PERBANDINGAN ELEMEN-ELEMEN ROTA SURAKARTA DAN YOGYAKARTA DTTINJAU DART KONSEP KOTA KERATON (The Royal Twin Cities)

Wibawa, Bayu Me (2002) PERBANDINGAN ELEMEN-ELEMEN ROTA SURAKARTA DAN YOGYAKARTA DTTINJAU DART KONSEP KOTA KERATON (The Royal Twin Cities). Masters thesis, Program Pendidikan Pasca sarjana Universitas Diponegoro.

[img]
Preview
PDF - Published Version
9Mb

Abstract

Surakarta and Yogyakarta are old cities that growth from the royal as a central poverty and government in the past. They have a similarity aspect that call as "The Royal Twin Cities". The royal/palace as embryo of Surakarta and Yogyakarta cities has important function to the city development. After lost of poverty since Indonesian independent, many elements had changed and differed. There are indicating that the Yogyakarta element's development was better than Surakarta. Why we will compare (differentiate><similarity, changing><still) between of them and why about function and typology element of cities? They are problem of this research. The first purpose of research is analytic the change and still of elements from the old and modem period. The second purpose is analytic the different and similarity of elements from two royal cities. The third purpose is analytic impact of the different and changed element for urban quality (morphology). The fourth purpose is analytic typology from they similarity and still of their elements. This methodological research is the qualitative rationalistic with two phase of analytic. The first analytic is empiric test and then fallow with meaning analytic. The second analytic is a tick description with reference to the concept or theory element of cities (modem/traditional). In this research, elements are result of combine modern (Hamid Shin/any) and traditional elements. The first result of empiric analytic is describing about the number of changing elements in Surakarta is more than Yogyakarta, this showed the development of elements in Yogyakarta was more accept with the royal city concepts. The changing elements is relating with economic aspect (like market or shopping center, circulation, etc.). Element with related to the royal city concept (like royal building, mosque, north and south square, etc.) were not change. The second empiric analytic is describing about the elements condition in the old period have a lot of similarity, but in modern period have more differently than similarity. The similarity elements are relating with royal city, but the different elements are relating with economic aspect like pedestrian, shopping center, circulation, parking, etc. The result of first meaning analytic (morphology analytic) is describing about the important different elements were impact to urban quality: place of shopping center (traditional or modem), path and direct of circulate, place of high-rise building, and existing of monument. The result of typology analytic is shaping a typology of the royal cities that arrange by some element. That first element is the royal complex building was surrounded with wall (Benteng) with function as center of orientation and axis (from south to north). The second element is two square (south and north), great mosque and the royal building (palace) was arrange the structure of Java's traditional cities. The third element is the second royal was place on north side of main royal and face to south. The fourth element is the main traditional market and Belanda's bastion was place at north side of • main royal and east side of axis. The five element is the ex office government of Belanda was place on north side of royal and west side of axis. Kota Surakarta dan Yogyakarta merupakan dua kota lama yang tumbuh dad keberadaan keraton sebagai pusat pemerintahan dan kekuasaan masa lalu. Keduanya memiliki berbagai aspek mirip yang disebut "The Royal Twin Cities". Keraton sebagai titik awal pertumbuhan (embrio) Kota Surakarta dan Yogyakarta, memiliki fungsi sentral pada perkembangan kota. Setelah hilangnya kekuasaan raja sejak kemerdekaan NKRI, banyak elemen-elemen kota yang berubah dan berbeda. Terdapat indikasi bahwa perkembangan elemen-elemen di Yogyakarta adalah lebih yang balk. Bagaimana perbandingan (perbedaan>< persamaan, perubahan><ketetapan) kedua kota keraton, serta peran dan tipologinya elemen kotanya merupakan permasalahan penelitian yang hams dijawab melalui penetapan tujuan penelitiannya untuk menganalisis perubahan dan ketetapan elemen-elemen kota dart masa lama ke modem pada kedua kota, menganalisis perbedaan dan persamaan antara kedua kota, menganalisis peran elemen-elemen kota dalam mempengaruhi kualitas kota (morfologi) serta analisis tipologi dad kedua kota keraton (tipologi). Metodologi penelitian ini adalah kualitatif rasionalistik, sehingga dilakukan dua tahap analisis, yaitu uji empirik yang dilanjutkan uji pemaknaan melalui deskripsi yang mendalam berdasar konsep dan teori elemen-elemen kota keraton dan modem. Semen penelitian merupakan perpaduan dad elemen perancangan kota modern (Hamid Shirvany) dengan elemen-elemen kota tradisional Jawa. Hasil uji empirik pertama menggambarkan besamya perubahan elemenelemen di Surakarta lebih banyak dibandingkan di Yogyakarta, hal ini menunjukkan bahwa perubahan di Yogyakarta lebih akomodatif terhadap konsepkonsep kota keraton. Elemen yang banyak berubah adalah berkait dengan aspek ekonomis seperti perdagangan, pola sirkulasi dll. Elemen-elemen yang berkaitan dengan kota keraton seperti bangunan keraton, masjid, alun-alun dll. cenderung tidak berubah. Hasil uji empirik kedua menggambarkan kondisi elemen-elemen kota pada masa lama masih sangat banyak memilki persamaan, sedangkan setelah kemerdekaan menunjukkan adanya perbedaan yang lebih besar dad persamaannya. Persamaannya merupakan elemen-elemen yang berkait dengan kota keraton seperti letak keraton, masjid, alun-alun, pasar induk dll. sedangkan perbedaan banyak ditemukan pada elemen-elemen yang berkaitan dengan aspek ekonomis, seperti pedestrian, pasar, sirkulasi dan parkir kendaraan, dll. Dart analisis uji pemaknaan dapat digambarkan bahwa perbedaan elemenelemen kota yang terpenting dalam mempengaruhi perbedaan kualitas kedua kota Keraton adalah mengenai letak pasar tradisional non induk, letak PKL, pola dan arah sirkulasi, ketinggian bangunan serta keberadaan tugu/monumen. Dad anlisis tipologi elemen-elemen kota keraton tersusun atas keraton yang dikelilingi tembok keliling merupakan pusat orientasi dengan sistem sumbu utara dan selatan, peran alun-alun utara keraton dan masjid bersama-sama membentuk struktur pusat kota tradisional Jawa, bangunan keraton kedua berada di sebelah utara keraton keraton menghadap ke arah selatan, pasar induk dan benteng Belanda berada di utara keraton dan sisi timur sumbu keraton, bangunan penguasa Belanda berada di sebelah utara keraton pada sisi barat sumbu keraton, letak bekas kantor Penguasa Belanda yang berada di sisi utara keraton dan di sebelah barat sumbu .keraton.

Item Type:Thesis (Masters)
Subjects:N Fine Arts > NA Architecture
Divisions:Postgraduate Program > Master Program in Architecture
ID Code:12139
Deposited By:Mr UPT Perpus 1
Deposited On:28 May 2010 12:20
Last Modified:28 May 2010 12:20

Repository Staff Only: item control page