PENGELOLAAN LINGKUNGAN HUTAN DESA DI SEGMEN TENGAH DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) (Studi ICasus : Pembangunan Hutan Desa di DAS Babon, Kota Semarang)

SETIYONO, SURYANTO EDI (2004) PENGELOLAAN LINGKUNGAN HUTAN DESA DI SEGMEN TENGAH DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) (Studi ICasus : Pembangunan Hutan Desa di DAS Babon, Kota Semarang). Masters thesis, Program Pascasarjana Universitas Diponegoro.

[img]
Preview
PDF - Published Version
2740Kb

Abstract

Strategy in managing of Babon Watershed in Semarang encouraged the writer to conduct this research. So far, it has not touched the needs of the local community and caused the unsustainable of this strategy implementation. Through participation approach, the writer expects that the consciousness of the local community to manage the watershed environment could be developed The goals of the research are to formulate successful strategy in participatory environmental management in the watershed management through village forest plantation program, as well as to identi& several aspects that influence the strengthening process of the community in the central segment cjBabon river basin area. Purposive sampling was applied in the study based on village forest plantation program in the middle segment of Babon Watershed, which consist of 3 (three) villages ( Bulusan, Meteseh and Rowosari ) Qualitative and Quantitative approach method was , supported by Focus Group Discussion (FGD) as well as in-depth interview with community leaders as the key persons involved in the program. Scoring method with Likert scale was used in mapping community participation level in environmental management. The method is relevant to evaluate success key indicator of participatory planning which could be observed through the level of empowerment stages. The results of this study indicate different level of participation at the 3 (three) survey areas, influenced by 5 aspects, i.e. : management and organization, law and rules, project funding, technical operation and community/ people participation. The highest level of people/ community participation represented by the fanner group is shown in Bulusan followed by Rowosari and Meteseh. The difference level of participation is affected by the solidity of the community group. The Babon River as a natural resource with a broad scale, has various characteristics and potencies. Regarding the prospect of participatory management application it is considered that among those 3 (three) areas in the central management of Babon river basin area, the Bulusan villages is good while the other two (Meteseh and Rowosari) are adequate. In general, participatory management is actually a strong platform for Environmental Impact Management Agency (BAPEDALDA) in evaluating environmental management program with community empowerment basis. A suggested participatory management model might be further expanded to empower the local peoples economy, the stakeholders to conserve natural resources and the enforce environmental law for the source of sustainable environmental management. By maintaining participatory management the writer expects that people participation in handing environmental development will be more dominant than the government in the future. Permasalahan penelitian digali dari strategi pengelolaan lingkungan Daerah Aliran Sungai (DAS) Babon, Kota Semarang. Selama ini yang dilakukan belum menyentuh kepentingan masyarakat lokal (setempat), sehingga rasa memilki program tidak ada di masyarakat. Hal ini merupakan salah satu penyebab tidak berlanjutnya program yang telah dilaksanakan, melalui pendekatan partisipatif diharapkan dapat tumbuh dan berkembang kelembagaan pengelolaan lingkungan di masyarakat secara mandiri. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan strategi pencapaian keberhasilan pengelolaan lingkungan partisipatif terhadap pengembangan masyarakat dalam program pengelolaan DAS melalui pembangunan hutan desa dan mengindentifikasikan aspek-aspek yang mempengaruhi penguatan kelembagaan pengelola lingkungan di masyarakat segmen tengah DAS Babon. Pada studi ini digunakan purposive sampling, berdasarkan program pembangunan hutan desa untuk wilayah tengah DAS Babon di 3 (tiga) kelurahan : Kelurahan Bulusan, Kelurahan Meteseh dan Kelurahan Rowosari. Metode pendekatan kualitatif dan kuantitatif, didukung oleh hasil Focus Group Disccusion (FGD) maupun wawancara mendalam (indepth interview) terhadap tokoh masyarakat (key persons) yang terlihat dalam program pembangunan hutan desa. Metode pembobotan dengan skala Liken digunakan dalam analisa pemetaan tingkat partisipasi masyarakat dalam pengelolaan lingkungan. Metode tersebut sangat relevan untuk menilai indikator kunci keberhasilan perencanaan partisipatif. Kunci keberhasilan perencanaan partisipatif di masyarakat dapat terlihat pada tangga pemberdayaan, pada tingkat tangga mana masyarakat tersebut berada. Hasil studi penelitian menunjukkan adanya perbedaan partisipasi di 3 (tiga) daerah penelitian. Ada lima aspek yang mempengaruhi yaitu aspek manajemen dan organisasi, hukum dan peraturan, pembeayaan, teknis operasional serta partisipasi masyarakat. Partisipasi masyarakat yang diwakili oleh kelompok tani tertinggi ada di Kelurahan Bulusan, selanjutnya Kelurahan Rowosari kemudian Kelurahan Meteseh. Perbedaan tingkat partisipasi ini disebabkan oleh seberapa solidnya kelompok masyarakat itu terbentuk. Mengingat Sungai Babon adalah sumberdaya alam yang memiliki skala luas menyebabkan beragamnya karalcteristik potensi dan permasalahan antara segmen. Adapun prospek penerapan pengelolaan partisipatif di ketiga wilayah yang berbeda segemen tengah DAS Babon untuk Kelurahan Bulusan tergolong baik, sedangkan untuk Kelurahan Meteseh dan Kelurahan Rowosari cukup. Secara umum relatif baiknya prospek manajemen partisipatif menjadi dasar !mat bagi Bapedalda untuk melakukan evaluasi program pengelolaan lingkungan yang berbasis kepada pemberdayaan masyarakat. Model manajemen partisipatif yang dikembangkan tetap memiliki satu kerangka yang bisa dikembangkan lebih lanjut. Hasil yang yang diharapkan dari pengembangan model tersebut ialah pemberdayaan ekonomi masyarakat, pemberdayaan stakeholder , perlindungan alam dan penegakan hukum lingkungan dalam kerangka pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. Agar tercipta keberlanjutan manajemen partisipatif maka posisi partisipasi masyarakat diharapkan lebih dominan daripada pemerintah.

Item Type:Thesis (Masters)
Subjects:G Geography. Anthropology. Recreation > GE Environmental Sciences
Divisions:Postgraduate Program > Master Program in Environmental Science
ID Code:11963
Deposited By:Mr UPT Perpus 2
Deposited On:27 May 2010 10:35
Last Modified:27 May 2010 10:35

Repository Staff Only: item control page