ANALISIS PENGARUH TATAGUNA LAHAN TERHADAP EROSI DAN PUNCAK BANJIR PADA SUB DAS GARANG DENGAN PENDEKATAN MODEL ANSWERS

Ridwan, Muhammad Hamim (2001) ANALISIS PENGARUH TATAGUNA LAHAN TERHADAP EROSI DAN PUNCAK BANJIR PADA SUB DAS GARANG DENGAN PENDEKATAN MODEL ANSWERS. Masters thesis, Program Pascasarjana Universitas Diponegoro.

[img]
Preview
PDF - Published Version
2114Kb

Abstract

Land or soil is one of the most valuable natural resources human have on the Earth. It is needed for accomodate all human activities and place for plants to grow. Population growth needs more lands both for housing and farming. These cause change in land use convention, which isnot only in the arable land but also on the conservation or protected land. The quality of watershed depend on land use, type of soil, slope gradient, and channel width. Besides, hydrological parameters also play a very important role such as, rain fall that affects runoff, flood peak, erosion and ground water flow. Garang sub watershed, the important water sources for Semarang city changed significantly in both its management and land use. Therefore it is very urgent to analyse the effects of land use on soil erosion and flood discharge. Many models have been developed, one of them is ANSWERS, the model which is developed by Beasley and Huggins on Indiana, United States of America, can be used to estimate partial erosion rate, as well as flood discharge. The model in combination with Frequenc program can be use to predict annual erosion. However the model is not fully white box model, it needs to be calibrated before implemented on the outside areas Application of calibrated ANSWERS to Garang Sub Watershed with condition found that the erosion rate is 218,23 t/ha/th. It is far higher than RLKT standard (maximum allowable erosion rate is 30 t/ha/th). To bring it back to the allowable erosion rate, the land use change composition in Garang Sub Watershed should be : Settlement: from 5,1 % to 8,43 %, Agricultural land: from 31,5% to 3,96 %, Farm land: 28,2 % and Forest: from 18,8 % to 60 % and all plantation change to forest. By this condition the discharge redused from 54,30 m3/dt to 29,22 m3/dt. Lahan atau tanah merupakan sumber alam penting di dunia dan dibutuhkan masyarakat untuk keperluan tempat tinggal dan bercocok tanam, terasa semakin penting dan meningkat. Tidak hanya pada kawasan budidaya, melainkan sampai pada kawasan lindung, sehingga menyebabkan terganggunya fungsi resapan air yang sangat dibutuhkan untuk kelestarian suatu DAS, dengan ditandai meningkatnya erosi dan puncak banjir. Kualitas DAS sangat ditentukan oleh parameter lahan, yang meliputi vegetasi, jenis tanah, kemiringan lereng dan lebar alur. Parameter hidrologi juga memegang peranan penting, seperti intensitas hujan yang menimbulkan aliran lahan (runoffi, puncak banjir dan erosi, sekaligus mempengaruhi aliran dasar (ground water flow). Sub DAS Garang yang mempunyai arti penting bagi kelestarian sistem tata air untuk Kota Semarang, diduga telah mengalami perubahan secara fisik, baik cara pengolahan atau pengelolaan tataguna lahannya. Oleh karena itu perlu diadakan analisis tentang pengaruh tataguna lahan terhadap erosi dan puncak banjir yang terjadi. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk menduga besaran erosi dan puncak banjir pada suatu DAS, adalah model ANSWERS, yaitu suatu model deterministik yang dikembangkan oleh Beasley dan Huggins di Indiana Amerika Serikat, untuk mensimulasikan DAS dengan parameter yang tersebar (distributif), yang dapat menghasilkan keluaran model untuk setiap saw kejadian hujan (event model). Disamping itu model ANSWERS yang dikombinasikan dengan program Frequence dapat digunakan untuk memprediksi laju erosi tahunan.melalui skenario pengelolaan DAS. Penggunaan model ANSWERS pada Sub DAS Garang yang telah dikalibrasi, menunjukkan bahwa tingkat erosi pada kondisi awal telah mencapai 218,23 ton/ha pertahun. Angka ini melebihi batas toleransi yang direkomendasikan oleh Departemen Kehutanan (Balai RLKT) sebesar 30 t/ha pertahun. Sehingga untuk mengembalikan kisaran angka tersebut, maka diperlukan perubahan tataguna lahan yang meliputi, permukiman dari 8,1 % menjadi 8,43 %, ladang dari 31,5 % menjadi 3,96 %, sawah tetap 28,2 %, hutan meningkat dari 18,8 % menjadi 60 % dan perkebunan menjadi habis. Dan dengan komposisi tataguna lahan tersebut, maka telah menpengaruhi penurunan puncak banjir pada Sungai Kali Garang dari 54,30 m3/dt menjadi 29,22 m3/dt.

Item Type:Thesis (Masters)
Subjects:T Technology > TA Engineering (General). Civil engineering (General)
Divisions:Postgraduate Program > Master Program in Civil Engineering
ID Code:11600
Deposited By:Mr UPT Perpus 2
Deposited On:25 May 2010 15:09
Last Modified:25 May 2010 15:09

Repository Staff Only: item control page