PEMANFAATAN PADATAN SLUDGE MINYAK SEBAGAI BAHAN PENCAMPUR PEMBUATAN BATA MERAH

Suwarno, Suwarno (2002) PEMANFAATAN PADATAN SLUDGE MINYAK SEBAGAI BAHAN PENCAMPUR PEMBUATAN BATA MERAH. Masters thesis, Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro.

[img]
Preview
PDF - Published Version
3100Kb

Abstract

The problem of oil sludge to the environment is very critical due to the accumulation of this materials in the petroleum industry. At the present, treatment of oil sludge mainly based on the deoling process by means of natural solar energy. The oil from oil sludge is then reprocessed or used directly in the small medium industries. Meanwhile, the solid matter still piles up in the sludge pond. In the rainy season this solid can float and pollute the environment Some sludge pond are just piled up directly without following the existing environmental regulation. In some case, bioremediation is usually used to the treatment although the heavy metal content is still high. The purpose of study is to find an alternative method of treatment of solid waste oil sludge. One of this alternative is by using oil sludge as component of mixture of product bricks. The oil sludge process started from the deoiling of oil sludge waste. The oil was separated from the solid matter by heating the solid sludge at a temperature of 80 °C, then put into a filter cloth (200 mesh) and pressed with a pressure of 50 kg/cm2. The solid from this process was then used as one of the components in a mixture to produce brick. The solid waste used for preparing brick fulfills the requirement especially in term of Al203 , SiO2 and Fe2O3 contents which relatively high and total salt contents (MgSO4, Na2SO4, K2SO4) which are very low. The high SiO2 content contributes to the good shape and bright colour of the bricks. The high Al203 content contributes the strength of brick, the Fe2O3 content generate red colour and the salt content (MgSO4, Na2SO4, 1C2SO4) which is less than 1 0 % makes it possible for the bricks not corrode easily. The variables investigated were the time of burning, the composition of solid waste of oil sludge, and the temperature of combustion. The relatively optimum condition result is the time of burning 4 hours, the composition of the solid sludge of 22.5 % and the combustion temperature of 1,050°C gave the pressure strength of 115.38 kg/cm2. This type of bricks conforms all requirements of SNI 15-2094-2000; and does not pollute the environments due to the fact that the TCLP result is below the TLV (Threshold Limit Value) based on the Government Regulation No. 85 Year 1999. The air emission (SO2 and NO2) is still below TLV. INTISARI : Permasalahan sludge minyak terhadap lingkungan adalah cukup kritis, yaitu dengan menumpuknya material tersebut di industri perminyakan. Keadaan saat ini pengolahan sludge minyak pada proses deoiling umumnya menggunakan proses alam yaitu memanfaatkan energi sinar matahari. Minyak basil dari deoiling selanjutnya dilakukan proses ulang atau digunakan untuk keperluan industri kecil dan menengah. Sedanglcan padatannya masih menumpuk di sludge pond. Pada musim penghujan padatan sludge dapat terbawa aliran air hujan, dan mencemari lingkungan seldtarnya. Beberapa tempat padatan sludge tersebut langsung ditimbun dan tidak mengacu pada peraturan yang berlaku. Dalam beberapa kasus pengolahan padatan sludge menggunakan bioremediasi walaupun kadar logam beratnya cukup tinggi. Tujuan dari penelitian ini untuk mencari metoda altematif pengolahan limbah padat dad sludge minyak . Salah satu alternatifnya yaitu padatan sludge minyak tersebut digunakan sebagai campuran pembuatan bata merah. Proses pengolahan sludge minyak diawali dengan proses deoiling terhadap limbah sludge minyak. Minyak dipisahkan dari material padatan dengan cara dipanaskan pada suhu 80 °C, kemudian dimasukkan kedalam kantong kain filter (200 mesh) dan dipres dengan kekuatan 50 kg/cm2. Zat padat hasil deoiling dimanfaatkan sebagai bahan campuran pembuatan bata merah. Limbah padat yang digunakan pembuatan bata merah memenuhi syarat terutama kandungan : Al203 , SiO2 dan Fe2O3 relatif tinggi dan total garam (MgSO4, Na2SO4, K2504) sangat rendah. Kandungan SiO2 yang tinggi akan menghasilkan bentuk (rangka bodi) yang baik dan membentuk warna cerah pada bata merah. Kandungan Al203 yang tinggi memberikan kekuatan pada bata merah, kandungan Fe2O3 berfiingsi membentuk wama merah dan kadar garam (MgSO4 Na2SO4, 1(2504) < 1,0 % bata merah tidak mudah rusak/terkorosi. Variabel yang diteliti adalah : lama waktu pembakaran, komposisi padatan sludge dan suhu pembakaran. Secana relatif kondisi optimum yang dihasilkan yaitu: lama waktu pembakaran 4 jam, komposisi padatan sludge 22,5 dan suhu pembakaran 1.050°C menghasilkan kuat tekan = 115,38 kg/cm2. Pada kondisi ini memenuhi semua persyaratan SNI 15-2094-2000 ; dan tidak mencemari lingkungan yaitu basil uji TCLP dibawah nilai ambang batas balm mutu TCLP menurut PP No.85 Th.1999. Udara emisi (SO2; NO2) dibawah nilai ambang batas Kep-13/MENLH/3/1995.

Item Type:Thesis (Masters)
Subjects:T Technology > TD Environmental technology. Sanitary engineering
Divisions:Postgraduate Program > Master Program in Environmental Science
ID Code:11057
Deposited By:Mr UPT Perpus 2
Deposited On:20 May 2010 16:48
Last Modified:20 May 2010 16:48

Repository Staff Only: item control page