FAKTOR - FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERUBAHAN FUNGSI LAHAN DI KECAMATAN DEPOK KABUPATEN SLEMAN

WIJAYANTI, DWIKE (2003) FAKTOR - FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERUBAHAN FUNGSI LAHAN DI KECAMATAN DEPOK KABUPATEN SLEMAN. Masters thesis, Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro.

[img]
Preview
PDF - Published Version
7Mb

Abstract

Social, economic, and cultural changes in urban fringe, like in the region of Depok can not be avoided. Phenomenally now people prefer places for living in the urban fringe, considering that such places are geographically strategic, offer various facilities; and that land there is cheaper, profitable, and can be used for commercial activities which can change their economic and social conditions. The changes in the urban fringe, which can be periodic or non periodic, are followed by the changes of land use to solve the problemof the increasing population, and to increase their income by changing their means of livelihood. The changes of land use cause the number of .fields to decrease. Front 1987 to 1996 fields which decrease reach 42 to 47 hectare, even in only one year (1992) in Depok, according to the data, the changes of land use reach the highest number, namely 28.46hectare. The phenomenon of commercial activities is supported by the existence of tertiatyy educational institutions and other schools. But such phenomenon is not accompanied bya the awareness to get a permit for their commercial activities and building. Meanwhile the local goverment (Slentan) does not control and monitor their activites effectively. According to the data the original 84 percentage of residence buildings becomes only 18. It means that the percentage of commercial buildings becomes 82 in which there is only 13 which gets a permit for commercial activities and buildings. Because of the weak control and monitoring of the local goverment, people make commercial buildings in strategic state land, such as land along Mataram Ditch, without any permit. It is very important to identify and analyze the social, economic, cultural, and physical changes in Depok because Depok is a reliable triggering area to the economic, social, and cultural development in the whole region of Sleman. Therefore the aim of the research is to analyzed with crosstab, chi square, and coefficients contingency. Whereas land location value is analizeed with double regression. The changes of land use in Depok is caused by the fact that various functional activities of town has reached this region. People from other regions come to Depok and live there because of the centrifugal and centripetal flow. The research proves that the percentage ofpeople who come to Depok is 88; the people who got their land through buying and selling is 78 percent, and they aat the average have got jobs and permanent income. Since 1988 Depok has become a developing urban area; the majority of the respondents started to live before the year. Because the area is strategic for living and commercial activities, they change their land functions to increase their income. According to the research, the longer a respondent lives, and the more educated he is, he will change the uses of their land, will enlarge their buildings to make use of them at the most. Land value is influenced by three factors, namely location value, economic value, and social value; and it is assumed that each of the factors has thus the influence of one third (1/3) or 33.33%. The accessibility and location value which are determined by the distance and closseness to main corridors and centers ofservice indicate the influence of 18.5%; while 14.5% is supported by other aspects of location value such as the closeness which determines the cost of transport, and time. The accessibility which is determined by the distance has a negative and significant relation to the changes ofland use. The degrees of the significant influences are as follows : the distance to educational institutions (the strongest influence), the distance to centers of trade, the distance to centers of goverment offices, the distance to centers of health service, and the distance to collector roads. While the distance to high way and local roads do not have any influence. Recommendations are suggested for the local goverment (Sleman) to increase the monitoring and control of permitting commercial activities in Catur tunggal which has been densely populated, to avoid unmanaged growth, to use mixed- use land, to monitor urban population density, to develop Maguwohado which has not been developed intensively and optimumly (it will become a location for the government program to upgrade prospective local roads to be collector roads, and to increase functional activities of education and trade in the edges of collector roads). According to the research, and high waydo not influence the changes of land use. Its a result the urban population threshold in Maguwoharjo can be reached, because hinterland variation in Depok can also quicklyjbllow the development. At last the properity of the whole population in Depok as an urban fringe is very important for urban and rural areas in the hinterland and can stimulate functional activities in other regions of Sleman which will develop like Depok. Perubahan sosial ekonomi budaya pada kawasan pinggiran kota (urban fringe) yaitu Kec. Depok tak dapat dihindarkan. Fenomena masyarakat saat ini lebih banyak memilih lokasi papan tempat tinggal/place for living pada kawasan pinggiran kola. Dengan berbagai pertimbangan, diantaranya lokasi geografis yang strategis, menawarkan berbagai kenyamanan, harga tanah lebih murah dan dapat memberi keuntungan atau untuk usaha-usaha komoditi yang dapat mengubah kehidupan sosial ekonominya. Perubahan-perubahan baik bersijat periodik dan non periodik dikawasan ini (urban fringe) berlanjut pada perubahan .fungsi lahan (land use), sebagai pemenuhan terhadap gejala peningkatan kepadatan penduduk, peningkatan ekonomi dan perubahan mata pencaharian. Gejala perubahan fungsi lahan juga ditunjukkan dengan gejala pengurangan lahan sawah th. 1987-1996 seluas 42 Ha - 47 Ha, bahkan menttrztt data angka tertinggi pada th. 1991 terjadi pentbahan penggunaan lahan di Depok sebesar 28,46 Ha. Gejala komersialisasi di Kec.Depok ditunjangoleh keberadaan Pergunian Tinggi dan Letnbaga-Lembaga Penditlikan lainnya. Namun gejala komersialisasi tersebut belum di data dengan kesadaran rnelengkapi ijin bangunan clan ijin usaha. Sementara int Pemda !twang dalatn pengawasan dan pengendalian. Menuntt catatan dari 84% yang semula ifungsi nanah tinggal akhirnya hanya tinggal 18% yang tetap mempertahankan sebagai hangman rumah Maggot raja. Dari 82% yang berfungsi komersial rumah tinggal dan usaha hanya 13% yang punya ijin 1MB dan HO. Karena letnahnya pengawasan Pemerintah terjadi pemusatan kegiatan komersial pada beberapa tempat dan tidak merata,serta beberapa kelompok masyarakat menyerobot atau inengkapling-kapling tanah negara untuk kegiatan ttsahanya. Identffikasi dan kajian terhadap perubahan sosial, ekonomi, budaya dan fisik Kee.Depok sangat penting karena wilayah ini menjadi andalan pemicu perekonomian bagi Sleman, sehingga yang menjadi tujuan penelitian adalah mengkaji dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi peru bahan penggunaan lahan. Dalam penelitian, faktor-faktorsosial ekonomi budaya yang menffiengaruhi pendudukmengkomersialkan bangunan rumah tinggalnya dianalisis dengan crosstab, chi square dan coefficients contingency, sedangkan faktor-faktor nilai lokasi lahan dianalisis dengan Regresi Linear Ganda. Perubahan penggunaan lahan di Kec.Depok adalah karena fungsiTffingsi perkotaan yang bergeser ke wilayah ini. Sementara itzt pendatang yang mengisi wilayah ini adalah karena arus sentrifugal dan sentripetal. Terbukti dari penelitian bahwa 88% adalah pendatang dari hear Kec. Depok, yang memperoleh lahannya dengan cara jual beli (78%), rata-rata sudah nzempunyai pelcerjaan dan pendapatan tetap. Sebelum tahun 1988, Kec.Depok telah berkembang menjadi perkotaan, terbukti mayoritas responden mulai tinggal sebelum tahun tersebut, dan t»elihat kawasan tersebut sebagai lokasi yang strategis untuk tempat tinggaL Mereka rnengubah fingsi lahan untuk mendapatkan tambahan penghasilan. Nilai lahan sangat dipengaruhi 3 faktor, yaitzt nilai lokasi, nilai ekonomi, dan nilai sosial, serta diasumsikan masing-tnasing faktor mempunyai pengaruh sepertiganya atau 33,33%. Aksesibilitas dari nilai lokasi, yang ditunjukkan dengan jarak/kedekatan terhadap koridor-koridor utama dan pusat-pusat pelayanan menunjziklcan pengaruh 18,5%, sedangkan 14,5 % didulatng unsur-unsur nilai lokasi yang lain, seperti kedekatan yang di finjau dari biaya transport dan waktzt. Aksesibilitas yang dinyatakan dalam jarak mempunyai hubungan negatif dan signffikan terhadap perubahan pengunaan lahan. Dengan urutan signifikansi sebagai berikut : jarak terhadap pusat pendidikan paling signffikan (berpengaruh terkztat), jarak terhadap pusat perdagangan, jarak ke pusat pemerintahan, jarak terhadap pusat kesehatan, dan jarak terhadap jalan kolektor. Sedangkan jarak terhadap arteri dan jalan lokal tidak berpengaruh. Hasil rekomendasi akan diusulkan pada Pemda dengan manfaat, pertama untuk peningkatan pengendalian, pemantauan dan penertiban perijinan komersialisasi pada Desa Catur Tunggalyangsudahpadat, menghindari terjadinya gejala tidak teratur /un managed growth, dan diarahkan pada penggunaan lahan canzpuran / mixed use disertai pengendalian kepadatan penduduk (Urban population density). Kedua untuk pengembangan Desa Maguwoharjo yang intensitasnya belum optimal dapat dijadikan alokasi program petnerintah dengan peningkatan jalan lokal prospektif menjadi jalan kolektor, serta kegiatan fungsional pendidikan / perdagangan dipinggirjalan kolektor (sesuai basil penelitian, karena jalan lokal dan arteri tidak berpenganth terhadap perubahan pengunaan lahan). Sehingga populasi minim perkotaan/urban population threshold bagi Desa Maguwoharjo dapat tercapai men gin gat variasihinterland dari Kec. Depok juga cepat tnengilatti perkembangannya. Akhirnya pemerataan dan kesejahteraan seluruh Kec. Depok sebagai urban fringe sangat penting bagi kola/urban dan bagi desa /rural dibelakangnya, dan mendorong kawasan-kawasan kegiatan fungsional di Sleman lainnya untuk berkembang seperti Depok.

Item Type:Thesis (Masters)
Subjects:H Social Sciences > HN Social history and conditions. Social problems. Social reform
Divisions:Postgraduate Program > Master Program in Urban and Regional Planning
ID Code:11389
Deposited By:Mr UPT Perpus 5
Deposited On:25 May 2010 08:31
Last Modified:25 May 2010 08:31

Repository Staff Only: item control page