PENGARUH PERBAIKAN PERMUKIMAN KUMUH TERHADAP KEBERLANJUTAN KOMUNITAS (Studi Kasus: Kawasan Permukiman Kumuh Bandarharjo Semarang)

SUWANDA, SUWANDA (2000) PENGARUH PERBAIKAN PERMUKIMAN KUMUH TERHADAP KEBERLANJUTAN KOMUNITAS (Studi Kasus: Kawasan Permukiman Kumuh Bandarharjo Semarang). Masters thesis, Program Pascasarjana Universitas Diponegoro.

[img]
Preview
PDF - Published Version
7Mb

Abstract

The existence of slum area in the city is a dilema either for city manager or administrator. It could damage the beauty of a city, and also indicate bad performance of the city management. There is an effort to remove the slum area. On the other hand city administrator is demanded to become wiser and more human in overcoming the current problem that faced by the society. Some improvements of the slum area that would be stressing either on developing of the human settlement infrastructure or social-economy's society. To overcome the slum area through removal is not popular to be done anymore, since it would escalate "the gentrification process", so that it couldn't overcome the root problem but it would rise up the new problem. The slum area at Bandarharjo is formed through the long process. The existence of the slum area at Bandarharjo is a responsibility together in the poverty alleviation of the Bandarharjo's communities. More and less, the progress of the Kampong Improvement Program at Bandarharjo could be seen, yet the problem is : Are there any significant correlation between the human settlement improvement with the sustainability at Bandarharjo's community? The aim of this thesis is to know between the correlation and the influences of the slum settlement improvement for sustainability of the Bandarharjo's community. The community's sustainability is an ideal conditions of the community, where is a balance and relation between humanbeing and environments in a condusif condition. Inspiring from a result of the Triangle Institute Research, there is "Norm of the Five E's" (Economic/Employment; Ecology/Environment; Equity; Engagement; and Energy), so those elements that covering the community's sustainability stand of the sustainability of the econimic'society, environment, social, and culture condition. Research method that carried out both quantitative and qualitative analysis. Quantitatively, carried out on analysis the influences the relation of the slum settlement improvement for sustainability of the Bandarharjo's community with statistic method in determination the correlation coefficient and equality of the multiple regression. Qualitatively, carried out in determination the index for sustainability of the Bandarharjo's community, through the questionnaire by purposive sampling. From data analysis could be concluded: firstly, there is any strong and significant correlation among some variables of the settlement improvement with some variables of the Bandarharjo's community sustainability through correlation exam and multiple regression counting among them; secondly, the index of the sustainability at Bandarharjo indicates the condition of the environment, economy, social, and culture of society towards better life; thirdly, although the settlement improvement program has improved the environment, yet it couldn't improve both economy and social wellfare at Bandarharjo. During this time, it indicates that the income from social-economy activities are used mostly improving the shelters and the settlement at Bandarharjo and the daily needs. ABSTRAK : Keberadaan kawasan permukiman kumuh di perkotaan merupakan suatu dilema bagi pengelola atau administrator kola. Keberadaannya yang dinilai merusak keindahan kota menunjukkan kinerja yang kurang baik bagi administrator kota. Oleh karena itu ada usaha untuk menggusur kawasan kumuh tersebut. Di lain pihak administrator kola dituntut untuk lebih arif dan manusiawi dalam mengatasi permasalahan aktual yang dihadapi bagi warganya. Kemudian dilakukan usaha perbaikan permukiman kumuh yang menekankan pada perbaikan dan pembangunan fisik prasarana dan saran permukiman, selain juga pada aspek sosial dan ekonomi masyarakat. Usaha mengatasi kawasan kumuh dengan cara penggusuran sudah tidak populer lagi untuk dilakukan saat ini, malah menimbulkan proses '"gentrlfikasi" yang bukannya mengatasi akar permasalahan justeru menimbulkan permasalahan baru. Kawasan permukiman kumuh di Bandarharjo terbentuk melalui proses yang panjang dan keberadaannya merupakan tanggung jawab bersama dalam mengentaskan warga Bandarharjo dari jurang kemiskinan. Sedikit-banyak, usaha yang dilakukan dalam memperbaiki permukiman kumuh di Bandarharjo sudah memberikan hasil, namun masalahnya adalah: adakah hubungan pengaruh perbaikan permukiman kumuh tersebut terhadap keberlanjutan komunitas yang terjadi di kawasan permukiman kumuh Bandarharjo. Tulisan ini dimaksudkan untuk mengetahui pengaruh perbaikan permukiman kumuh terhadap keberlanjutan komunitas di kawasan permukiman kumuh Bandarharjo. Yang dimaksud dengan keberlanjutan komunitas adalah suatu kondisi ideal dari masyarakat, dimana terjadi keseimbangan dan hubungan timbal balik antara manusia dengan lingkungannya dalam suasana yang soling kondusil: Diilhami dari basil Research Triangle Institute, yaitu adanya "kaidah lima E" (Economic/Employment, Ecology/Environment, Equity, Engagement, dan Energy), maka elemen atau komponen yang tercakup dalam keberlanjutan komunitas terdiri dari keberlanjutan ekonomi masyarakat/kawasan, keberlanjutan kualitas lingkungan fisik, keberlanjutan kondisi sosial dan budaya masyarakat. Metode penelitian dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif. Secara kuantitatif, dilakukan pada analisis hubungan pengaruh perbaikan permukiman terhadap keberlanjutan komunitas dengan metoda statistika dalam menentukan koefisien korelasi dan persamaan regresi berganda, sedangkan secara kualitatif dilakukan dalam menentukan indeks keberlanjutan komunitas kawasan di Bandarharjo, melalui kuesioner terstruktur dengan teknik sampling non random yakni purposive sampling. Dari analisis data tersebut dapat disimpulkan: Pertama, terdapat hubungan yang kuat dan signifikan antara beberapa komponen variabel perbaikan permukiman dengan komponen variabel keberlanjutan komunitas yaitu: hubungan antara variabel NJOP dengan kondisi jalan, jumlah rumah semi permanen dan rumah temporer dengan perubahan jenis mata pencaharian penduduk, jumlah rumah permanen dengan kondisi kesehatan penduduk dan Isms wilayah terbangun, luas genangan dengan perubahan mata pencaharian terutama sebagai pedagang, nelayan, buruh industri, dan usaha angkutan, dan hubungan antara jumlah buruh dengan banyaknya rumah yang dibangun secara semi permanen dan kualitas temporer; Kedua, indeks keberlanjutan di Bandarharjo menunjukkan kondisi fisik lingkungan, ekonomi, sosial dan budaya masyarakat ke arah yang baik, kecuali untuk indeks ekonomi dan kesejahteraan masyarakat; Ketiga, meskipun program perbaikan permukiman di Bandarharjo telah meningkatkan kondisi lingkungan secara fisik lebih baik, namun belum mampu meningkatkan ekonomi masyarakat dan tingkat kesejahteraan (pendidikan) bagi warganya, karena peningkatan penghasilan atau pendapatan dari aktivitas sosial ekonomi masyarakat selama ini lebih banyak diserap untuk upaya perbaikan rumah dan lingkungan permukimannya.

Item Type:Thesis (Masters)
Subjects:H Social Sciences > HV Social pathology. Social and public welfare
Divisions:Postgraduate Program > Master Program in Urban and Regional Planning
ID Code:10978
Deposited By:Mr UPT Perpus 1
Deposited On:19 May 2010 18:07
Last Modified:19 May 2010 18:07

Repository Staff Only: item control page