EKSISTENSI RUMAH BETAWI KETURUNAN Kajian Kebudayaan dan Iklim Tropis Lembab pada Rumah Betawi Keturunan di Kecamatan Gunung Sindur Kabupaten Bogor

KANIA, TJANDRA (2000) EKSISTENSI RUMAH BETAWI KETURUNAN Kajian Kebudayaan dan Iklim Tropis Lembab pada Rumah Betawi Keturunan di Kecamatan Gunung Sindur Kabupaten Bogor. Masters thesis, Program Pendidikan Pasca sarjana Universitas Diponegoro.

[img]
Preview
PDF - Published Version
5Mb

Abstract

The country of Indonesia concisting 13.000 islands large and small, has variety culture riches which include tradition, arts, and forms of houses. These culture riches are threatened to disappear, moreover by the coming of globalisation era which affected in getting information easily. Traditional houses which are one of Indonesian Culture inheritances also face possibility of being disappear, and are becoming more and more unfamous. If we do not learn and document at this stage, then our next generations will not be able to be proud of their ancestor's culture. Betawi traditional houses which are one of Indonesian style traditional houses, right now are just waiting for their disappearance. This is proved by the lack of original Betawi houses. Condet which are assigned by the government as culture preserve has not been able to protect Betawi houses from disappearance. This makes local government to organise in making Betawi culture village. In the district of Gunung Sindur, the researcher unvieled a number of Betawi houses which are more simple (leak of decoration variety) been inhabited by ChineseBetawian. This raises a question "Why Local-Betawian-inhabited Betawi traditional houses disappear, meanwhile Chinese-Betawian-inhabited Betawi traditional houses are still there, and how far those type of houses adaptable to humid tropical climate?" This very idea urges the researcher to do some research on the reasons behind the Chinese-Betawian-inhabited Betawi houses to be able to persist. The results of this research can be used by Jakarta local governmentin determining the policy for establishing Betawi culture village so not to face any possibility of being disappear in the future. The researcher was carried out by rationalistic qualitative method to discover the cause of the existence of Chinese-Betawian-inhabited Betawi houses, and quantitative reasearch method for searching their adaptation against climate. The data obtained from qualitative reseach were analysed by comparative-descriptive methode, data obtained from quantitative research werw analysed by statistical test using two tail test, and computed in accordance to "Building Physics" principle. The result yield from qualitative analysis gives Chinese-Betawian-inhabited Betawi houses are still existing because the culture of Chinese-Betawian has been changing very slowly. As a proof to this ; they still pray to the soul of their aqncestors, the inheritance of Chinese-Betawian still assign clearly the heirs receiving house, and they still keep a moderate way of life. Futher, the houses — at present — are still required yield additional income,have durable materials, and adaptable of humid tropical climate. By this finding, expected that in establishing houses in the future, by using nature resources without destroying them (i.e. using renewable materials only), tropical building technology employed by Betawi houses is reapplied, design are not focusing only to know building materials like teak-wood, but also Jackfruit-wood which has been proved as being maintainable, proof against termites and climate, and to inform the government about the cause of the disappearace of Local-Betawian-inhabited Betawi houses, in order to make it able to determine correct policy in establishing Betawi culture village to persist. Negara Indonesia yang terdiri dari 13.000 pulau besar dan kecil, memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam yang terdiri dari adat istiadat, kesenian, dan bentuk rumah. Kekayaan budaya ini sekarang diancam kepunahan, apalagi dengan tibanya era globalisasi yang berdampak tersebamya informasi dengan sangat mudah dan cepat. Rumah-rumah tradisional yang merupakan salah satu peninggalan budaya saat ini juga dibayang-bayangi kepunahan dan semakin ditinggalkan masyarakatnya, sehingga bila kita tidak segera mempelajari dan mendokumentasikan, maka anak cucu kita tak lagi akan bisa ikut berbangga atas hasil kebudayaan milik nenek moyang kita. Rumah tradisional Betawi yang merupakan salah satu bentuk rumah tradisional, saat ini sudah berada ditepi jurang kepunahan. Hal ini terbukti dengan sulitnya ditemui rumah Betawi yang masih orisinil. Condet yang sudah ditetapkan pemerintah sebagai daerah suaka budayapun tak dapat melindungi rumah Betawi dari kepunahan, sehingga pemerintah daerah saat ini berusaha untuk membuat desa budaya Betawi. Di kecamatan Gunung Sindur, peneliti menemukan sejumlah rumah Betawi yang lebih sederhana (miskin ragam hias), namun rumah-rumah itu ternyata dihuni oleh orangorang keturunan, sehingga muncul dalam pikiran "Mengapa rumah tradisional Betawi asli musnah, sementara rumah tradisional Betawi keturunan masih dapat dijumpai, dan apakah rumah tersebut adaptif terhadap iklim tropis lembab?". Pemikiran inilah yang kemudian mendorong peneliti untuk melakukan penelitian tentang penyebab mengapa rumah Betawi keturunan mampu bertahan agar hasilnya kaiak dapat menjadi masukan bagi pemerintah daerah Jakarta dalam menentukan langkah untuk membangun desa Budaya Betawi agar tidak mengalami kemusnahan seperti daerah suaka budayanya. Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif rasionalistik untuk menyelidiki penyebab bertahannya rumah Betawi keturunan dan metode penelitian kuantitatif untuk mencari adaptifitasnya terhadap iklim. Data yang diperoleh dad penelitian kualitatif diolah dengan cara deskriptif komparatif, sedangkan data dari penelitian kuantitatif dianalisa dengan menggunakan uji statistik dengah test dua ekor (two tail test), dan perhitungan menurut kaidah fisika bangunan. Hashl yang diperoleh dari analisa kualitatif berupa beberapa temuan, yaitu : rumah Betawi keturunan tetap eksis karena kebudayaan etnis Betawi keturunan lambat berubah. Ditandai dengan masih dilakukannya sembayang terhadap arwah leluhur, sistem pembagian warisan pada etnis Betawi keturunan menunjuk dengan jelas siapa pewaris rumah dan mereka tetap mempertahankan sikap hidup sederhana. Selain itu pada saat ini rumah-rumah tersebut masih diperlukan keberadaannya, menjadi sumber penghasilan tambahan, memiliki material yang awet, dan adaptif terhadap iklim tropis lembab. Dengan hasil temuan tersebut diharapkan agar dalam membangun perumahan sebaiknya kita dapat memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia sebaik-baiknya tanpa merusaknya (menggunakan material yang renewable), dapat memanfaatkan teknologi bangunan tropis yang digunakan pada rumah Betawi untuk diterapkan kembali dalam bangunan dimasa mendatang, tidak hanya terpaku pada bahan bangunan terutama kayu yang sudah kita kenal saja, melainkan juga dapat digunakan kayu nangka yang sudah terbukti mudah dirawat, tahan rayap dan iklim, serta memberi masukkan kepada pemerintah tentang penyebab musnahnya rumah Betawi asli sehingga pemerintah dapat menentukan langkah yang tepat agar Perkampungan Budaya Betawi yang akan dibangun tidak mudah musnah. pT7 PDS TA: ITNItilki

Item Type:Thesis (Masters)
Subjects:N Fine Arts > NA Architecture
Divisions:Postgraduate Program > Master Program in Architecture
ID Code:12111
Deposited By:Mr UPT Perpus 1
Deposited On:28 May 2010 10:02
Last Modified:28 May 2010 10:02

Repository Staff Only: item control page