HUBUNGAN SETTING JALUR PEDESTRIAN DENGAN ATRIBUT PEMILIHAN LOKASI PEDAGANG KAKI LIMA PADA SIANG HAM Studi kasus: zona perdagangan dan jasa pada penggal J1 Pemuda Semarang

Sari, Lia Kencana (2004) HUBUNGAN SETTING JALUR PEDESTRIAN DENGAN ATRIBUT PEMILIHAN LOKASI PEDAGANG KAKI LIMA PADA SIANG HAM Studi kasus: zona perdagangan dan jasa pada penggal J1 Pemuda Semarang. Masters thesis, Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro.

[img]
Preview
PDF - Published Version
9Mb

Abstract

Pedestrian ways, as one of the linier open space, is a potential sector to grow as a connector between activity spots which is passed by people everyday. Sometimes, we see that pedestrian ways is used as a place of trading. In this case, the formal space is used for the informal space. On the same place and the same time, there are two function between street trader and pedestrians that mixed and interviewing each other. The street trader used it as a place to trade and the pedestrians used it as a sirculation space. It happens because of interaction among the user and demand-supply factor on the open space. 31 Pemuda is a primer artery street which connected Tugu Muda to Old City District. J1 Pemuda as one of the path, network where people will move from one spot to another, hold an important element for transportation. Physical condition of .11 Pemuda which has wide pedestrian ways has given the street trader a chance to grow up. That's why we need to know better about any atributtes that caused the street trader choose their trading location on the pedestrian ways along the street. The_ efforts to find it is using behaviorial approach. The cOmmponents are pedestrian ways as setting, street trader as the actor, and the atributtes. In this case we took 63 respondent for being interviewed. Then, we can conclude that there is a connections between setting and atributtes of street trader location. The atributtes are accessibility, compfort, visibility, and territoriality. Jalur pedestrian sebagai salah satu bentuk ruang terbuka berupa tinier space merupakan sektor yang sangat potensial untuk tumbuh dan berkembang sebagai penghubung antara magnet kegiatan satu dengan lainnya, yang akan semakin berkembang karena dilalui banyak orang setiap harinya. Sering kita jumpai ruang terbuka di tengah kota, jalan, dan juga pedestrian dipergunakan sebagai tempat berdagang. Dalam hal ini yang biasa terjadi adalah penggunaan ruang formal untuk aktivitas sektor informal. Pada tempat dan waktu yang sama terjadi fungsi yang bercampur dan saling mempengaruhi antara dua kelompok aktivitas, yaitu pedagang kaki lima dengan pengguna ruang publik yang lain, dalam hal ini adalah pejalan kaki, di mana pejalan kaki menggunakannya sebagai sistern penghubung, sementara pedagang memanfaatkan lokasi yang ada sebagai fungsi perdagangan. Hal itu terjadi karena adanya interaksi antar pengguna ruang publik dalam bentuk demand dan supply yang memberikan peluang terjadinya aktivitas itu di tempat tersebut. JI Pemuda adalah jalan arteri primer yang menghubungkan Tugu Muda dengan kawasan Kota Lama. J1 Pemuda sebagai salah satu path, jaringan di mana manusia akan bergerak dari satu tempat ke tempat lain memegang peranan penting bagi sarana transportasi manusia, barang, dan jasa dalam menghidupkan kawasan ini. Terbentuknya pedagang kaki lima (PKL) justru mampu meramaikan Jalan Pemuda ini. Kondisi fisik Jalan Pemuda yang memiliki pedestrian ways lobar, memberikan kesempatan bagi kegiatan informal seperti PKL tersebut untuk tumbuh dan berkembang. Keunggulan inilah yang memang dimanfaatkan menjadi pendukung kesinambungan aktivitas kegiatan PKL dari hari ke hari. Untuk itu perlu diungkap lebih lanjut, persepsi atribut apa sajakah yang menyebabkan pedagang kaki lima memilih lokasi berjualan pada jalur pedestrian di jalur pedestrian sepanjang penggal jalan tersebut. Usaha untuk mengungkap hubungan antara setting jalur pedestrian dengan atribut pemilihan lokasi PKL pada siang hari dilakukan dengan penclekatan perilaku. Komponennya rneliputi jalur pedestrian sebagai setting, pedagang kaki lima sebagai pelaku, dan atribut yaitu kualitas hubungan antara setting dengan pelaku. Pendekatan perilaku menggunakan teknik behaviorial mapping yang diperkuat dengan wawancara terbuka terhadap 63orang responden PKL. Kesimpulan dari penelitian adalah terdapat hubungan antara setting jalur pedestrian dengan atribut pemilihan lokasi PKL dalam berdagang. Atribut yang berpengaruh antara lain adalah aksesibilitas (kedekatan dengan pusat keramaian, aksesibilitas ke tempat tinggal, orientasi, dan perletakan street furniture yang tidal; menghalangi), kenyamanan (keteduhan dan posisi terhadap jalur pedestrian — sejajar atau lebih rendah-), visibilitas, dan teritoriality.

Item Type:Thesis (Masters)
Subjects:N Fine Arts > NA Architecture
Divisions:Postgraduate Program > Master Program in Architecture
ID Code:11657
Deposited By:Mr UPT Perpus 1
Deposited On:25 May 2010 17:54
Last Modified:25 May 2010 17:54

Repository Staff Only: item control page