ANALISIS SISTIM AKUIFER DAN PEMODELAN ALIRAN AIRTANAH

Rahardjo, Pentardi (2002) ANALISIS SISTIM AKUIFER DAN PEMODELAN ALIRAN AIRTANAH. Masters thesis, Program Pascasarjana Universitas Diponegoro.

[img]
Preview
PDF - Published Version
2917Kb

Abstract

Groundwater is one of many water resources alternatives which has a big of quantity and good quality, therefore, there are more people tend to use it. Although its quality is high, the existence of groundwater is not unlimited, over abstraction of groundwater would degrade its environment. For that reason, some instrument for supervising, directing and preventing are needed. Those would be done by measuring and analyzing the groundwater surface, analyzing the aquifer system and developing the groundwater model, predicting the groundwater surface as well in the future. The study is purposed to find out the geometry and aquifer characteristic, the system of aquifer, find out the groundwater surface and predicting the future groundwater surface by using Processing MODFLOW Version 3.0.software at DKI Jakarta region as case study. The condition of aquifer in the study area is confined. It is laid on 90 meter below sea level, and average of aquifer thickness is 120 meter. The value of transmisivitas (T) range between 0,75 m2/day until 312,12 m2/day which is un equally distributed. The groundwater surface on April 1997 is 28,94 meter above the sea level. The abstraction of groundwater the increases annually, with the discharge of 17,17 m3/day in year of 2000, the elevation of groundwater surface drops to 11,84 m above sea level, in the other word, the draw down is 17,1 meter. By assuming that the groundwater abstraction is increased 20% during for use, the groundwater surface at the year of 2004 is predicted to 7,83 meter above sea level. Based the above finding, it can be conclude that the present rate of groundwater abstraction causes high rate of groundwater surface draw down. The situation would be worsen if the discharge is increased out. For that reason, controlling and preserving of groundwater have to be carried out by increasing the number of observation well, doing accurate measurement of groundwater abstraction and managing the watershed as well. Airtanah merupakan salah satu dari sekian banyak alternatif sumber air yang mempunyai kuantitas yang besar dengan kualitas yang baik, sebagai akibatnya semakin banyak pihak yang menggunakan airtanah. Walaupun jumlahnya besar, keberadaan airtanah adalah tidak tak terbatas, pengambilan debit yang berlebihan dikhawatirkan dapat menyebabkan perusakan lingkungan. Untuk itu diperlukan sarana guna memantau, mengendalikan dan mempertahankannya. Adapun pelaksanaannya dengan melalculcan pengukuran dan analisis kedudukan muka airtanah, analisis sistim akuifer serta pemodelan aliran airtanah sekaligus memprediksi kedudukan muka airtanah pada masa yang akan datang. Studi ini bertujuan mendapatkan geometri maupun karakteristik akuifer, mendapatkan sistim akuifer daerah peneltian, mendapatkan kedudukan muka airtanah dan memprediksi kedudukan muka airtanah pada masa yang akan datang, dilakukan dengan menggunakan piranti lunak Processing Modflow Version 3.0, dengan mengambil studi kasus DKI Jakarta. Kondisi akuifer wilayah studi berupa akuifer tertekan, terletak pada kedalaman rata-rata 90 meter bawah air laut dan ketebalan rata-ratanya 120 meter, sedangkan nilai transmisivitasnya berkisar antara 0,75 m2/hari hingga 312,2 m2/hari dengan penyebaran yang tidak merata. Kedudukan muka airtanah pada awal studi, April 1997 adalah 28,94 meter di atas muka laut, dengan adanya pengambilan airtanah dengan debit yang terus meningkat dan tahun ketahun sebesar 17,17 m3/hari, pada tahun 2000 terjadi penurunan muka airtanah sebesar 17,1 meter, sehingga kedudukan muka airtanahnya berubah menjadi 11,84 m di atas muka laut. Dengan prediksi peningkatan debit pengambilan sebesar 20% pada tahun 2004, muka airtanahnya turun menjadi 7,83 meter di atas muka laut. Dan hasil proses anlisis ini dapat diartikan bahwa dengan debit pengambilan yang ada sekarang, telah terjadi penurunan muka airtanah yang cukup besar, lebih-lebih jika terjadi peningkatan debit pengambilan airtanah. Untuk itu perlu dilakukan upaya pengendalian dan pelestariannya, dengan melakukan pengukuran debit pengambilan airtanah yang teliti, menambah jumlah sumur pantau dan melakukan pemeliharaan daerah tangkapan air yang memadai.

Item Type:Thesis (Masters)
Subjects:T Technology > TA Engineering (General). Civil engineering (General)
Divisions:Postgraduate Program > Master Program in Civil Engineering
ID Code:11861
Deposited By:Mr UPT Perpus 2
Deposited On:26 May 2010 14:25
Last Modified:26 May 2010 14:25

Repository Staff Only: item control page