FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGHUNI BARU UNTUK MEMILIH TINGGAL DI RUMAH SUSUN KLENDER JAKARTA TIMUR

NASUTION, RIZA ANANTA (2004) FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGHUNI BARU UNTUK MEMILIH TINGGAL DI RUMAH SUSUN KLENDER JAKARTA TIMUR. Masters thesis, Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro.

[img]
Preview
PDF - Published Version
3958Kb

Abstract

The raisin of migration to the city is the complicated problems faced by big cities in Indonesia, including Jakarta which causes the increasing of urban areas structures and infrastructures needs. One of the most important issues that is faced by special capital District. Of Jakarta's government is housed providing with the fact its limited exist field. The fulfillment of housing needs for middle to law class societies and it's limited fields, thus government build the modest now houses, for example Klender row houses in East Jakarta, purpose that for minimal zing the illegal and dirty housing. One of the most complicated issues raises when these modest houses are built there are most 50 percent and more transferring f the owner from the original occupant to the newest occupant. These transferring are related to the object achievement for building the row houses, by transferring owner there is a change of occupancy from the middle class society. Absolutely, these condition caused many impacts, such as distributing the stability, space need, increasing the structure and infrastructure. These study purpose to know the influence factor of the new occupant to choose living in the Klender row houses, East Jakarta. The study purpose is achieved by analyzing some factors that are social-economic factors, physical factors, culture and adaptation factors, accessibility, law and implication. These study uses qualitative description analyses to the influence factors like social-economics, physical, culture and adaptation, accessibility, law and implication of the ownership then are tested by using the Chi-Square statistic method. The result of these study is change of occupant become a stronger economical class, these change caused some change in the row of houses environment such as the increasing of space needs that improved with the addition of new building both in the first floor or n the second floor of the row houses. Based on the social-economic characteristic of the new occupant have their income about Rp. 1.001.000- Rp.1.500.000 as much 39,8 %, the total occupant for each unit as much 58,1 %, the age of the head family around 41-50 years as much 49,5 % and work in the private sector as much 48,31 %. The influence factors to choose living in these houses are, incoming/out incoming is growing higher the incoming thus the desire factor for living in these environment is higher, the head family age factor is > 50 years of age as much 16,1 %, the comfortable factors as is much 33,3 % the accessibility to the work place factor 56,98 % and the ownership rights. Based on the analyzed and condition that is found in the field raised some problem such as, the transferring of the ownership to the new occupant, the limited of structures and infrastructures in the row houses environment, not maximal management board to fulfill the occupant needs, the providing of support structure for the transportation as a terminal. Based on the matters above, the Perum Perumnas party must have regulations to restrict the transferring of ownership to the weal their occupant, the management board must have to do their duties based on their function properly to accommodate the occupants needs and the government have to provide the support structure and infrastructure of row houses and its occupant existences. Tingginya tingkat urbanisasi di berbagai perkotaaan adalah salah satu permasalahan yang dialami oleh kota-kota besar di Indonesia, termasuk Jakarta yang mengakibatkan meningkatnya kebutuhan sarana dan prasarana perkotaan. Salah satu masalah penting yang dihadapi oleh pemerintah Propinsi DKI Jakarta adalah penyediaan perumahan. Pemenuhan kebutuhan perumahan bagi masyarakat golongan ekonomi menengah ke bawah dengan kondisi terbatasnya lahan dilakukan dengan pembangunan rumah susun sederhana, salah satunya adalah rumah susun Klender, yang juga ditujukan untuk meminimalisasi tumbuhnya perumahan kumuh dan liar. Salah satu permasalahan yang timbul dengan dibangunnya perumahan sederhana adalah terjadinya pengalihan kepemilikan dari penghuni awal kepada penghuni baru yang besarnya mencapai 50 % bahkan lebih. Pengalihan ini berdampak pada sasaran pembangunan rumah susun, dengan pengalihan kepemilikan terjadi perubahan hunian dari masyarakat golongan ekonomi lemah ke golongan yang lebih mampu. Kondisi ini tentunya menimbulkan berbagai dampak seperti keseimbangan yang terganggu, kebutuhan ruang, sarana dan prasarana yang meningkat. Studi ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi penghuni baru untuk memilih tinggal di rumah susun Klender, Jakarta Timur. Pencapaian tujuan studi dilakukan dengan menganalisis berbagai faktor antara lain, faktor sosial ekonomi, fisik, budaya dan adaptasi, aksessibilitas dan implikasi hukum. Studi ini mempergunakan analisis deskripsi kualitatif terhadap faktor-faktor berpengaruh yaitu sosial ekonomi, fisik, budaya dan adaptasi, aksessibilitas dan implikasi hukum kepemilikan dan kemudian diuji dengan metode statistik Chi-square. Temuan yang didapatkan dari studi ini adalah, adanya perubahan penghuni menjadi golongan ekonomi yang lebih kuat yaitu sebesar 55,1 %, perubahan ini mengakibatkan berbagai perubahan di lingkungan rumah susun diantaranya kebutuhan ruang yang meningkat terbukti terjadinya penambahan bangunan baru baik rumah susun yang terletak di lantai 1 (satu) maupun di lantai 2 (dua). Semakin tinggi penghasilan/pengeluaran maka keinginan memilih tinggal semakin tinggi. Berdasarkan karakteristik sosial ekonomi penghuni barn adalah berpenghasilan Rp.1.001.000-Rp.I .500.000 sebesar 39,8 %, umur kepala keluarga 41-50 tahun sebesar 49,5 %, dan pekerjaan di sektor swasta sebesar 48,31 %. Faktor yang berpengaruh memilih tinggal di rumah susun Klender adalah, kedekaran lokasi/waktu tempuh ke tempat kegiatan utama lain sebesar 56,98 %, jumlah penghuni antara 3-4 orang sebasar 20,4 %, kemudahan akses sebesar 16,1 %, status hukum kepemilikan sebesar 15,1 %, kenyamanan 14,00 %. Berdasarkan analisa dan kondisi yang diketemukan dilapangan berbagai permasahan yang timbul diantaranya, pengalihan kepemilikan kepada penghuni baru, keterbatasan sarana dan prasarana di lingkungan rumah susun, badan pengelola yang belum maksimal memenuhi kebutuhan warga, penyediaan sarana pendukung moda angkutan darat berupa terminal. Berkaitan dengan hal tersebut di atas, pihak Perum Perumnas hendaknya membuat aturan yang membatasi terjadinya pengalihan kepemilikan kepada penghuni yang relatif mampu secara ekonomi, pihak pengelola hendaknya dapat melaksanakan tugasnya sesuai fungsinya untuk mengakomodasi kepentingan semua penghuni dan pemerintah daerah dapat menyediakan sarana dan prasarana pendukung keberadaan rumah susun dan penghuninya. Badan Pengelola Penghunian Rumah Susun (BPPRS) hendaknya dipilih langsung oleh penghuni sehingga dapat mewakili kepentingan mereka.

Item Type:Thesis (Masters)
Subjects:T Technology > TH Building construction
Divisions:Postgraduate Program > Master Program in Urban and Regional Planning
ID Code:12046
Deposited By:Mr UPT Perpus 1
Deposited On:27 May 2010 13:57
Last Modified:27 May 2010 13:57

Repository Staff Only: item control page