PENGARUH EKTRAK Pimpinella alpin a Molk. (purwoceng) DAN AKAR Eurycoma longifolia Jack. (pasak bumi) TERHADAP PENINGKATAN KADAR TESTOSTERON, LH DAN FSH SERTA PERBEDAAN PENINGKATANNYA PADA TIKUS JANTAN SPRAGUE DAWLEY

TAUFIQQURRACHMAN, TAUFIQQURRACHMAN (1999) PENGARUH EKTRAK Pimpinella alpin a Molk. (purwoceng) DAN AKAR Eurycoma longifolia Jack. (pasak bumi) TERHADAP PENINGKATAN KADAR TESTOSTERON, LH DAN FSH SERTA PERBEDAAN PENINGKATANNYA PADA TIKUS JANTAN SPRAGUE DAWLEY. Masters thesis, Program Pendidikan Pasca sarjana Universitas Diponegoro.

[img]
Preview
PDF - Published Version
2007Kb

Abstract

Crude extract of Pimpinella alpina or local name called as Purwoceng(Pur) and Eurycoma longifolia or Pasak bumi(Pas) had believed could enhance or restore male sexual potencies. In order to provide scientific consent, specific experimental research had proposed using post-test only control group design and conducted on 1a to 25th of June, 1999. In this study 90 days male Sprague Davvley rats were used as animal models. 60 male rats (obtained from PPOM Department of Ministry of Health, Jakarta) were randomly divided into 6 groups (10 rats each) and treated with Purwoceng, Pasaic burnt, mixture extracts (99% methanol extract using Soxhlet methods), and water. In this protocol, Group 0 (K-0) receive 2 ml of water as a control subject; Group 1(K-1) receive 1 ml of Pur extract (2.5% w/v or 25 mg/m1); Group 2 (K-2) receive 2 ml of Pur extract (50 mg); Group 3 (K-3) receive 1 ml of Pas extract (2.5% w/v or 25 mg/ml); Group 4 (K-4) receive 2 ml of Pas extract (50 mg); and Group 5 (K-5) receive mixture of 1 ml Pur and 1 ml Pas extract, respectively. All rats were individually caged, leaves to adapt environmentally for one week and then treated orally using Acufirm (blunt type needle) 23 gauge every 07.00 AM, for 7 days at Unit Pengembangan Hewan Percobaan (UPHP), Gajah Mada University. Variables assessed are LH, FSH, and Testosterone concentration, gathered from blood samples obtained by sinus orbitalis aspiration at the end of treatment. LH and FSH concentrations were measured using Immuno Radiometric Assay (IRMA), while Testosterone concentration was measured using Radio Immune Assay (MA) techniques at Laboratory Gangguan Akibat Kurang Iodium (GAKI), Faculty of Medicine,Diponegoro University. All data were collected, 1 rats (K-3) died due to choke and discarded , while other were analyzed using independent t test (after normal distribution of data were resolved) and Pearson correlation test. The result of this study showed that compared to those of control subject, 2 ml Pur significantly induced increasing LH (P=0.009), not significantly increase FSH (P=0.235), and weekly and seems almost significantly induced testosterone concentration (P=0.051). On the other hand, 2 ml Pas extract more significantly induce increasing FSH (P=0.009), LH (P=0.04), as well as testosterone concentration (P=0.031), and the mixture of 1 ml Pur and 1 ml Pas extract did not induce increasing LH (P=0.202), but slightly increase FSH (P=0.050) and strongly increase Testosterone concentration (P=0.006). 1 ml Pas also significantly induce increasing Testosterone concentration (P=0.035), but not either FSH (P=0.059) nor LH (P=0.071). Other groups were not significantly induced increasing concentration of variables measured. On the induction of increasing LH, there is no significant differences between 2 ml Pur extract and 2 ml Pas extract (P=0.113), while on increasing FSH, 2 ml Pas extract is significantly more powerful and significantly produce higher FSH compared to those of 2 ml Pier extract (P=0.012). Over the Testosterone, the highest concentration was obtained from group receive mixture of 1 ml Fur and 1 ml Pas. However, the ability to increasing testosterone of the above mixture, 2 ml Pas, and 2 ml Fur extract were comparable, slightly stronger compared of those group receive 1 ml of Pair and 1 ml of Pas, but still have no significant differences. It could be concluded that both Par and Pas extract induce LH and testosterone concentration, however only Pas could induce FSHwhile mixture of both will induce higher testosterone concentration possibly by way of compound interaction to produce direct conversion on peripheral tissue. The possible mechanism involved and suggestion for further research were discussed as well. Masyarakat, khususnya laki-laki sering menggunakan purwoceng (pur) dan pasak bumi (pas) untuk meningkatkan potensi seksualnya. Sampai sekarang belum diketahui bagaiman mekanisme tanaman tersebut dapat meningkatkan potensi seksual. Agar penggunaan "obat" ini menjadi lebih rasional maka perlu ada penelitian yang mendalam tentang mekanisme kerja ekstrak purwoceng dan pasak bumi terhadap peningkatan kadar hormon testosteron. Peningkatan hormon testosteron secara teoritis dapat melalui stimulasi LH dan FSH lebih dahulu dan/atau melalui konversi sterol menjadi testosteron di jaringan perifer. Rancangan penelitian yang digunakan adalah post-test only control group design, Sedangkan analisis statistiknya menggunakan pooled t test dan untuk menghitung korelasi antar perlakuan digunakan koefisien korelasi Pearson. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 60 ekor tikus jantan Sprague Dawley berumur 90 hari dan berat badan 300 gram yang diperoleh dari Pusat Pengawasan Obat dan Makanan (PPOM) Departemen Kesehatan Republik Indonesia Jakarta. Sampel dibagi menjadi 6 kelompok secara random masing-masing 10 ekor tikus 6 kelompok tersebut adalah kelompok yang diberi aquades 2 ml sebagai kontrol (K-0), kelompok yang diberi ekstrak purwoceng 1 ml (K-1), kelompok yang diberi ekstrak purwoceng 2m1 (K-2), kelompok yang diberi ekstrak pasak bumi 1 ml (K-3), kelompok yang diberi ekstrak pasak bumi 2 ml (K-4), dan kelompok yang diberi campuran ekstrak purwoceng dengan pasak bumi masing-masing 1 ml (K-5). Pemberian perlakuan dilakukan selama 7 hari pada setiap jam 7.00 pagi dengan acufirm(blunt type needle). Ekstraksi purwoceng dan pasak bumi menggunakan pelarut metanol 99%. Penelitian ini dimulai tanggal 1 Juni dan berakhir tanggal 25 Juni 1999 di Unit Pengembangan hewan Percobaan (UPHP) UGM Yogyakarta. Pada akhir penelitian dilakukan pengambilan darah dengan tabung mikro hematokrit yang ditusukkan pada sinus orbitalis. Kemudian kadar LH, FSH, dan testosteron diperiksa. Testosteron diperiksa dengan metode Radio Immuno Assay (RIA), sedangkan LH dan FSH diperiksa dengan metode Immuno Radiometric Assay (IRMA) di laboratorium gangguan akibat kurang 'odium (GAKI) FK Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang. Kedua metode ini dipilih karena mempunyai spesifitas dan sensitivitas cukup tinggi. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa ekstrak purwoceng 2m1 (K-2) mempunyai efek terhadap peningkatan kadar LH secara bermakna dibanding kontrol (K-0) dengan P=0.009, ekstrak purwoceng lml (K-1) dengan P=0.023, dan campuran ekstrak purwoceng dengan pasak bumi (K-5) dengan P=0.011. Dibanding pasak bumi 2m1 (K-4) peningkatannya tidak bermakna (P=0.113). Ekstrak purwoceng 2m1 (K-2) tidak meningkatkan kadar FSH secara bermakna dibanding kontrol (P=0.235). Terhadap peningkatan kadar testosteron ekstrak purwoceng 2m1 (K-2) meningkat hampir bermakna dibanding kontrol (P=0.051). Ekstrak pasak bumi 2m1 (K-4) meningkatkan kadar LH, FSH, dan testosteron secara bermakna dibanding kontrol (P=0.04 P=0.009, P=0.031). Ekstrak pasak bumi 2m1 (K-4), meningkatkan kadar FSH secara bermakna dibanding ekstrak purwoceng 1ml (K-1) dengan P=0.014, dan purwoceng 2m1 (K-2) dengan P=0.012. Ekstrak campuran purwoceng dengan pasak bumi (K-5) meningkatkan kadar LH tidak bermakna dibanding kontrol (P=0.202), meningkatkan kadar FSH secara bermakna dibanding kontrol (P=0.050), dan meningkatkan kadar testosteron secarabermakna dibanding kontrol (P-0.006). Peningkatan kadar testosteron diantara perlakuan sendiri tidak bermakna (P>0.05). Korelasi LH dengan testosteron pada seluruh kelompok perlakuan tidak signifikan (P> 0.05). Korelasi LH dengan testosteron pada K-0, K-2, dan K-4 menunjukkan korelasi negatif, sedangkan K-1, K-3, K-5 menunjukkan korelasi positif. Dengan persamaan garis Y = -7.461x + 2.0343 dapat dihitung selisih antara kadar testosteron yang diharapkan dengan kadar testosteron basil penelitian pada K-1 — K-5. Dengan demikian dapat diprakirakan besarnya kadar testosteron basil konversi. Simpulan dad penelitian ini adalah, ekstrak purwoceng 2m1 dan ekstrak pasak bumi 2m1 mempunyai efek paling baik terhadap peningkatan kadar LH. Ekstrak purwoceng lml, ekstrak akar pasak bumi lml, dan campuran ekstrak purwoceng dengan pasak bumi, efek peningkatannya terhadap kadar LH rendah. Ekstrak pasak bumi 2m1, mempunyai efek terbaik terhadap peningkatan kadar FSH, kemudian disusul campuran ekstrak purwoceng dengan pasak bumi. Ekstrak purwoceng I ml dan 2m1 efektifitas terhadap peningkatan kadar FSH rendah. Campuran ekstrak purwoceng dengan pasak bumi mempunyai efek terbaik terhadap peningkatan kadar testosteron. Kemudian diikuti ekstrak pasak bumi 2m1, pasak bumi 1 ml, purwoceng 2m1, dan purwoceng lml. Peningkatan kadar testosteron ini berasal dari pengaruh rangsangan LH dan hasil konversi sterol di jaringan perifer.

Item Type:Thesis (Masters)
Subjects:R Medicine > R Medicine (General)
Divisions:Postgraduate Program > Doctor Program in Biomedical Science
ID Code:12105
Deposited By:Mr UPT Perpus 1
Deposited On:28 May 2010 09:22
Last Modified:28 May 2010 09:22

Repository Staff Only: item control page