INTERAKSI KEWILAYAHAN KECAMATAN DEPOK TERHADAP KOTA YOGYAKARTA

Wulandari, Rina Esti (2004) INTERAKSI KEWILAYAHAN KECAMATAN DEPOK TERHADAP KOTA YOGYAKARTA. Masters thesis, Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro.

[img]
Preview
PDF - Published Version
7Mb

Abstract

Physically, Depok District in Sleman Regency is linked by road to Yogyakarta Municipal, such as Yogya-Solo Highway, North Ring Road, Kaliurang Street and Gejayan Street. Supporting to the linkage, Depok District also has bus sub station in Condongcatur which is become the north end destination for city bus. Physical linkage with other region, in this case with Yogyakarta Municipal, give possibility to create "cascade effect", making other activities and linkages possible. As the result, development process occur in Depok District. Some description that might give indication to the existence of Depok District's interaction to Yogyakarta Municipal is the scarcity of open space in Yogyakarta Municipal. Meanwhile, Depok District's land use tend to change due to land conversion from agricultural usage to non agricultural usage. Considering to those conditions, this study aim to get deeper information about Depok District's interaction to Yogyakarta Municipal. The regional interaction tried to be studied is economic linkage, social interaction linkage, and social service linkage. The goal to be reach in this study is to get information of the intensity of Depok District's interaction to Yogyakarta Municipal. This information of interaction intensity could be used to identifr interdependence between geographical areas. Based on that, the result is hoped to give any description of Depok District's dependencies to Yogyakarta Municipal that can become input for local government and for the government of Sleman Regency in dealing with the negative impact of the dependencies to Yogyakarta Municipal. The result of the study on economic linkage shows that Depok District's interaction to Yogyakarta Municipal is weak. It means there is no economic dependencies of Depok District to Kota Yogyakarta. For the social linkage and social service linkage, results of the study is the same as on economic linkage. It means there is lack of social relation and that Depok District has meet the needs of its people for social services. From those result of the three linkages, it can be concluded that Depok District's regional interaction to Yogyakarta Municipal is weak. Therefore, it can be said that, for its people, Depok District has an equal position compared to Yogyakarta Municipal. Although as a whole Depok District's regional interaction is low, some of the interaction variable still shows dependencies to Yogyakarta Municipal. To reduce those dependencies, it is recommended for Sleman Regency Government to overcome the obstruction, which is according to the respondents are on transportation and on the equity ability. Sleman Regency Government also hoped to be aware of the negative impact of the interaction in order to hinder the occurrence of unplanned regional development. For the further study, it is recommended to apply interregional input-output model, using more sample, and involve observation on Yogyakarta Municipal. Secara fisik Kecamatan Depok memiliki keterkaitan dengan Kota Yogyakarta karena adanya dukungan beberapa jaringan jalan, yaitu jalan uteri Yogya-Solo, Ring Road Utara, Jalan Kaliurang, dan Jalan Gejayan. Selain itu, Kecamatan Depok memiliki Sub Terminal Condongcatur yang merupakan tujuan pemberhentian bis Kota yang paling utara. Keterhubungan secara fisik dengan wilayah lain, utamanya Kota Yogyakarta ada kemungkinan telah menghasilkan "cascade effect", yaitu memunglcinlcan terjadinya kegiatan-kegiatan dan keterhubungan lain. Akibatnya kemudian adalah terjadinya proses pembangiman di Kecamatan Depok. Beberapa gambaran yang mungkin dapat menjadi indikasi adanya interaksi Kecamatan Depok terhadap Kota Yogyakarta adalah langkanya lahan terbuka di Kota Yogyakarta, sementara di Kecamatan Depok terjadi kecenderungan perubahan guna lahan dari lahan pertanian ke non pertanian. Dad latar belakang tersebut, inaka penelitian ins 'Angin melihat secara lebih dalam interaksi Kecamatan Depok terhadap Kota Yogyakarta. Adapun interaksi wilayah yang akan diteliti meliputi keterkaitan ekonomi, keterkaitan sosial, dan keterkaitan pemanfaatan pelayanan sosial. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah ingin mengetahui intensitas interaksi kewilayahan Kecamatan Depok terhadap Kota Yogyakarta yang meliputi ketiga keterkaitan sebagaimana disebutkan sebelumnya. Infonnasi tentang intensitas interaksi dapat digunakan untuk mengidentifikasikan ketergantungan antar wilayah geografis. Oleh karena itu, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gainbaran - tentang tingkat ketergantungan Kecamatan Depok terhadap Kota Yogyakarta sehingga dapat dijadikan masukan dalam kebijakan Pemerintah Kabupaten Sleman, khususnya Pemerintah Kecamatan Depok dal am in en gatasi efek negatif yang mungkin timbul dari adanya ketergantungan terhadap Kota Yogyakarta. Hasil penelitian secara keseluruhan terhadap keterkaitan ekonomi menunjukkan bahwa interaksi Kecamatan Depok terhadap Kota Yogyakarta adalah lemah. Ini berarti Kecamatan Depok secara ekonomi tidak tergantung kepada Kota Yogyakarta. Hasil yang sama juga ditunjukkan pada keterkaitan pemanfaatan pelayanan sosial, yang berarti fasilitas sosial yang disediakan pemerintah di Kecamatan Depok sudah dapat memenuhi kebutuhan penduduknya. Untuk keterkaitan sosial, intensitas interaksinya juga lemah. Ini berarti kurang ada kedekatan penduduk secara sosial dengan Kota Yogyakarta Dan ketiga keterkaitan tersebut dapat dikatakan bahwa interaksi kewilayahan Kecamatan Depok terhadap Kota Yogyakarta adalah interaksi dengan intensitas lemah, sehingga dapat dikatakan bahwa bagi penduduknya Kecamatan Depok telah memiliki kedudukan yang relatif seimbang dengan Kota Yogyakarta. Meskipun secara keselitruhan intensitasnya lemah, beberapa variabel interaksi menunjukkan masih tergantung pada Kota Yogyakarta Untuk rnenguranginya direkomendasikan agar Pemkab Sleman mengatasi hambatan dalam berinteraksi yaitu dalam hal transportasi dan permodalan. Selain itu Pemkab Sleman juga diharap waspada agar wilayah Kecamatan Depok tidak berkembang menjadi terlalu padat karena akan mengandung efek-efek negatif. Sementara untuk studi lanjutan direkomendasikan agar dilakukan perhitungan dengan model Interregional I-0, memperbanyak jumlah sample, mengobservasi Kota Yogyakarta, dan menggunakan pendekatan induktif agar diperoleh gambaran lebih sempurna

Item Type:Thesis (Masters)
Subjects:H Social Sciences > HV Social pathology. Social and public welfare
Divisions:Postgraduate Program > Master Program in Urban and Regional Planning
ID Code:11622
Deposited By:Mr UPT Perpus 1
Deposited On:25 May 2010 15:47
Last Modified:25 May 2010 15:47

Repository Staff Only: item control page