ARAH PERKEMBANGAN, BENTUK DAN STRUKTUR FISIK KERUANGAN KOTA PANGKALAN BUN - KUMAI KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

JOKO, TRI (2002) ARAH PERKEMBANGAN, BENTUK DAN STRUKTUR FISIK KERUANGAN KOTA PANGKALAN BUN - KUMAI KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT PROPINSI KALIMANTAN TENGAH. Masters thesis, PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS DIPONEGORO .

[img]
Preview
PDF - Published Version
6Mb

Abstract

ABSTRAK Kota Pangkalan Bun sebagai ibukota Kabupaten Kotawaringin Barat merupakan pusat pengembangan wilayah Kalimantan Tengah bagian barat. Berada pada pertemuan antara alur pelayaran dalam Indonesia, yang menuju ke arah timur dan barat, kota ini menjadi pusat pemerintahan, perekonomian/perdagangan dan jasa yang melayani wilayah bagian barat daya Pulau Kalimantan dengan dukungan terminal regional, bandara dan dua fasilitas pelabuhan yang dapat digunakan untuk keperluan antar pulau dan peti kemas/pengiriman CPO (Crude Palm Oil ). Apabila dikaitkan dengan pengembangan di sektor ekonomi dan jasa maka kota Pangkalan Bun - Kumai merupakan wilayah strategis yang mampu untuk mendukung percepatan pertumbuhan dan perkembangan serta mobilitas produksi antar Kabupaten dan Propinsi. Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka permasalahan yang dikemukakan dalam tesis ini, adalah pada kecenderungan arah perkembangan fisik keruangan Kota pangkalan Bun-Kumai berdasarkan potensi yang dimiliki. Implikasi dari hal tersebut adalah pada pola bentuk perkembangan kota pangkalan Bun-Kumai dan strategi pengembangan aktivitas menggerakan perkembangan kota di masa yang akan datang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kecenderungan arah fisik keruangan perkembangan kota Pangkalan Bun - Kumai dan implikasinya terhadap pola bentuk kota tersebut. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik skoring bertujuan untuk melihat arah perkembangan berdasarkan unit spasial di tiap kelurahan, Analisis Kualitatif yang berupa penterjemahan hasil dan arah perkembangan ke dalam bentuk zonasi / perwilayahan, Analisis Location Quotient (LQ) ini digunakan untuk mengetahui sejauh Juana tingkat spesialisasi sektor-sektor di suatu daerah atau sektor-sektor apa saja yang merupakan sektor basis atau sektor leading. LQ banyak digunakan sebagai alat yang sederhana untuk mengukur spesialisasi relatif suatu daerah pada sektor-sektor tertentu. Ilustrasi yang umum digunakan adalah alat ukur yang paling umum yaitu kesempatan kerja (employment). Hasil dari penelitian dilihat dari kecenderungan arah perkembangan fisik keruangan kota Pangkalan Bun — Kumai, maka sungai merupakan sumber daya alam yang pokok dan motor penggerak perekonomian di daerahnya. Jarak yang dekat antara dua kota tersebut maka tipe perekembangan mengarah bentuk bipolar dimana terdapat gaya tarik antara antara kedua kota tersebut baik secara fisik, sosial ekonomi, dan sosila budaya. Untuk variasi perkembangan kota Pangkalan Bun — Kumai maka lebih dominan pada sektor sekunder dan tersier. Sedangkan untuk daerah hinterlandnya cenderung pada sektor primer. Untuk Strategi pengembangan aktivitas kota Pangkalan Bun — Kumai, dari analisis LQ maka untuk kawasan Ant Selatan sektor non basis meliputi bidang pertanian,peternakan,kehutanan,perikanan, pertambangan dan penggalian. Untuk sektor basis meliputi bidang konstruksi, pengangkutan dan komunikasi,' bidang listrik dan air bersih, keuangan, industri pengolahan, perdagangan, jasa pemerintah dan swasta. Untuk kawasan Kumai hampir merata baik sektor basis maupun non basis. Rekomendasi dari penelitian ini untuk Pangkalan Bun - Kumai sebaiknya kota tetap dipertahankan sebagai pusat pemerintahan, sebagai pusat perdagangan dan fasilitag, diusahakan berbagai fasilitas hijau, daerah terbuka serta daerah resapan air. ABSTRACT Pangkalan Bun, the capitol city of Kotawaringin Barat, is the center of regional development in the western Kalimantan Tengah. As intercepting point of inner Indonesian maritime highway, this city becomes governmental, economic/trade and service centers. It accounts for south western Kalimantan Island's activities and is occupied with regional terminal, airport, and two harbor facilities, which serve islands transportation and Crude Palm Oil charge/shipping. Concerning with its role in economic and service developments, Pangkalan Bun has a strategic position for accelerating growth and development as well as mobility among regencies and provinces. The above mentioned highlight leads this thesis to concern the tendency of spatial physical development of Pangkalan Bun-Kumai. The tendency is based on potential available there. It is expected than the results of this study will be pattern of city development and activity strategies in running the city development in the future. This study has purpose to observe the tendency of spatial physical development in Pangkalan Bun-Kumai and its implication on the city pattern. Analysis technique to be used in this study is scoring technique. Scoring technique is used for examining the direction of the development in accordance with spatial unit of each sub-district. This Location Quotient (LQ)-formed analysis is used for examining specialization rate of the sectors in a territory or any sector that becomes a basic sector or leading sector. LQ is an important, simple means to measure relative specialization of a territory in specific sectors. The general illustration that is commonly used is employment sector. The result of this study can be observed through the tendency of spatial physical development in Pangkalan Bun-Kumai. This, rivers become the most prominent natural resource and role player in economic life. The short distance between two cities shape development into bipolar form, in which physical, social economic, and social cultural attracting forces are well-developing. Secondary and tertiary sectors seem to be dominating in Pangkalan Bun-Kumai. Whereas, the primary sector dominates its hinterland. For the purpose of activity development strategy, the result can be obtained from LQ Analysis in Ann Selatan territory, which includes non basic sectors such as farming, ranch, forestry, mining, and exploration. Basic sector consists of construction, transportation and communication, electricity and fresh water, monetary, manufacture industry, trade, public and private services. Non of the two sectors is dominant in Kumai territory. The study recommends that Pangkalan Bun-Kumai should be remain center of the government, as well as of trade and facility. In addition, this city should become a green, open area and having a good drainage

Item Type:Thesis (Masters)
Subjects:N Fine Arts > NA Architecture
Divisions:Postgraduate Program > Master Program in Architecture
ID Code:11851
Deposited By:Ms upt perpus3
Deposited On:26 May 2010 14:15
Last Modified:26 May 2010 14:15

Repository Staff Only: item control page