PERBANDINGAN HASIL POSITIP UJI BCG DAN UJI TUBERKULIN SEBAGAI UJI TAPIS PADA ANAK DENGAN TUBERKULOSIS

WILDAN, MOHAMMAD (2000) PERBANDINGAN HASIL POSITIP UJI BCG DAN UJI TUBERKULIN SEBAGAI UJI TAPIS PADA ANAK DENGAN TUBERKULOSIS. Masters thesis, Program Pendidikan Pasca sarjana Universitas Diponegoro.

[img]
Preview
PDF - Published Version
1898Kb

Abstract

Background: Until now tuberculosis (TB) is still a world health problem, especially in the third world countries like Indonesia. World health Organization (WHO) reported in 1995 there were 3 millions people died caused by '113. Prevalence of lung TB with positive acid fast bacili (AFB) in Indonesia is still high, about 0.3%, it means that there were 3 persons suffering of TB every 1000 people. It's needed to improve the quality of lung TB disease elimination program. But, the problem that some of the cases of tuberculosis with positive AFB finding is low. May be it caused that the technique of AFB examination is dificult, especially in infant and young children. Tuberculin Test have been used widely for a long periode, but it reaction less sensitive (to be negative) for a moment time in anergy state. Recently, some centre uses BCG for diagnosing TB, but further research is still needed (to prove more high proportion of positive result and superiority of BCG Test). Method: This research uses Clinical Disagreement to measure kappa and Chi Square (Fisher's Exact Test) to mesure p. The sample size were 100 respondents, boys and girls beetwen 4 months to 12 years old, who visited to General Pediatric Clinic and Pulmonology Clinic Dr Kariadi Hospital. To diagnosing TB, modified 1994 Starke Criteria is used. Tuberculin and BCG Test was tested at the same time and evaluated after 72 hours (for tuberculin and BCG) and at 7th day (for BCG). The proportion of these tests were compared by cross tabulation. The respondents that suffering of tuberculosis were treated with 2HRZ 4HR regiment and reevaluated clinical, laboratoric and radiologic findings. Result: The proportion of positive result of BCG Test is higher (97%) than positive result of Tuberculin Test (24%), but not significant. Proportion of negative result of Tuberculin Test is higher (78%) than BCG Test (3.3%), but not significant. Distribution of positive result of BCG Test has the same proportion in groups of age and nutrition state. Conclusion: The proportion of positive result of BCG Test is higher than Tuberculin Test, but not significant. Key Words: BCG, Tuberculin, screening Latar Belakang: Hingga saat ini penyakit tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah kesehatan utama dunia, terutama di negara yang sedang berkembang seperti Indonesia. Menurut WHO (World Health Organization) pada tahun 1995 terdapat kurang lebih 3 juta orang meninggal akibat penyakit TB. Prevalensi penyakit TB pare dengan Basil Tahan Asam (BTA) positif di Indonesia masih culcup tinggi, yaitu 0,3%, yang berarti terdapat 3 penderita penyakit TB pan yang menular pada setiap 1.000 penduduk. Perlu dilakukan peningkatan mum program Pemberantasan Penyakit Tuberkulosis Pant (P2TB-Paru). Namun kendala yang dihadapi antara lain adalah masih rendahnya penemuan kasus TB dengan BTA (+), Hal ini disebabkan antara lain oleh sulitnya melakukan pemeriksaan BTA di lapangan, terutama pada anak. Uji Tuberkulin (Mantoux) telah digunakan secara leas untuk mengetahui adanya' infeksi TB sejak lebih dari enam dekade. Namun demikian, Uji Tuberkulin memiliki kelemahan, yaitu akan menjadi negatif untuk sementara pada penderita TB dengan anergi Akhir-akhir ini beberapa seiner menggunakan BCG untuk membantu menegakkan diagnosis tuberkulosis, tetapi sejauh mana proporsi basil positip (dibanding Uji Tuberkulin) dan kelebihannya masih diperlukan penelitian lebih lanjut. Metodologi Penelitian: Penelitian ini menggunakan metode Clinical Disagreement dengan mengukur nilai kappa dan Chi Square (Fisher's Exact test) untuk mengulcur nilai p. Dalam penelitian ini digunakan sampel sebanyak 100 responden laki-laki dan perempuan, berumur 4 bulan sampai 12 tahun yang berkunjung di Poliklinik Anak Umum dan Pulmonologi RSUP Dr. Kariadi. Untuk menegakkan diagnosis digunakan }Criteria Starke 1994 yang telah dimodifikasi Tuberkulin dan BCG disuntikkan pada walctu yang bersatnaan dan dinilai setelah 72 jam (untuk tuberkulin dan BCG) dan pada hail ke-7 (BCG). Kemudian proporsi basil positip kedua uji tersebut dibandingkan dengan tabulasi silang. Penderita yang dinyatakan menderita tuberkulosis diobati dengan rejimen 2HRZ 4HR dan dievaluasi Wang baik keadaan ldinik, laboratorik tnaupun radiologik. Basil Penelitian: Didapatkan proporsi basil positip Uji BCG lebih besar (97%) dibanding hasil positip Uji Tuberkulin (24%), tetapi tidak bertna1cna secara statistik. Pada responden dengan malnutrisi proporsi basil Uji Tuberkulin negatip (78%) lebih besar dibanding Uji BCG (3,3%) tetapi tidak bennakna secara statistik. Sebaran basil positip Uji BCG dalam proporsi yang sama pada seluruh kelompok umur dan status gizi. Kesimpulan: Proporsi basil positip Uji BCG lebih besar dibanding hasil positip Uji Tuberkulin tetapi tidak bermakna secara statistik. Kata Kunci: BCG, Tuberkulin, uji tapis

Item Type:Thesis (Masters)
Subjects:R Medicine > R Medicine (General)
Divisions:Postgraduate Program > Doctor Program in Biomedical Science
ID Code:12114
Deposited By:Mr UPT Perpus 1
Deposited On:28 May 2010 10:12
Last Modified:28 May 2010 10:12

Repository Staff Only: item control page