yang lebih komprehensif. Semiotika, "ilmu tentang tanda-tanda" adalah suatu "sains yang imperialistik", artinya dapat diterapkan dalam berbagai bidang kehidupan yang berbeda terutama dalam bidang kebudayaan Dalam tesis ini, semiotika tidak hanya dapat dibedakan antara tanda, penanda dan petcmda yang didasarkan pada pandangan Saussure atau istilah ikon, indeks dan simbol dari Charles Sanders Pierce melainkan juga bagaimana tanda-tanda itu bekerja, pemaknaan denotasi dan konotasi serta berbagai sistem kerja analisa semiotika yang digunakan. Dan yang lebih penting adalah dalam konteks apapun kajian semiotika sebaiknya dimulai dengan Sintaksis, Semantik dan kemudian Pragmatik yang mengelaborasi lebih jauh sehingga semiotika tidak hanya dikenal sebagai ilmu tentang tanda saja tetapi juga mengkaji bagaimana tanda-tanda itu berfungsi, bagaimana hubungannya dengan tanda-tanda lain dan juga proses pengiriman dan penerimaan oleh penggunanya. Penelitian ini merupakan penelitian pembuka yang dengan segala keterbatasannya diharapkan mampu membuka jalan bagi penelitian arsitektur lainnya dalam menggunakan analisa semiotika pada setiap tema arsitektur yang diteliti.

Item Type:Thesis (Masters)
Subjects:N Fine Arts > NA Architecture
Divisions:Postgraduate Program > Master Program in Architecture
ID Code:12300
Deposited By:Mr UPT Perpus 1
Deposited On:30 May 2010 12:13
Last Modified:30 May 2010 12:13

Repository Staff Only: item control page