ANALISIS MODEL SETING RUANG KOMUNAL SEBAGAI SARANA KEGIATAN INTERAKSI SOSIAL PENGHUNI RUMAH SUSUN Studi Kasus Rumah Susun Pekunden dan Sombo

ANWAR, ANWAR (1998) ANALISIS MODEL SETING RUANG KOMUNAL SEBAGAI SARANA KEGIATAN INTERAKSI SOSIAL PENGHUNI RUMAH SUSUN Studi Kasus Rumah Susun Pekunden dan Sombo. Masters thesis, Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro.

[img]
Preview
PDF - Published Version
4Mb

Abstract

Simple flats are built with the purpose to overcome the slums and the density of buildings in the city areas. The simple flats as one form of housing should fulfill social and cultural requirements so that the family members of the flats can carry out social and cultural interac tions. These social and cultural interactions usually will be influenced by the different way of life as well as the different social status of economy either qualitatively or quantitatively also influ ence the need of communal space. The purpose of study is to establish a setting model of communal space that can accommo date the social interactions of the inhabitants in the relation to they social status of economy. The scope of study is limited to social inter actions of inhabitants conducted in either the planned or unplanned communal space out side of the inhabited house unit. The objects of the study of to places, namely, the simple flats of Pekunden Semarang and the ones of Sombo Surabaya. These two simple flats have both similarities and differences. The simi larities are'the both of them are the cities improvement projects and the inhabitants of these two flats are the old inhabitants living in the houses before improved. Whereas the defferences are put on the physical setting of buildings. The data of study were collected by conduc ting observations and interviews. The result of the observations and interviews were transcribedto be classified and mapped to gain general pic ture about the real questions to be answered. To validated the obtained data the cross-tables were made. The result of the study show that the pattern of the social interactions, in relation with the social status, can be defferentiated into two form, namely , the formal activities such as members meetings , social togetherness (arisan), and "moslem meetings" (pengajian), and the other one called informal activities such as having relaxed chattings and playing together. These case , theres a tendency that the activi ties are carried individually or in groups like those of adults, teenagers, or children. On the basis of the economic levels, the result of the study show that the inhabitants of the simple flats can be defferentiated into three classes. The first in the upper class that get income > Rp.200.000,-, the second is the middle class which gets income between Rp.150.000,- up to Rp.200.000,-, and the third class is the lower one having income of Rp.150.000,-. The different levels of economic incomes resulted in certain ways how they carried out the social interactions as well as the intencity of conduc ting the social activities . In relation to the media or fasili ties used to conduct the social interactions for the formal activities , the inhabitants wanted to posses closed space separa ted from the inhabited unit. Whereas for the informal activities, they wanted an open commu nal space. Concerning with the seats, they preferred to the unpermanent or movable ones with a reason that they are more practical and multifunctioned. The choise of the seats were also influenced by the different levels ofeconomy. The higher the economy level of the inhabitants was the more qualified the seat they used . Dealing with the setting models of commu nal space, based on the findings of 16 spacial cases used to carry out the social interactions in Pekunden and 23 spatial cases in Sombo,the findings could be summarised into only 8 commu nal spaces. They were open space entrance halls in each floor, and balcons. Whereas concering with the arrangement of the communal space there were some criteria to be considered, namely, practicality aspec, multifunction, visility, pri vacy, freedom of movement, assebility, and senso ry comfort. Rumah susun sederhana dibangun dengan tujuan mengatasi kekumuhan serta_ kepadatan bangunan, terutama di daerah perkotaan, sekaligus merupakan al ternatif dalam rangka mengatasi kebutuhan peru mahan dan kelangkaan lahan di perkotaan di masa mendatang. Kebijakan pembangunan di bidang perumahan disamping pengadaan perumahan secara massal dengan harga ter jangkau oleh masyarakat berpenghasilan rendah di perkotaan, sekaligus mengamanatkan bahwa unsur manu sia merupakan titik tolak konsep pembangunan peru mahan. Rumah susun sebagai bentuk perumahan harus memenuhi persyaratan sosial dan kultural, artinya da lam perumahan tersebut seseorang dan anggota keluar ganya dapat melakukan aktivitas sosial dan berma sya rakat sesuai dengan budayanya. Salah satu kebutuhan penghuni sebagai makhluk sosial adalah kebutuhan interaksi sosial yang berupa kebu tuhan berkomunikasi dengan sesama penghuni , melaku kan kegiatan bersama, dll. Guna memenuhi kebutuhan tersebut dibutuhkan wadah yang berbentuk ruang untuk kegiatan bersama ( ruang komunal). Namun demikian perbedaan cara hidup, dan status so sial ekonomi penghuni menyebabkan keragaman pada penghuni dalam melakukan interaksi sosial, yang akan mempengaruhi pula kebutuhan ruang komunal baik seta ra kuantitas maupun kualitasnya. Penelitian ini bertujuan menyusun model seting ruang komunal yang mampu mengakomodasi kegiatan in teraksi sosial bagi penghuninya. Untuk itu terlebih dahulu membahas mengenai pola kegiatan interaksi sosial penghuni rumah susun dalam kaitannya dengan tingkat sosial ekonominya. Lingkup penelitian ini dibatasi pada kegiatan interaksi sosial penghuni yang dilakukan. di ruang komunal diluar unit hunian (rumah), baik pada ruang komunal yang terencana maupun yang tidak teren cana. Sedangkan lokasi penelitian mengambil kasus rumah su sun di Pekunden Semarang dan Sombo Surabaya, berda sarkan pertimbangan bahwa kedua rumah susun memiliki keragaman dalam hal kebijakan pembangunan yaitu berupa proyek peremejaan kota, artinya status penghuni memiliki kesamaan sebagai penghuni asal (lama).Disamping itu kedua rumah susun tersebut juga memiliki keragaman pada seting fisik bangunan , yang diharapkan dapat memberikan variasi / keragaman pada pola kegiatan interaksi sosial penghuninya, serta model seting ruang komunal yang dibutuhkan, sehingga didapat indikasi perilaku dalam kegiatan interaksi sosial . Sedangkan analisis data menggunakan cara mengartikan data dan membandingkan data yang diperoleh dari wawancara dan observasi, yang kemudian dianalisa berdasarkan teori-teori yang ada dengan bantuan to bel (kuantatip) untuk mencari prosentase, yang kemu dian dibahas secara kuali tatip guna mendapatkan gam baran permasalahan yang lebih mendalam . Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola kegiat an interaksi sosial , dalam kaitannya dengan status sosial, kegiatan dapat dibagi menjadi dua yaitu kegi atan yang bersifat formal, seperti kegiatan rapat/ pertemuan, arisan, pengajian; dan kegiatan yang ber sifat informal seperti ngobrol/ santai, hiburan/ ber main. Disamping itu kecenderungan kegiatan dilakukan secara individual dan kelompok yang terdi ri darikelompok dewasa (orang tua), kelompok remaja, dan kelompok anak-anak. Sedangkan berdasarkan sosial tingkat ekonomi, panga ruhnya pada kegiatan adalah pada intensitas kegi atan, serta cara melakukan kegiatan. Dalam kaitannya dengan media/fasilitas yang digu nakan dalam melakukan kegiatan interaksi sosi al, untuk kegiatan yang bersifat formal dikehendaki adanya ruang yang tertutup, dan terpisah dari unit hunian. Sedangkan untuk kegiatan yang bersifat in formal dike hendaki ruang komunal yang terbuka. Mengenai tempat untuk duduk lebih banyak dipilih tempat duduk tidak permanen/ mudah dige ser, dengan alasan praktis, multifungsi.Sedangkan perbedaan ting kat ekonomi berpengaruh pada kualitas tempat duduk yang digunakan. Semakin tinggi tingkatan ekono minya makin baik kualitas bahan yang digunakan. Dalam kaitannya dengan model seting ruang komu nal; berdasaikan temuan dari 16 kasus ruang yang se ring digu nakan untuk melakukan kegiatan interaksi sosial di Pekun den dan 23 kasus ruang di Sombo, dapat dirangkum kedalam 8 model seting ruang komu nal. Lokasi ruang komunal tersebut adalah pada ruang terbuka , entrance hall, selasar dekat taman/ open space, sepanjang selasar, selasar dekat tangga naik hall dekat tangga, hall pada tiap tiap lantai, sepan fang koridor , serta balkon . Sedangkan dalam hal penataan seting ruang komunal terdapat beberapa kriteria yang menyangkut aspek kepraktisan, multifungsi,visibiltas,privasi, keleluasaan gerak, aksesibilitas, dan kenyamanan sensori.

Item Type:Thesis (Masters)
Subjects:N Fine Arts > NA Architecture
Divisions:Postgraduate Program > Master Program in Architecture
ID Code:12078
Deposited By:Mr UPT Perpus 1
Deposited On:27 May 2010 14:51
Last Modified:27 May 2010 14:51

Repository Staff Only: item control page