HUBUNGAN FUNGSI ELEMEN PENGHUBUNG ANTAR JALUR PEDESTRIAN DENGAN TUNTUTAN ATRIBUT PERSEPSI PEJALAN KAKI PADA SETING RUANG PUBLIK DI JATINGALEH SEMARANG

WARDIANTO, GATOET (2004) HUBUNGAN FUNGSI ELEMEN PENGHUBUNG ANTAR JALUR PEDESTRIAN DENGAN TUNTUTAN ATRIBUT PERSEPSI PEJALAN KAKI PADA SETING RUANG PUBLIK DI JATINGALEH SEMARANG. Masters thesis, Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro.

[img]
Preview
PDF - Published Version
5Mb

Abstract

Basically, public space is a place accommodating specific activities and occupying certain environment either individually or in-group. According to the position and the character, there are two kinds of public space, they are outdoor public space i.e. vehicle road and pedestrian path, and indoor public space i.e. shopping mall or terminal. One of the supporting elements to the road as the public space is crossing bridge, which is built, to protect pedestrian thus could safely cross the vehicle road and avoid traffic accident as well as congestion. But in the reality in some locations, crossing bridges that are built as the elements to connect pedestrian pathways, do not function properly. For some reasons, pedestrians prefer to cross the vehicle road rather than the crossing bridge. There are 19 crossing bridges have been built in Semarang which spread in various locations in the city, one of them is amidst the crowd and important transportation intersection area at Jatingaleh Semarang. Here, in fact not many pedestrians like to use the crossing bridge. This research is aimed to study the correlation between the function of crossing bridge as an element for connecting the pedestrian paths, with the need of the pedestrian attribute perception at Jatingaleh Semarang. This research is conducted by using a "quantitative rationalistic" approach. Theories used for the "grand theory" are; the theory from Wiesman (1981) about attribute, theory from Paul A. Bell (1978) about perception, and theory from Atkinson Rit L. (1981) about motive, hope, and interest. Data recorded in the field is done using a "behavior mapping" method-consist of "place centered mapping" and "person centered mapping" to record the pedestrian behavior, and close questionnaire to record the pedestrians' perceptions, consists of; motive, hope, and interest in crossing bridge as an infrastructure for connecting the pedestrian paths on the public space setting. Data recorded analysis is begun with categorization according to the shape of the perception appearance, which consists of; motive, hope and interest, and also according to the kind of attribute of the facility function consists of; comfort, accessibility, visibility, crowding, socialibility, and safety. The interpretation of categorization is conducted by using a statistic descriptive analysis. The result of the research indicates that there is a correlation between pedestrians attribute perception to the public space setting at Jatingaleh Semarang, with the function of the crossing bridge as an element for connecting the pedestrian paths. Based on an absolute frequency, there is a tendency that the pedestrian attribute perception, consists of; comfort, accessibility, visibility, crowding, socialibility, and safety to the crossing bridge as an element for connecting the pedestrian paths, are not fulfilled. That is why the crossing bridge at Jatingaleh as a public space is not function properly as an element for connecting the pedestrian paths, and therefore there is a tendency that pedestrian doesn't like to use the crossing bridge. Ruang publik pada dasamya merupakan suatu wadah yang menampung aktivitas tertentu dan pengguna suatu lingkungan baik secara individu atau kelompok.Menurut posisi dan sifatnya terdapat dua macam ruang publik yaitu yang bersifat terbuka seperti antara lain jalan kendaraan dan jalur pedestrian, dan ruang publik tertutup seperti misalnya pusat perbelanjaan atau terminal. Salah satu elemen pendukung jalan sebagai ruang publik adalah jembatan penyeberangan, yang dibangun untuk melindungi pejalan kaki agar dapat menyeberang secara aman dan menghindari terjadinya kecelakaan lulu lintas serta kemacetan. Pada kenyataannya yang terjadi dibeberapa lokasi, jembatan penyeberangan yang dirancang sebagai elemen penghubung antar jalur pedestrian untuk menyeberang jalan, tidak berfungsi seperti yang diharapkan. Pejalan kaki cenderung lebih suka menyeberang dengan cam memotong jalan kendaraan dengan berbagai alasan. Di Semarang telah dibangun 19 buah jembatan penyeberangan yang tersebar diberbagai lokasi, salah satunya adalah di ruang publik di Jatingaleh Semarang yang juga merupakan persimpangan transportasi yang penting di kota Semarang, dimana frekwensi kendaraan bermotor cukup padat. Pada kenyataannya para pejalan kaki disini tidak banyak yang menggunakan jembatan penyeberangan untuk menyeberang. Tujuan penelitian ini adalah untuk meneliti hubungan antara fungsi jembatan penyeberangan sebagai elemen penghubung antar jalur pedestrian dengan tuntutan atribut persepsi pejalan kaki di Jatingaleh Semarang. Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan "Kuantiatif Rasionalistik". Adapun teori-teori yang dipakai sebagai grand theory adalah; teori Weismann (1981) tentang atribut, teori Paul A. Bell (1978) tentang persepsi, dan teori Atkinson Rit L (1981) tentang motiv, harapan dan minat. Rekaman data di lapangan dilakukan dengan metode "Behaviour mapping" yaitu dalam bentuk "Place Centered Mapping" dan "Person Centered Mapping" untuk merekam perilaku pejalan kaki, dan angket tertutup untuk merekam persepsi pejalan kaki yang berupa; motiv,minat dan harapan terhadap jembatan penyeberangan sebagai prasarana penghubung antar jalur pedestrian pada seting ruang publik. Analisis rekaman data diawali dengan kategorisasi menurut bentuk persepsi yang berupa motiv, minat, dan harapan pejalan kaki serta menurut macam atribut fungsi fasilitas yang berupa kenyamanan, aksesibilitas, visibilitas, kesesakkan, sosialibilitas, dan keamanan. Interpretasi hasil kategorisasi tersebut dilakukan dengan metoda analisis statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara atribut persepsi pejalan kaki parin seting ruang publik di Jatingaleh Semarang dengan fungsi jembatan penyeberangan sebagai elemen penghubung antar jalur pedestrian. Berdasarkan frekwensi mutlak diperoleh kecenderungan bahwa atribut persepsi pejalan kaki berupa kenyamanan, aksesibilitas, visibilitas, kesesakkan, sosialibilitas, dan keamanan, terhadap jembatan penyeberangan sebagai elemen penghubung antar jalur pedestrian tidak terpenuhi. Akibatnya, jembatan penyeberangan yang terdapat di ruang publik di Jatingaleh Semarang tidak dapat berfungsi dengan baik sebagai elemen penghubung jalur pedestrian karena para pejalan kaki cenderung tidak menggunakannya.

Item Type:Thesis (Masters)
Subjects:N Fine Arts > NA Architecture
Divisions:Postgraduate Program > Master Program in Architecture
ID Code:12023
Deposited By:Mr UPT Perpus 1
Deposited On:27 May 2010 12:25
Last Modified:27 May 2010 12:25

Repository Staff Only: item control page