HUBUNGAN SENTRALITAS DENGAN BENTUK DAN TINGKAT PARTISIPASI MASYARAKAT PADA PROYEK P2MPD ID1 KECAMATAN C1SAYONG KABUPATEN TASIKMALAYA

ANDRIANSYAH, ANDRI (2004) HUBUNGAN SENTRALITAS DENGAN BENTUK DAN TINGKAT PARTISIPASI MASYARAKAT PADA PROYEK P2MPD ID1 KECAMATAN C1SAYONG KABUPATEN TASIKMALAYA. Masters thesis, Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro.

[img]
Preview
PDF - Published Version
4Mb

Abstract

P2MPD (Community and Local Government's Empowerment Supporting Project) is a project that expected to give a direct impact to the society development and help the local government to finance the supplying and maintenance of public means and infrastructure. In the P2MPD project in Tasikmalaya in 2002, there was a decreasing of community's self supporting level compared to the previous year. The research was conducted with the purpose of increasing the efficiency and optimalization of community's participation level in P2MPD project by knowing the form and participation level and factors influencing it and also by knowing the correlation of centrality with the form and participation level In order to achieve that purpose, it quantitative analysis with cross tabulastion supported with qualitative descriptive was conducted The form of community's participation in P2MPD project in Tasikmalaya, particulary in 7 villages in Cisayong Sub District have different type. In the village conference (rembug desa), people in the village with less centrality level prever coining alone to representing themselves, on the contrary, in the village with high and medium centrality prefer to be represented The way of community's participation is also different, in the place with high and medium centrality, most people give their assistance in the form of money. On the contrary, in the village with low centrality, people prefer choosing theirparticipation in the form of power as a labor. There is a tendecy that the village centrality level is getting lower in the establishment of the form of community's participation, people prefer following the voluntary labor service to another form. In the case of a meeting activity routiniry, it can be said that it isn't has correlation with village centrality. Meanwhile, in the case of volunteering degree, people commonly conduct the contribution, however there is a tendency that the higher the centrality level, the lower the volunteering degree. Meanwhile there are 2 group of the community's participation in 7 villages in Cisayong Sub District in the P2MPD project, namely a village with high community's participation (Santanamekar, Sukasetia, Purwasari and Sukaraharja) and the village with low community's participation (Cisayong, Jatihurip and Cikadu). Thus, it can be said that centrality factor has correlation with the participation level, in which the higher the area's centrality, the lower its community's participation. The form and level of participation above are influenced by some factors. Offive individual's characteristics as an internal factor influencing the form ofparticipation significantly are ages and income level factors. Beside that the village centrality level also has the correlation with the form of participation. Meanwhile the level of community's participation is influenced by sex, ages and centrality factors. A social stratum in the society that give more chances to the man with old or established age. Thus in order to increase the efficiency an optimalization of the P2MPD project or the other same project in the future, it necessary to consider the level of centrality in choosing the project location. Beside that the kind of given project shoul also consider the form ofparticipation based on its centrality level, for example, in the village with low centrality, it is necessary to conduct the project that full of labor, on contrary, for the village with high centrality it is necessary to conduct the stimulant project Proyek Pendukung Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintah Daerah (P2MPD) merupakan suatu proyek yang diharapkan memberikan dampak langsung terhadap pembangunan masyarakat dan dapat membantu pemerintah daerah dalarn membiayai penyediaan serta pemeliharaan prasarana dan sarana umum. Pada proyek P2MPD tahun 2002 di Tasikmalaya terjadi penurunan tingkat swadaya masyarakat dibanding tahun sebelumnya. Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan efisiensi dan optimalisasi peran serta masyarakat dalam proyek P2MPD dengan mengetahui bentuk dan tingkat peran serta dan faktor-faktor yang mempengaruhinya serta mengetahui hubungan sentralitas dengan bentuk dan tingkat peran serta. Untuk mencapai tujuan tersebut dilakukan analisa kuantitatif dengan tabulasi silang yang didukung dengan diskriptif kualitatif Bentuk-bentuk peran serta masyarakat pada proyek P2MPD tahun 2002 di Kabupaten Tasikmalaya khususnya di 7 desa di .Kecamatan Cisayong memiliki bentuk yang berbeda. Dalam rembug desa masyarakat di desa dengan sentralitas lebih rendah lebih senang datang sendiri daripada diwakilkan sebaliknya di desa dengan sentralitas tinggi dan sedang yang lebih memilih diwakili. Cara ikut serta masyarakat dalam berperan serta juga berbeda, di daerah yang sentralitas tinggi dan sedang, bentuk sumbangan masyarakat paling banyak bentpa sumbangan uang. Sebaliknya di desa dengan sentralitas rendah masyarakat lebih memilih sumbangan bentpa tenaga. Bentuk keterlibatan masyarakat dalam pelaksanaan ada kecenderungan semakin rendah tingkat sentralitas desa, masyarakat lebih memilih bentuk ikut kerja bakti massal daripada bentuk lain. Mengenai rutinitas kegiatan pertemuan, bisa dikatakan tidak dipengaruhi oleh sentralitas desa. Sedangkan mengenai derajad kesukarelaan maka pada umumnya masyarakat melakukan kegiatan peran serta tanpa merasa sama sekali atau dapat dikatakan berbentuk peran serta bebas, tetapi ada kecenderungan semakin tinggi tingkat sentralitas semakin menurun derajat kesukarelaannya. Sedangkan tingkat peran serta masyarakat di 7 desa di Kecamatan Cisayong pada proyek P2MPD ada 2 kelompok yaitu desa dengan tingkat peran serta masyarakat tinggi (Santanamekar, Sukasetia, Purwasari dan Sukaraharja) dan desa dengan tingkat peran serta rendah (Cisayong, Jatihurip dan Cikadu). Sehingga bisa dikatakan faktor sentralitas berhubungan dengan tingkat peran serta, dimana semakin tinggi sentralitas suatu daerah semakin rendah tingkat peran serta masyaralcatnya. Bentuk-bentuk dan tingkat 'peran serta tersebut diatas dipengaruhi oleh beberapa faktor. Dan 5 ciri-ciri individu sebagai faktor internal yang secara signifikan mempengaruhi bentuk peran serta adalah faktor umur dan tingkat pendapatan. Selain itu faktor sentralitas desa juga berhubungan dengan bentuk peran serta. Sedangkan tingkat peran serta masyarakat dipengaruhi faktor jenis kelamin dan umur serta berhubungan dengan sentralitas. Pelapisan sosial di masyarakat yang lebih memberi kesempatan kepada laki-laki dengan usia yang telah dianggap dewasa dan mapan. Dengan demikian untuk meningkatkan efisiensi dan optimalisasi proyek P2MPD maupun proyek sejenis di masa yang akan datang, perlu kiranya mempertimbangkan tingkat sentralitas suatu desa dalarn pemilihan lokasi proyek. Selain itu jenis proyek yang diberikan juga hams mempertimbangkan bentuk-bentuk peran serta berdasarkan tingkat sentralitasnya, misalnya untuk desa dengan sentralitas rendah sebaiknya diberikan proyek yang bersifat padat karya sebaliknya untuk desa dengan sentralitas tinggi diberikan proyek yang bersifat stimulan.

Item Type:Thesis (Masters)
Subjects:H Social Sciences > HV Social pathology. Social and public welfare
Divisions:Postgraduate Program > Master Program in Urban and Regional Planning
ID Code:11601
Deposited By:Mr UPT Perpus 1
Deposited On:25 May 2010 15:05
Last Modified:25 May 2010 15:05

Repository Staff Only: item control page