PEWARISAN PADA MASYARAKAT ADAT MORGE SIWE KAYU AGUNG KECAMATAN KAYU AGUNG KABUPATEN OGAN KOMERING ILIR PROPINSI SUMATERA SELATAN

HANDAYANI, EKSI (2002) PEWARISAN PADA MASYARAKAT ADAT MORGE SIWE KAYU AGUNG KECAMATAN KAYU AGUNG KABUPATEN OGAN KOMERING ILIR PROPINSI SUMATERA SELATAN. Masters thesis, Program Pascasarjana Universitas Diponegoro.

[img]
Preview
PDF - Published Version
3853Kb

Abstract

This study was conducted to know the kinship and marriage systems at the traditional society of Morge Siwe Kayu Agung, also to understand its inheriting system having a deviation/difference from the general inheriting systems effective in South Sumatera and factors engendering the situation that so happening, and whether the given circumstances development taking place in the society as well was not generating changes to the deviant inheriting system itself and the latter constantly retained by its society. The study concerning the inheriting system at the traditional society of Morge Siwe Kayu Agung was a descriptive study, since with performing this study it was hoped the depict of problems studied could be obtained. The research result revealed that the inheriting system effective at the traditional society of Morge Siwe Kayu Agung had "mayoral" nature for the eldest sons ("penyimbang" sons) especially to the inherited wealth. Consequently the eldest son did dominate and administer the inherited wealth. Parents' dowry and common property could be bequeathed to the male-heirs (including "penyimbang" sons). Parts of inheritance given to the daughters consisted of specifically female-wise things ("san-san" things) as dowry to their marriages. Inheritance distribution was accomplished through the family deliberation and each amount of any heir based on the family deliberation decision. Because of this circumstances development at the traditional society of Morge Siwe Kayu Agung to date, the inheritance distribution among the heirs was found in the same amount, and there was also found that daughters having received san-san things remaining to acquire parts of inheritance when the wealth distribution performed.For the traditional society who lived beyond Morge Siwe Kayu Agung environment, although their inheritance distribution based on the Islamic religion which stated that the ratio between the amount part received by a son and the amount part accepted by a daughter was 2: 1, so a son received part of inheritance two times more than a daughter did, however at the present time, it was in reality discovered that sons occasionally gave a half or one fourth of their parts to daughters, when the distribution carried out in deliberation order based on love and affection among families, so that each part of heir achieved the balance. There was no dispute pertaining to inheritance brought to court yet. Since the society would be ashamed making a fuss about inheritance distribution problem and they considered it as a taboo. When there was a difference of opinion among heirs, they preferred to request help and guidance of traditional leaders and community key persons. Factors generating other forms/varieties during inheritance distribution were environmental and educational factors that having changed the means of thought of local community, they perceived a son and a daughter had the similar responsibility against and within the family. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sistem kekerabatan dan \ perkawinan pada masyarakat adat Morge Siwe Kayu Agung, juga sistem pewarisannya yang menyimpang / berbeda dari sistem pewarisan Sumatera Selatan pada umumnya dan faktor-faktor yang menyebabkan demikian, serta 1 dengan perkembangan keadaan yang terjadi dalam masyarakat apakah sistem pewarisan yang menyimpang itu tidak berubah dan tetap dipertahankan oleh t-masyarakatnya. Penelitian mengenai pewarisan pada masyarakat adat Morge Siwe Kayu ) Agung adalah penelitian yang bersifat deskriptif, sebab dengan penelitian ini diharapkan dapat diperoleh gambaran dari masalah yang diteliti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem pewarisan yang berlaku pada masyarakat adat Morge Siwe Kayu Agung adalah bersifat mayorat anak laki-laki tertua (anak penyimbang) khususnya terhadap harta pusaka. Jadi dalam hal ini anak laki-laki tertua yang menguasai dan mengurus harta pusaka. Harta bawaan dan pencaharian orang tua dapat diwarisi oleh ahli waris yang laki-laki (termasuk juga anak penyimbang). Terhadap anak perempuan bagian warisannya adalah barang-barang spesifik wanita (barang-barang san-san) yang merupakan barang bawaan ke dalam perkawinannya. Pembagian warisan dilakukan dengan musyawarah keluarga dan besarnya bagian masing-masing ahli waris adalah ditentukan atas dasar keputusan musyawarah keluarga. Dengan adanya perkembangan keadaan yang terjadi dalam masyarakat adat Morge Siwe Kayu Agung sekarang ini dapat ditemui adanya pembagian warisan dimana besarnya bagian para ahli wads atas harta warisan adalah sama dan juga ditemui adanya anak perempuan yang telah diberi barang-barang san-san tetap diberi bagian waris sewaktu diadakan pembagian harta warisan. Bagi masyarakat adat yang tinggal di luar lingkungan Morge Siwe Kayu Agung, walaupun pembagian warisannya dilakukan berdasarkan ketentuan ajaran agama Islam dimana besarnya bagian anak laki-laki dan perempuan adalah 2 : 1, yaitu anak laki-laki mendapat bagian dua kali lebih banyak dari anak perempuan, tetapi dalam kenyataannya sekarang ini ditemui bahwa adakalanya anak laki-laki memberikan setengah atau seperempat dari bagiannya kepada anak perempuan, saat pembagian dilakukan secara musyawarah atas dasar kasih sayang antara anggota keluarga, sehingga bagian masing-masing ahli waris ada keseimbangan. Belum pernah terjadi sengketa warisan dibawa sampai ke pengadilan. Karena bagi masyarakatnya adalah malu dan tabu untuk meributkan masalah pembagian warisan. Bila terjadi selisih pendapat antara ahli waris, mereka lebih suka untuk meminta bantuan dan petunjuk dari pemuka adat ataupun pemuka masyarakat. Adapun faktor-faktor yang menimbulkan bentuk / variasi lain dalam pembagian warisan adalah faktor lingk-ungan dan pendidikan yang merubah alam pikiran masyarakat setempat, bahwa anak laki-laki dan perempuan mempunyai tanggung jawab yang sama di dalam keluarga.

Item Type:Thesis (Masters)
Subjects:K Law > K Law (General)
Divisions:Postgraduate Program > Master Program in Notary
ID Code:11164
Deposited By:Mr UPT Perpus 2
Deposited On:21 May 2010 11:18
Last Modified:21 May 2010 11:18

Repository Staff Only: item control page