PENGARUH BENTUKAN ARSITEKTUR DAN IKLIM TERHADAP KENYAMANAN THERMAL RUMAH TINGGAL SUKU BAJO DI WILAYAH PESISIR BAJOE KABUPATEN BONE SULAWESI SELATAN

JUHANA, JUHANA (2000) PENGARUH BENTUKAN ARSITEKTUR DAN IKLIM TERHADAP KENYAMANAN THERMAL RUMAH TINGGAL SUKU BAJO DI WILAYAH PESISIR BAJOE KABUPATEN BONE SULAWESI SELATAN. Masters thesis, Program Pendidikan Pasca sarjana Universitas Diponegoro.

[img]
Preview
PDF - Published Version
7Mb

Abstract

Republic of Indonesia is an archipelago country dominated by 62% of sea waters from its total area. Sea waters is a relatively dominant with a wide range of waters settlement patterns. One is Kampong Bajo at seashore area of Bajo'e Bone regency of South Sullawesi. Kampong Baja is settled by one ethnic group namely Bajo. Bajo is well known as sailor ethnic group in Indonesia whi has developed a marine culture for centuries and known as "boat men" as they know the Alloping culture, a guidelines or rule to build a boat. This culture is developed into Appabolang after being settled in a settlement and grouped into houses. The Appabolang culture includes factors that Bajo considered to build their houses. The factors are religion/belief, social relationship, means of livelihood, knowledge, live pattern and natural environment. The intresting phnomenon here is the capability of Bajo houses that is based on Appabolang culture to oxilLt in facing natural environment at the hard Bajo'e seashore area. Act-wally there are mixed tide prevailing and semidiurdinal nbamely two times tide and two times down. This condition is a challenge for the houses which is directly corresponding to the sea to stay steady and adjust to tide water and emerged humidity. The hard wind blewn from thesea or land change quickly the air temperature to be so cold. Rainfall occurred along the year so that its hard to determine rainy season or dry season. Therefore they should be ready to await the rain. It is the problem and attention should be paid. Thats why the tenacity of Bajo houses based on Appabolang culture is to handle climate effect so that achievement of thermal convenience on the building is interesting and need to be studied. This research aim to find out the shape of architecture and weather impact toward thermal convenience of Bajo houses. Six Bajo houses are used as sample by sampling stratified method. To gain more representatif sampling, they are selected based on the laying down of patterns and building orientation. There are two samples at houses group in the sea wwaters and two sample of houses group in the land sea waters, and two sample of houses group in the shore. Each sample represents north-south and east-west. This research is causal-comparative one using observation methods namely interview, recording and measurement techniquies. Interview techniques is used to tap Appabolang culture which is a factor of architecture form of Bajo houses. Recording and measurement is used to bug data of physical building and convenience index. The interview result data ara descriptively and ethnographicly analyzed. Data of created form from Appabolang culture result is qualitatively analyzed to find out the effect toward thermal convenience inside the room. Recording and measurement data are analyzed by sun diagram, physchometric diagram, effective temperature diagram and olgyay convenience diagram (Lippsmeier, 1984). Convenience standart (Santoso, 1984) and (Mom & Wiesebrom, 1940) is used to find out thermal convinience in the building. The reaserch result of six sample houses proves that the existence of Bajo houses based on Appabolang culture can resppond the entirely effect of environment climate. But, to achieve thermal convenience standarized, about 0,5-3,5 M/sec additional wind is stiil needed. Principally, the building of stage house is a wise decision when standing out at seashore with hard natural condition. Republik Indonesia adalah sebuah negara kepulauan yan didominasi oleh perairan laut yang luasnya mencapai 62% dari luas wilayah Indonesia. Perairan laut merupakan ruang yang relatif dominan dengan berbagai pola permukiman perairan. Dad sekian banyak perairan di Indonesia, salah satu diantaranya adalah permukiman Kampung Baja di wilayah pesisir Bajo'e Kabupaten Bone Sulawesi Selatan. Perrnuldman Kampung Bajo dihuni oleh suatu etnik yaitu suku Baja. Suku Bajo terkenal sebagai suku bangsa pelaut di Indonesia yang telah mengembangkan suatu kebudayaan maritim sejak beberapa abad lamanya, sehingga dikenal dengan sebutan "manusia perahu", karena tinggal dan menetap di atas perahu. Sebagai manusia perahu, mereka me{ngenal budaya Alloping yaitu pedoman atau aturan membangun perahu. Budaya AIloping inilah yang kemudian berkembang menjadi budaya Appabolang, setelah mereka menetap dalam suatu hunian dan mengelompok menjadi suatu permukiman. Budaya Appabolang itu sendiri adalah faktor-faktor yang menjadi pertimbangan Suku Bajo untuk mendirikan/membangun rumah tinggalnya. Faktor-faktor tersebut adalah agama/kepercayaan, hubungan sosial, mata pencaharian, pengetahuan, pola hidup, dan lingkungan alam. Yang menjadi fenomena menarik disini adalah kemampuan rumah tinggal suku Bajo yang tercipta dari hasil budaya Appabolang, untuk tetap bertahan dan eksis dalam menghadapi lingkungan alam di wilayah pesisir Bajo'e yang sangat keras. Dapat digambarkan bahwa di perairan Bajo'e dikenal dengan jenis pasang surut ganda campuran (mixed tide, prevailing semidiurnal) yaitu 2 kali pasang dan 2 kali surut dalam sehari. Keadaan ini menjadi tantangan bagi rumah tinggal yang ber-hubungan langsung dengan laut untuk tetap bertahan dan menyesuaikan did dengan air pasang dan kelembaban yang ditimbulkannya. Kencangnya angin yang bertiup dari taut maupun dari darat dapat merubah suhu udara menjadi sangat dingin. Curah hujan terjadi sepanjang tahun sehingga sulit menentukan musim hujan atau musim kemarau. Untuk itu harus selalu siap menanti turunnya hujan. Hal-hal seperti inilah yang banyak mendatangkan masalah dan sangat penting untuk diperhatikan. Untuk itu, ketangguhan rumah tinggal Suku Bajo untuk mengatasi pengaruh iklim sehingga kenyamanan thermal dalam bangunannya dapat tercapai, dirasa perlu dan menarik untuk diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh.bentukan arsitektur dan iklim terhadap kenyamanan thermal rumah tinggal Suku Bajo. Jumlah sampel yang digunakan untuk mewakili populasi rumah tinggal Suku Bajo adalah enam rumah, dengan menggunakan metode stratified sampling. Untuk mendapatkan sampel yang lebih representatif, pemilihan sampel didasarkan pada pola perletakan dan orientasi bangunan. Yaitu dua sampel pada kelompok hunian diperairan laut, dan dua sampel pada kelompok hunian di perairan darat dan perairan laut, dan dua sampel pada kelompok hunian di darat. Masing-masing sampel mewakili orientasi utara-selatan dan timur-barat. Penelitian ini merupakan penelitian kausal-komparatif dengan menggunakan metode observasi, yaitu dengan teknik wawancara, perekaman, dan teknik pengukuran. Teknik wawancara digunakan untuk penyadapan data budaya Appabolang yang menjadi faktor terciptanya bentuk arsitektur rumah tinggal Suku Bajo. Teknik perekaman dan pengukuran digunakan untuk penyadapan data fisik bangunan dan data indeks kenyamanan. Data hasil wawancara diuraikan secara diskriptif etnografik. Data bentukan yang tercipta dari hasil budaya Appabolang dianalisis secara kualitatif untuk mengetahui pengaruhnya terhadap kenyamanan thermal yang terjadi didalam ruang. Data hasil perekaman dan pengukuran dianalisis dengan menggunakan diagram matahari, diagram psikometrik, diagram temperatur efektif, dan diagram kenyamanan Olgyay, dalam Lippsmeier (1994). Untuk mengetahui kenyamanan thermal dalam bangunan, juga digunakan standar kenyamanan dari penelitian Santoso (1989) dan penelitan Mom &Wiesebrom (1940). Dad penelitian yang telah dilakukan pada enam rumah sampel yang diteliti, ternyata terbukti bahwa keberadaan rumah tinggal Suku Bajo berdasarkan budaya Appabolang telah dapat merespon pengaruh iklim lingkungannya. Namun untuk mencapai nilai kenyamanan thermalryang distandarkan masih membutuhkan tambahan angin sekitar 0,5 - 3,5m/det. Pada prinsipnya pembangunan rumah panggung merupakan suatu keputusan yang cukup bijaksana, Apalagi bila berdiri di wilayah pantai dengan kondisi alam yang sangat keras.

Item Type:Thesis (Masters)
Subjects:N Fine Arts > NA Architecture
Divisions:Postgraduate Program > Master Program in Architecture
ID Code:12110
Deposited By:Mr UPT Perpus 1
Deposited On:28 May 2010 09:58
Last Modified:28 May 2010 09:58

Repository Staff Only: item control page