PENGARUH IKLIM TEKNOLOGI TERHADAP PRODUKTIVITAS WILAYAH DI PROPINSI KALIMANTAN BARAT

FIRDAUS, HENDRI (2005) PENGARUH IKLIM TEKNOLOGI TERHADAP PRODUKTIVITAS WILAYAH DI PROPINSI KALIMANTAN BARAT. Masters thesis, Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro.

[img]
Preview
PDF - Published Version
3636Kb

Abstract

Globalization has been mainly driven by technological forces. Technology progress is the key to international competitiveness and economic growth. The importance of technology is when considering a production function. This function omits raw material as an input and takes Gross Regional Domestic Product (GRDP) as an output. Technology is the only source of output increase without increasing capital or labor as input. GRDP is increased by technology In fact, empirically, globalization promotes growth, but not to increase convergence of the regional productivity growth. Increasingly, regional inequality has been driven by intra-regional disparity. Empirical evidence shows that this holds true within the Province of West Kalimantan This has caused a policy shift in favor of the local government intervention especially supporting the coastal, hinterland, and border regencies development. This research purpose to assess the effect of the technology climate on the regional productivity of the Province of West Kalimantan. The effect of the technology climate is measured by indirectly introducing it in the production function with the conventional input (capital and labor). Two the technology climate variables representing objective and subjective factors of the technology climate. Index of the technology climate (ITC) has been taken as the explanatory variable of the productivity. This research employ techniques developed in econometric to assess effect of the technology climate on the regional productivity. The analytical Hierarchy Process (AHP) and factor analysis technique are used to determine the ITC. Correlation and regression technique are used to assess the link between the technology climate and regional productivity. Empirical analysis of the research is based on the unit data collected through the primary and secondary survey of ten regency samples in the Province of West Kalimantan. The production function approach is used to measures total factor productivity without any such assumptions as derivative of the production function with time variable. Results of the research indicate that a higher degree of the ITC of a regency has a significant positive impact on the regional productivity. The ITC of the of the primary of the regional development (PED) of the coastal regencies is 0.3336 (medium). The ITC of the PRD of the border regencies is 0.2522 (low). The ITC of the PRD of the hinterland regencies is 0.2278 (low). Of these, the PRO of the hinterland are ranked as least of the ITC compared to the PRD of the coastal regencies as the most of the ITC. Correlation analysis results show that a positive correlation between the ITC and the productivity of the Province of West Kalimantan. Coefficient of the correlation, r is 0.7176, and the determinant, r2 is 0.5153. However, the ITC can explain 51.53% of the variations in the productivity of the Province of West Kalimantan. Regression analysis results show that marginal effect of the ITC on the productivity of the Province of West Kalimantan is 1.9176, and 2.5502 on the PRD of the coastal regencies, 1.7201 on the PRO of the hinterland regencies, 1.4120 on the PRD of the border regencies. Disparity analysis result show that infra-regional disparity is decline, indicating a slight convergence. The Williamson Index of the Province of West Kalimantan is 0.7682 in 1999 and 0.7533 in 2004. The use of inequality 'index show that inequality index 0.23 in 2004. Based on the Klaassen Method, this intra-regional disparity have an effect on the • - - typology of the regencies. Two variables in Klaassen method are productivity (Gross Regional Domestic Product, - GRDP) and growth rate. The conclusion of this research is that hinterland and border regencies have to go through a phase of improving their own absorptive capacity by strongly investing in infrastructure and education before they can actually enter a catching-up phase toward coastal regions. The technological as well as the "communicative" distance or the quality of the infrastructure of regencies to other regencies play a major role in determining the amount of technology which spill over from one regencies to another. The regression models of the effect of the technology climate on the regional productivity in the Province of West Kalimantan are spatially correlated. The distance and the regional infrastructures have an impact on technology diffusion. Technology progress is rapid at the early stages of economic development This fact implies that regional development strategy needs to be modified according to the stage pf development A regency tend to have a level of technology climate as regencies with a high social capability and congruent of technology, a small technology gap and short distances to advanced regencies are much more likely to actually catch-up. For future research it might be interesting to explore whether other measures of the technology climate yield similar results. Though technology climate is important, it is only one part of technology development. Key Words: technology climate, regional productivity Globalisasi sebagian besar dikendalikan oleh kekuatan teknologi. Kemajuan teknologi merupakan kunci pertumbuhan ekonomi dan daya saing internasional. Pentingnya teknologi adalah ketika menggunakan suatu fungsi produksi. Fungsi ini mengabaikan bahan baku sebagai input dan menggunakan Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) sebagai output. Teknologi adalah satu-satunya sumber output yang peningkatannya tanpa diikuti oleh peninglcatan modal atau tenaga kerja sebagai input. PDRB meningkat mengikuti peninglcatan teknologi Kenyataan menunjukkan bahwa secara empiric globalisasi mendorong pertumbuhan, tetapi tidak meningkatkan konvergensi pertumbuhan produktivitas wilayah. Peningkatan disparitas regional dikendalikan oleh disparitas antar wilayah. Secara empiric ini terjadi di Provinsi Kalimantan Barat. Hal ini menyebabkan suatu pergeseran kebijakan yang mengarah pada perlunya keterlibatan Pemda, terutama untuk mendukung pembangunan wilayah kabupaten pesisir, pedalaman, dan perbatasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh iklim teknologi terhadap produktivitas wilayah di Propinsi kalimantan barat Pengaruh iklim teknologi diukur dengan secara tidak langsung melibatkannya dalam fungsi produksi bersama input konvensional (modal dan tenaga kerja). Dua variabel iklim teknologi merepresentasikan faktor obyektif dan subyektif iklim teknologi. Indeks lklim Teknologi (HT) digunakan sebagai variabel penjelas produktivitas Penelitian ini menggunakan teknik-teknik yang dikembangkan dalam ekonometri untuk mengkaji pengaruh iklim teknologi terhadap produkfivitas wilayah. Teknik Analytical Hierarchy Process (AHP) dan analisis faktor digunakan untuk menentukan IIT. Teknik korelasi dan regresi digunakan untuk mengkaji hubungan antara iklim teknologi dan produktivitas wilayah. Analisis empiris penelitian ini berdasarkan pada satuan data yang dikumpulkan melalui survey primer dan sekunder pada sepuluh sampel kabupaten di Propinsi Kalimantan Barat. Pendekatan fungsi produksi digunakan untuk mengulatr produktivitas faktor total tanpa menggunakan asumsi sebagaimana dalam turunan fungsi produksi dengan variabel walctu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa IIT kabupaten yang tinggi memiliki dampak positif panting terhadap produktivitas wilayah. HT Wilayah Induk Pembangunan (WIP) Pesisir adalah 0.3336 (sedang). IIT WIP Perbatasan adalah 0.2522 (rendah). HT WIP Pedalaman adalah 0.2278 (rendah).Dengan demikian IIT WIP Pedalaman merupakan wilayah dengan iklim teknologi terendah dan WIP Pesisir adalah wilayah dengan iklim teknologi tertinggi. Hasil analisis korelasi menunjukkan korelasi positif antara IIT dan produktivitas wilayah Propinsi Kalimantan Barat. Koefisien korelasi r adalah 0.7176, dan determinan r2 adalah 0.5153. Oleh karena itu HT dikatakan dapat menjelaskan 51.53% variasi produktivitas wilayah Propinsi Kalimantan Barat. Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa pengaruh marginal IIT terhadap produktivitas wilayah Propinsi Kalimantan Barat adalah 1.9176, dan 2.5502 pada WIP Pesisir, 1.7201 pada WIP Pedalaman, 1.4120 pada WIP Perbatasan. Hasil analisis disparitas menunjukkan bahwa disparitas antar wilayah mengalami penurunan, mennandakan konvergensi yang lemah. Indeks Williamson Propinsi Kalimantan Barat adalah 0.7682 pada tahun 1999 dan 0.7533 pada tahun 2004. Penggunaan indeks kesenjangan menunjukkan indeks kesenjangan 0.23 pada tahun 2004. Berdasarkan metode Klaassen, disparitas antar wilayah ini berpengaruh terhadap tipologi wilayah. Dua variabel dalam metode Klaassen adalah produktivitas (Pendapatan Domestik Regional Bruto) dan laju pertumbuhan. Kesimpulan penelitian ini adalah bahwa faktor teknologi berperanan penting di dalam pertumbuhsn wilayah. Kesimpulan penelitian ini adalah bahwa kabupaten-kabupaten pedalaman dan perbatasan harus menempuh suatu tahapan peningkatan daya serap teknologi melalui investasi modal dalam bidang infivstruktur dan pendidikan agar dapat menyusu/ tahapan yang telah dicapai oleh kabupaten-kabupaten pesisir. Iklim teknologi dalam artian " komunikarif' jarak atau mutts infrastruktur suatu wilayah kabupaten terhadap kabupaten lain menentukan jumlah spillover teknologi antar kabupaten. Model regresi pengaruh iklim teknologi terhadap produktivitas wilayah di Propinsi Kalimantan Barat menunjukkan korelasi spasiat Jarak dan infivstrulctur wilayah berdampak terhadap difusi teknologi. Kemajuan teknologi berlangsung cepat pada tahapan awal pembangunan ekonomi. Bukti ini menunjukkan bahwa strategi pembangunan daerah membutuhkan modifikas1 sesuai tahapan pembangunan. Suatu kabupaten cenderung mendekati suatu tingkatan iklim teknologi kabupaten lain yank memiliki kapabilitas sosial dan kongruen telowlogi lebih tinggi, kesenjangan teknologi Iced!, serta jaraknya dengan Icabupaten lebih maju yang dekat dan memungkinkan untuk mengejar ketinggalannya. Penelitian lebih lanjut per/u dilakukan untuk menemulcan ukuran ildim teknologi lain yang memberikan hasil yang sama. Meskipun iklim telmologi adalah panting, namun hanya merupakan satu bagian dari kemajuan teknologi. Kata Kunci: iklim teknalogi, produktivitas wilayah

Item Type:Thesis (Masters)
Subjects:H Social Sciences > HV Social pathology. Social and public welfare
Divisions:Postgraduate Program > Doctor Program in Architecture and Urban Planning
ID Code:11756
Deposited By:Mr UPT Perpus 2
Deposited On:26 May 2010 11:06
Last Modified:26 May 2010 11:06

Repository Staff Only: item control page