KAJIAN KEBERADAAN FUNGSI RUANG TERBUKA DI KAWASAN SIMPANGLIMA SEMARANG TERHADAP CBD DI PUSAT KOTA

Rif'an, Yulanda (2002) KAJIAN KEBERADAAN FUNGSI RUANG TERBUKA DI KAWASAN SIMPANGLIMA SEMARANG TERHADAP CBD DI PUSAT KOTA. Masters thesis, Program Pendidikan Pasca sarjana Universitas Diponegoro.

[img]
Preview
PDF - Published Version
5Mb

Abstract

One of the ironic problems in growth up city that open space and street of city not seen as a spatial object that is urgent to be discussed. Amount of land in the city use as an open spaces. Street and open space uesd 30 96•- 50 % of a whole city. In fact, Manhattan city one of the busies city in the world use 44 % of the cities land as an open space. (Catanese, 1986 : 107) This research aim to Study On The Open Space Funtion Of Simpang Lima To The Central Bussiness District On The Central Spot Of The City. The research method using the Post Positivistic Rasionalistic which combaining quantitative and qualitative approach. The quantitative approach that we use are Regression Analysis and One Way Analysis of Variance using minitab Program release 11.0. And the resulut shows that pedestrian ways has the dominan impact that became a square magnet, and it also affect to Simpang Lima from Pasive Open Space to Active Open Spade, than in second position followed by square, park and street. By using Pearson Product Moment, the result shows that the higher of social economic interaction to the Central Bussiness District on the spot of the city more effective and better open space which have Meaningful-Responsive and Democratic criteria. But this condition have. a negative impact to the quality of the city. The changing of open space function in Simpang Lima from Pasive Open Space to Active Open Space makes social disinfluance. And the social disinfluance can affect to community perseption of the Semarang City. At the end, we sugesting the partisipation of the community of Semarang cities and the Governoor of Semarang City for making gestalt approach to solve our problem by making restruction for informal seller in pedestrian ways and multi dimensional parking building in Simpang Lima. All of the approach explained detaitly in Semarang Social-Economic Urban Guidline and Semarang Ecological Urban Guidline. Permasalahan yang dihadapi kota modern umumnya adalah bahwa jalan dan ruang terbuka kota seringkati tidak ditihat sebagai objek spasial yang perlu digarap, bahkan cenderung diabaikan. Sejumlah besar bangunan kota merupakan ruang-ruang publik. Daerah milik jalan atau lahan diperuntukkan bagi pergerakan umum tainnya mencapai 30 % - 50 % dari seturuh Was lahan di kebanyakan kota; bahkan Pulau Manhattan yang merupakan kawasan terbangun paling padat di dunia, penggunaan untuk jalan dan trotoar mencapai 44 % dari seturuh luas tahan (Catanese, 1986 : 107). Menurut data dari BPS, Dinas Pertamanan DTK Semarang tahun 2001 bahwa 32 % Was kota Semarang berupi jalan dan ruang-ruang terbuka. Dan sekarang ini terdapat paling tidak ada 3 (tiga) nodes yang berkembang pesat di kota Semarang, yaitu : Kawasan perdagangan Johar, Kawasan Peterongan dan Kawasan Simpang Lima yang perkembangan awat peruntukannya sebagai pusat pemerintahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji Keberadaan Fungsi Ruang Terbuka terhadap Central Bussiness District di Kawasan Simpang Lima Semarang, dengan menggunakan Metodotogi Penetitian Post Positivisiik Rasionalistik dengan menggabungkan analisa kualitatif dan kuantitatif. Anatisa kuantitatif yang dilakukan melatui Analisa Regresi - Program MINITAB release 11.0 menunjukkan bahwa dalam indikator Pertumbuhan Kawasan, pedestrian memiliki peran utama sebagai magnet kawasan yang kemudian mengakibatkan berubahnya Simpang Lima dari ruang terbuka pasif menjadi ruang terbuka aktif, disusut oleh lapangan, taman dan jalan. Dengan menggunakan Pearson Product Moment menunjukkan bahwa semakin tinggi interaksi sosial - ekonomi pada CBD di pusat kota maka keberadaan fungsi ruang terbuka termanfaatkan secara optimal dan memenuhi kriteria Meaningful, Responsive dan Democratic. Tetapi dua kondisi tersebut berdampak negatif terhadap kualitas kawasan perkotaan. Berkembangnya Simpang Lima menjadi ruang terbuka aktif yang memenuhi kriteria ruang terbuka yang baik, ternyata memberikan kecenderungan adanya penyimpangan sosiat. Penyimpangan sosiat ini dikhawatirkan dapat mengubah persepsi masyarakat terhadap citra pusat kota Semarang. Oteh karena itu peneliti merekomendasikan adanya perbaikan menyeturuh terhadap kualitas fungsi ruang-ruang terbuka yang ada di kawasan Simpang Lima, khususnya penataan PKL di sepanjang pedestrian dan pembangunan gedung parkir terpadu di kawasan Simpang Lima. Wujud perbaikan menyeturuh itu dapat dituangkan dalam bentuk Semarang Social-economic Urban Guidline yang diimbangi dengan Semarang Ecological Urban Guidline supaya tercipta kualitas kawasan perkotaan yang lebih baik.

Item Type:Thesis (Masters)
Subjects:N Fine Arts > NA Architecture
Divisions:Postgraduate Program > Master Program in Architecture
ID Code:12137
Deposited By:Mr UPT Perpus 1
Deposited On:28 May 2010 11:54
Last Modified:28 May 2010 11:54

Repository Staff Only: item control page