KRITERIA-KRITERIA PEMANFAATAN RUANG KOTA BERLANDASKAN TATA NILAI TRADISIONAL BALI DI KAWASAN WARISAN BUDAYA DI PUSAT KOTA DENPASAR

MAYUN, GANGGA DEVI (2002) KRITERIA-KRITERIA PEMANFAATAN RUANG KOTA BERLANDASKAN TATA NILAI TRADISIONAL BALI DI KAWASAN WARISAN BUDAYA DI PUSAT KOTA DENPASAR. Masters thesis, PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS DIPONEGORO .

[img]
Preview
PDF - Published Version
5Mb

Abstract

ABSTRAK Kota Denpasar yang merupakan ibis kota Propinsi Bali, mengalami pertumbuhan yang sangat pesat, balk dalam bidang kependudukan, perekonomian, kepemerintahan, pariwisata dan lain-lain. Semakin canggihnya teknologi juga menyebabkan pengaruh luar cepat berkembang di Kota Denpasar. Kota Denpasar berkembang pesat akibat adanya arus Wrbanisasi. Mereka berdatangan ke Kota Denpasar untuk mengadu nasib mencari pekerjaan. Mereka beranggapan bahwa Kota Denpasar masih menjanjikan masa depot; yang cerah. Keadaan ini tentulah menambah semakin sesaknya keadaan di Kota Denpasar. Karena perkembangan tersebut, telah mengakibatkan petwbahan pola kota. Pola kota tradisional yang semula bersifat cosmologi dan concentric, telah berkembang menjadi pola multiple nuclei, karena semakin banyak in!! barn yang berkembang. Pusat Kota Denpasar yang merupakan down town Kota Denpasar memiliki banyak kawasan yang sarat akan nilai-nilai historis dan filosofis keagamaan. Karena kepatuhan masyarakat dalam menjaga warisan mereka yang berupa tempat pemujaan (tempat suci) dan karena kehidupan berbudaya yang bun, maka masyarakat melakukan konservasi secara swadaya (self conservation), walaupun secara tertulis hal tersebut tidak tertnuat dalam snafu peraturan (Perdu). Maka terbentuklah kawasan budaya yang terdiri dari Pura, Puri dan permukiman tradisional, yang keberadaannya hams dipertahankcm yang diperkirakan secara kasar mempunyai luas sekitar 40% dari leas pusat Kota Denpasar. Dan di sant pihalcseiring dengan perkembangan jamcm dan semakin beragamnya kebutuhatt, fingsi¬lungs! modern juga berkembang di pusat Kota Denpasar. Fungsi-fungsi modern ini juga berada di kawasan warisan budaya. Maka untuk mengatasi konflik antara kepentingan modern yang semakin berkembang dengan flings! tradisional yang barns tetap bertahan, dilakukan penelitian mengenai kriteria-kriteria pemanfaatan twang kota berlandaskan tata nilai tradisional Bali di kawasan warisan budaya di pusat Kota Denpasar. Dalam penelitian ini digunakan penelitian secara kualitatif dengan alas analisis deskriptif kualitatif dan Metode Delphi. Dalam deskriptif kualitatif diuraikan mengenai kawasan warisan budaya, kehidupan berbudaya masyarakat dan perkembangan fungsi-fungsi modern di pusat Kota Denpasar. Sedangkan Metode Delphi digunakan untuk memanfaatkan twang kola berlandaskan tata nilai tradisional Bali. Dari analisis ini akan didapat out put berupa kriteria-kriteria pemanfaatan twang kota berlandaskan tata nilai tradisional Bali di kawasan warisan budaya di pusat Kota Denpasar. Dan dari analisis yang telah dilakukan didapat sembilan kriteria, yaitu: pembagian pusat kota secara makro, pembagian secara mikro dalam salt, desa adat, kawasan pempatan agung, mempertahankan identitas kota, mempertahankan permukiman tradisional, melestarikatt kegiatan ritual, pembagian zona bersifat fleksibel, melibatkan peran serta pemerintah dan masyarakat serta menyediakan rucmg peralihan berupa twang kosong. Dan kriteria-kriteria yang telah didapat dicoba untuk diimplementasikan ke dalam twang kota di pusat Kota Denpasar. Maka didapat pembagian twang kota secara makro dibagi mulai dari core area sebagai zona utama dan diikuti dengan zona madya dan nista pada zona berikutnya. Sedangkan pembagian secara mikro berdasarkcm pola nyatur desa pada setiap desa adat. Diperhatikan juga agar menggunakan identitas kola berkaitan dengan Kota Denpasar sebagai kola budaya. Kriteria-kriteria yang telah didapat diharapkan dapat digunakan sebagai salah sant penlimbangan di dalam menyusun rencana tata bangunan dan linglamgan Kota Denpasar. Dan dengan kriteria-kriteria tersebut diharapkan juga dapat memanfaatkan tang kola di kawasan warisan budaya di pusat Kota Denpasar. ABSTRACT Denpasar City, which is the Capital City of Bali Province, is growing very fast, either in social, economy, governance, tourism, or others. The developing technology, on the other hand, has caused the foreign effects grow in Bali. Denpasar City grows due to the fastness of urbanisation. They come to Bali to find jobs. They suppose that Denpasar is promising better future. This condition, of course, makes Denpasar become a densely populated city. Because of this, the city pattern changes. Before, the Traditional City pattern, which is cosmologic, and concentric, has become Multiple Nuclei pattern due to the growing new cores. The City Center of Denpasar which constitutes the down town of Denpasar city posseses a great • number of places full of historic and religious philoshopic values. Due to the strong social obedience in keeping cultural living, the society do self conservation although it is not formally written in a Regional Regulation. Therefore, the society form cutural areas such Pura, Puri, and Traditional Settlement, which their existence has to be reserved These areas have entended roughly about 40 % of Denpasar area. Besides, parallel to the developing era and the various demand of needs, the modern functions have also developed in the down town ofDenpasar. These Cultural function are in cultural heritage areas. In order to overcome the conflict between the growing modem interests and the traditional fitnction that should be reserved, there should be a research on the criteria of area advantage taking based on the taraditional values in Bali in the areas of cultural heritage in the center ofDenpasar. In this research, the writer uses qualitative research with a descriptively qualitative as the analysis instrument and Delphi method In the qulaitative desription, the writer wrote out about the cultural heritage areas, social cultural living, and the growing modern functions in the down town of Denpasar. Meanwhile, Delphi method is used to make use the city areas based on traditional values in Bali. From this analysis, will result in the criteria of making use the city areas based on traditional values of Bali in cultural heritage areas in the down town of Denpasar. And from analysis that have conducted, there are nine criterion: macro city centre distribution, micro distribution in a custom village, pempatan aping area, maintain city identity, maintain traditional settlement, continuing ritual activity, flexible zone distribution, involving government and community and providing space shifting namely empty space. The criterion that have resulted were tried to implemented to city centre in Denpasar City Centre. The result was macro xity centre distribution divided from core area as a main zone followed respectively by middle zone and nista zone. The micro distribution was based on nyatur desa pattern in every custom village. The attention was give too use city identity in accordance with Denpasar City as a cultural city. The criterion that have resulted expected to used as a consideration in the making of Denpasar City's structure and environment planning. With the criterion, its expected to used city space at culture heritage

Item Type:Thesis (Masters)
Subjects:N Fine Arts > NA Architecture
Divisions:Postgraduate Program > Master Program in Architecture
ID Code:11816
Deposited By:Ms upt perpus3
Deposited On:26 May 2010 13:32
Last Modified:26 May 2010 13:32

Repository Staff Only: item control page